Skip to main content

Intuisi


Setelah semua yang terjadi tahun lalu, aku mulai memperhatikan orang-orang dengan cara yang berbeda. Bukan karena ingin curiga, tapi karena rasanya naluri itu muncul sendiri, seperti refleks yang lahir dari pengalaman. Katanya, orang introvert sering punya radar yang sensitif terhadap suasana dan niat orang lain. Dulu aku tidak pernah benar-benar percaya pada kalimat itu. Sekarang, aku tidak tahu harus menaruhnya di mana, antara percaya atau hanya mencoba mencari makna dari luka yang belum selesai.

Ada satu sosok yang terus muncul di kepalaku ketika memikirkan semua kejadian itu. Seseorang yang, di permukaan, tampak seperti pahlawan. Dia sering berdiri di sisi orang yang dianggap lemah, suaranya lantang ketika membela yang tertindas, kata-katanya rapi, penuh empati, dan terdengar benar. Banyak orang menyukainya. Sulit untuk tidak menyukai seseorang yang selalu terlihat berada di pihak kebaikan.

Aku juga dulu begitu.

Awalnya, kehadirannya terasa menenangkan. Seperti ada seseorang yang tahu bagaimana dunia seharusnya berjalan. Cara bicaranya meyakinkan, caranya merangkai kalimat terasa matang, bahkan kadang terasa menginspirasi. Kalau ada konflik, dia seperti orang pertama yang muncul membawa narasi tentang keadilan. Dan aku tidak pernah punya alasan untuk meragukannya.

Sampai pelan-pelan, sesuatu mulai terasa tidak sinkron.

Bukan sesuatu yang bisa langsung ditunjuk. Lebih seperti rasa ganjil yang datang diam-diam, seperti nada fals yang hanya terdengar kalau benar-benar didengarkan. Cara dia bercerita tentang orang lain. Cara dia menyisipkan kalimat-kalimat kecil yang terdengar netral, tapi meninggalkan kesan tertentu. Cara dia membuat orang lain merasa sampai pada kesimpulan tertentu, tanpa pernah terlihat memaksa.

Dan di situlah kebingunganku mulai tumbuh.

Aku mulai melihat pola yang sebelumnya tak terlihat. Dia jarang terlihat menyerang secara langsung. Tidak pernah benar-benar mengucapkan kata yang bisa dianggap kasar. Tapi entah bagaimana, setelah percakapan dengannya, orang-orang di sekitarnya seperti memiliki sudut pandang baru yang seragam. Seperti benih yang ditanam pelan-pelan, lalu tumbuh di kepala orang lain tanpa mereka sadar dari mana asalnya.

Eksekusinya bukan dia. Selalu orang lain.

Aku mencoba mengabaikan perasaan itu. Mungkin aku terlalu sensitif. Mungkin aku hanya sedang mencari kambing hitam untuk menjelaskan apa yang terjadi padaku. Pikiran-pikiran seperti itu datang bergantian, saling meniadakan, membuatku ragu pada intuisi sendiri.

Tapi semakin lama, semakin banyak potongan kecil yang terasa cocok satu sama lain.

Cara dia memprovokasi tanpa terlihat memprovokasi. Cara dia menggunakan bahasa yang terdengar rasional, tapi mendorong emosi orang lain bergerak ke arah tertentu. Cara dia selalu berada di posisi yang aman, tidak terlihat sebagai pelaku, tapi selalu hadir di awal cerita.

Dan ketika semuanya akhirnya meledak, aku seperti berdiri di tengah keramaian sambil melihat pola yang tiba-tiba terasa jelas. Orang-orang bergerak, berbicara, menilai, menyerang, sementara sosok itu tetap berdiri di tempat yang sama, tampak bersih, tampak benar, tampak seperti penonton yang kebetulan ada di sana.

Ironisnya, justru itu yang membuat semuanya terasa nyata.

Aku tidak pernah menyangka akan melihatnya dengan cara seperti ini. Sosok yang dulu terasa seperti pelindung, kini terlihat seperti sesuatu yang sulit kuberi nama. Seperti malaikat dengan bayangan yang terlalu gelap. Seperti pahlawan dalam cerita yang ternyata juga menulis bagian kehancurannya.

Dan mungkin yang paling membingungkan bukanlah siapa dia sebenarnya, tapi kenyataan bahwa aku kini melihatnya dengan cara yang tidak bisa lagi dikembalikan seperti dulu.

Aku tidak tahu apakah intuisi ini kebenaran, atau hanya cara pikiranku mencoba menyusun ulang kejadian yang terlalu menyakitkan. Yang kutahu hanya satu, di antara semua kebisingan itu, ada satu perasaan yang terus bertahan, perasaan bahwa aku bukan hanya penonton dalam cerita ini.

Aku adalah salah satu tokohnya.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...