Kemarin, ada satu momen yang terasa begitu padat di dada.... seperti udara tiba-tiba menolak masuk dengan mudah. Bukan sakit fisik, bukan pula sesuatu yang bisa dijelaskan dengan logika medis. Lebih seperti ruang di dalam diri yang mendadak menyempit ketika aku sadar bahwa mungkin, inilah saatnya berhenti berharap. Ada keputusan yang perlahan terbentuk, bukan karena ingin, tapi karena lelah menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar dimulai.
Aneh sekali rasanya harus meninggalkan sesuatu yang bahkan belum sempat menjadi apa-apa. Tidak ada kenangan yang jelas, tidak ada percakapan panjang yang bisa diingat, tidak ada janji yang pernah diucapkan. Tapi tetap saja ada kehilangan yang terasa nyata. Seolah-olah aku sedang merelakan kemungkinan, dan kemungkinan itu, entah kenapa, terasa jauh lebih berat daripada kenyataan.
Aku masih ingat bagaimana semuanya berjalan dalam diam yang panjang. Beberapa kali aku merasa dia ingin mendekat. Ada momen-momen kecil yang terlalu singkat untuk disebut peristiwa, tapi terlalu jelas untuk diabaikan. Tatapan yang sedikit lebih lama dari biasanya. Gerak tubuh yang seolah ingin berhenti lebih dekat, tapi akhirnya memilih berbelok. Seperti dua orang yang sama-sama berdiri di ambang pintu, sama-sama tahu ada sesuatu di baliknya, tapi tak ada yang cukup berani memutar gagang.
Lucunya, aku juga tidak lebih baik. Berkali-kali aku menyusun kalimat di kepala..... sapaan sederhana, pertanyaan ringan, sesuatu yang bisa membuka percakapan tanpa terasa terlalu berarti. Aku mempersiapkan semuanya dengan rapi, seperti menyiapkan naskah kecil yang hanya butuh satu langkah untuk dibacakan. Tapi setiap kali kesempatan itu datang, semuanya hilang. Kata-kata yang tadi terasa begitu siap, mendadak menguap begitu saja. Yang tersisa hanya keheningan yang kaku dan detak jantung yang terlalu cepat untuk diabaikan.
Aku bahkan tidak bisa menyembunyikan wajahku sendiri. Ada keinginan yang terlalu jelas, terlalu jujur, dan mungkin terlalu mudah terbaca. Tapi ironisnya, kejujuran itu tidak pernah berubah menjadi tindakan. Senyum sederhana pun terasa seperti sesuatu yang sulit dilakukan. Seolah ada jarak tak terlihat yang selalu muncul tepat sebelum aku berhasil mendekat. Dan jarak itu, semakin lama, terasa semakin nyata.
Hari demi hari berlalu tanpa perubahan. Tidak ada kemajuan, tidak ada langkah kecil yang bisa disebut awal. Hanya pola yang sama: tatapan, jeda, lalu keheningan lagi. Sampai akhirnya aku mulai menyadari bahwa menunggu sesuatu yang tidak bergerak adalah cara paling sunyi untuk kelelahan.
Mungkin di situlah rasa sesak itu berasal. Dari harapan yang masih ada, tapi tidak punya tempat untuk bertumbuh. Dari keinginan yang tidak pernah benar-benar ditolak, tapi juga tidak pernah diterima. Dari cerita yang terus berputar di tempat yang sama, tanpa pernah menemukan arah.
Keputusan itu akhirnya muncul bukan sebagai keberanian, melainkan sebagai kelelahan yang sudah terlalu lama dipendam. Aku tidak benar-benar ingin pergi. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana cara tetap tinggal di tempat yang tidak pernah benar-benar membuka pintunya.
Dan mungkin, yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa di balik semua ini, tidak ada yang salah dari siapa pun. Hanya dua orang yang sama-sama diam, sama-sama ragu, sama-sama menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.
Sesak itu masih ada sampai sekarang. Tapi di dalamnya, ada juga semacam keheningan baru..... keheningan yang terasa seperti akhir dari sesuatu yang sebenarnya belum pernah dimulai.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!