Skip to main content

Ingin Dimengerti, Tapi Juga Ingin Tetap Menghormati.


Pikiran itu muncul begitu saja, barusan sekali, seperti ide nekat yang lahir dari terlalu banyak kegagalan. Setelah sekian lama semua rencana untuk menyapa selalu kandas, kata-kata yang sudah kususun rapi mendadak buyar begitu ia berdiri di hadapanku, senyum yang ingin kulempar malah berubah jadi wajah datar, aku mulai merasa mungkin ada yang salah dengan caraku berkomunikasi. Atau mungkin memang aku yang terlalu takut pada suaraku sendiri.

Lalu entah dari mana, terlintas pikiran yang agak berbahaya: bagaimana kalau bukan kata-kata yang kugunakan? Bagaimana kalau sentuhan kecil saja? Isyarat yang tidak perlu suara. Mungkin dengan begitu ia akan paham maksudku. Mungkin dengan rabaan ringan, sekadar menyentuh lengan saat berpapasan, atau menepuk bahunya pelan, pesan yang tak pernah berhasil keluar dari mulutku bisa sampai juga.

Tapi bahkan sebelum pikiran itu selesai, aku sudah merasa tidak nyaman.

Karena dunia tidak sesederhana itu. Karena sentuhan bukan bahasa yang bisa digunakan sembarangan. Karena ada batas yang tak terlihat tapi nyata. Dan aku takut, sangat takut, kalau niat yang menurutku lembut justru berubah menjadi sesuatu yang mengganggu baginya.

Aku membayangkan berbagai kemungkinan. Bagaimana kalau dia terkejut? Bagaimana kalau dia merasa risih? Bagaimana kalau ia menafsirkan itu sebagai sesuatu yang tidak pantas? Niat yang lahir dari kebingungan bisa saja jatuh sebagai kesalahan. Dan aku tidak ingin menjadi orang yang melanggar ruang orang lain hanya karena tak mampu mengelola perasaanku sendiri.

Di sisi lain, aku juga lelah dengan kebisuan ini. Setiap pertemuan terasa seperti adegan yang diulang-ulang tanpa perkembangan. Mata bertemu, jantung berdebar, lalu masing-masing kembali ke dunianya tanpa satu pun kalimat terucap. Aku mulai merasa seperti berdiri di depan pintu yang tak pernah benar-benar kuketuk.

Mungkin karena itulah pikiran tentang sentuhan itu muncul, sebagai jalan pintas. Sebagai cara untuk memecah kebekuan yang terlalu lama membeku. Seolah-olah tubuh bisa menjadi penerjemah bagi hati yang gagap.

Tapi lagi-lagi aku sadar, komunikasi tanpa izin tetaplah pelanggaran. Perasaan, sehangat apa pun, tidak otomatis memberiku hak atas ruangnya. Dan aku tidak ingin cintaku, atau apa pun ini namanya, berubah menjadi sesuatu yang membuatnya menjauh.

Akhirnya aku terdiam lagi, kali ini bukan hanya di hadapannya, tapi juga di dalam kepalaku sendiri. Mungkin bukan indra yang perlu kuganti. Mungkin bukan sentuhan yang kurang. Mungkin yang belum kupelajari adalah keberanian untuk jujur, bahkan jika hanya dengan satu kalimat sederhana.

Karena jika memang harus ada langkah pertama, seharusnya itu tetap berupa kata, yang bisa ia dengar, pahami, dan jawab dengan bebas. Bukan isyarat samar yang bisa disalahartikan.

Dan di antara keinginan untuk mendekat dan ketakutan untuk melanggar batas, aku kembali berdiri di titik yang sama.....  ingin dimengerti, tapi juga ingin tetap menghormati.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...