Lalu entah dari mana, terlintas pikiran yang agak berbahaya: bagaimana kalau bukan kata-kata yang kugunakan? Bagaimana kalau sentuhan kecil saja? Isyarat yang tidak perlu suara. Mungkin dengan begitu ia akan paham maksudku. Mungkin dengan rabaan ringan, sekadar menyentuh lengan saat berpapasan, atau menepuk bahunya pelan, pesan yang tak pernah berhasil keluar dari mulutku bisa sampai juga.
Tapi bahkan sebelum pikiran itu selesai, aku sudah merasa tidak nyaman.
Karena dunia tidak sesederhana itu. Karena sentuhan bukan bahasa yang bisa digunakan sembarangan. Karena ada batas yang tak terlihat tapi nyata. Dan aku takut, sangat takut, kalau niat yang menurutku lembut justru berubah menjadi sesuatu yang mengganggu baginya.
Aku membayangkan berbagai kemungkinan. Bagaimana kalau dia terkejut? Bagaimana kalau dia merasa risih? Bagaimana kalau ia menafsirkan itu sebagai sesuatu yang tidak pantas? Niat yang lahir dari kebingungan bisa saja jatuh sebagai kesalahan. Dan aku tidak ingin menjadi orang yang melanggar ruang orang lain hanya karena tak mampu mengelola perasaanku sendiri.
Di sisi lain, aku juga lelah dengan kebisuan ini. Setiap pertemuan terasa seperti adegan yang diulang-ulang tanpa perkembangan. Mata bertemu, jantung berdebar, lalu masing-masing kembali ke dunianya tanpa satu pun kalimat terucap. Aku mulai merasa seperti berdiri di depan pintu yang tak pernah benar-benar kuketuk.
Mungkin karena itulah pikiran tentang sentuhan itu muncul, sebagai jalan pintas. Sebagai cara untuk memecah kebekuan yang terlalu lama membeku. Seolah-olah tubuh bisa menjadi penerjemah bagi hati yang gagap.
Tapi lagi-lagi aku sadar, komunikasi tanpa izin tetaplah pelanggaran. Perasaan, sehangat apa pun, tidak otomatis memberiku hak atas ruangnya. Dan aku tidak ingin cintaku, atau apa pun ini namanya, berubah menjadi sesuatu yang membuatnya menjauh.
Akhirnya aku terdiam lagi, kali ini bukan hanya di hadapannya, tapi juga di dalam kepalaku sendiri. Mungkin bukan indra yang perlu kuganti. Mungkin bukan sentuhan yang kurang. Mungkin yang belum kupelajari adalah keberanian untuk jujur, bahkan jika hanya dengan satu kalimat sederhana.
Karena jika memang harus ada langkah pertama, seharusnya itu tetap berupa kata, yang bisa ia dengar, pahami, dan jawab dengan bebas. Bukan isyarat samar yang bisa disalahartikan.
Dan di antara keinginan untuk mendekat dan ketakutan untuk melanggar batas, aku kembali berdiri di titik yang sama..... ingin dimengerti, tapi juga ingin tetap menghormati.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!