Setelah semua yang terjadi tahun lalu, aku mulai memperhatikan orang-orang dengan cara yang berbeda. Bukan karena ingin curiga, tapi karena rasanya naluri itu muncul sendiri, seperti refleks yang lahir dari pengalaman. Katanya, orang introvert sering punya radar yang sensitif terhadap suasana dan niat orang lain. Dulu aku tidak pernah benar-benar percaya pada kalimat itu. Sekarang, aku tidak tahu harus menaruhnya di mana, antara percaya atau hanya mencoba mencari makna dari luka yang belum selesai.
Ada satu sosok yang terus muncul di kepalaku ketika memikirkan semua kejadian itu. Seseorang yang, di permukaan, tampak seperti pahlawan. Dia sering berdiri di sisi orang yang dianggap lemah, suaranya lantang ketika membela yang tertindas, kata-katanya rapi, penuh empati, dan terdengar benar. Banyak orang menyukainya. Sulit untuk tidak menyukai seseorang yang selalu terlihat berada di pihak kebaikan.
Aku juga dulu begitu.
Awalnya, kehadirannya terasa menenangkan. Seperti ada seseorang yang tahu bagaimana dunia seharusnya berjalan. Cara bicaranya meyakinkan, caranya merangkai kalimat terasa matang, bahkan kadang terasa menginspirasi. Kalau ada konflik, dia seperti orang pertama yang muncul membawa narasi tentang keadilan. Dan aku tidak pernah punya alasan untuk meragukannya.
Sampai pelan-pelan, sesuatu mulai terasa tidak sinkron.
Bukan sesuatu yang bisa langsung ditunjuk. Lebih seperti rasa ganjil yang datang diam-diam, seperti nada fals yang hanya terdengar kalau benar-benar didengarkan. Cara dia bercerita tentang orang lain. Cara dia menyisipkan kalimat-kalimat kecil yang terdengar netral, tapi meninggalkan kesan tertentu. Cara dia membuat orang lain merasa sampai pada kesimpulan tertentu, tanpa pernah terlihat memaksa.
Dan di situlah kebingunganku mulai tumbuh.
Aku mulai melihat pola yang sebelumnya tak terlihat. Dia jarang terlihat menyerang secara langsung. Tidak pernah benar-benar mengucapkan kata yang bisa dianggap kasar. Tapi entah bagaimana, setelah percakapan dengannya, orang-orang di sekitarnya seperti memiliki sudut pandang baru yang seragam. Seperti benih yang ditanam pelan-pelan, lalu tumbuh di kepala orang lain tanpa mereka sadar dari mana asalnya.
Eksekusinya bukan dia. Selalu orang lain.
Aku mencoba mengabaikan perasaan itu. Mungkin aku terlalu sensitif. Mungkin aku hanya sedang mencari kambing hitam untuk menjelaskan apa yang terjadi padaku. Pikiran-pikiran seperti itu datang bergantian, saling meniadakan, membuatku ragu pada intuisi sendiri.
Tapi semakin lama, semakin banyak potongan kecil yang terasa cocok satu sama lain.
Cara dia memprovokasi tanpa terlihat memprovokasi. Cara dia menggunakan bahasa yang terdengar rasional, tapi mendorong emosi orang lain bergerak ke arah tertentu. Cara dia selalu berada di posisi yang aman, tidak terlihat sebagai pelaku, tapi selalu hadir di awal cerita.
Dan ketika semuanya akhirnya meledak, aku seperti berdiri di tengah keramaian sambil melihat pola yang tiba-tiba terasa jelas. Orang-orang bergerak, berbicara, menilai, menyerang, sementara sosok itu tetap berdiri di tempat yang sama, tampak bersih, tampak benar, tampak seperti penonton yang kebetulan ada di sana.
Ironisnya, justru itu yang membuat semuanya terasa nyata.
Aku tidak pernah menyangka akan melihatnya dengan cara seperti ini. Sosok yang dulu terasa seperti pelindung, kini terlihat seperti sesuatu yang sulit kuberi nama. Seperti malaikat dengan bayangan yang terlalu gelap. Seperti pahlawan dalam cerita yang ternyata juga menulis bagian kehancurannya.
Dan mungkin yang paling membingungkan bukanlah siapa dia sebenarnya, tapi kenyataan bahwa aku kini melihatnya dengan cara yang tidak bisa lagi dikembalikan seperti dulu.
Aku tidak tahu apakah intuisi ini kebenaran, atau hanya cara pikiranku mencoba menyusun ulang kejadian yang terlalu menyakitkan. Yang kutahu hanya satu, di antara semua kebisingan itu, ada satu perasaan yang terus bertahan, perasaan bahwa aku bukan hanya penonton dalam cerita ini.
Aku adalah salah satu tokohnya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!