Semakin lama aku berdiri di titik ini, semakin terasa bahwa yang melelahkan bukan jaraknya, tapi ketidakjelasannya. Waktu berjalan seperti biasa, hari berganti, rutinitas tetap sama, namun di sela-selanya ada ruang kecil yang terus diisi oleh pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban. Ruang itu awalnya kecil, hampir tak terasa. Tapi karena dibiarkan terlalu lama, ia tumbuh menjadi sunyi yang berat.
Semua bermula dari hal-hal yang tampak sederhana. Tatapan yang datang tanpa janji, kehadiran yang terasa tanpa kata, sinyal-sinyal kecil yang cukup untuk membuat hati bergerak, tapi tidak cukup untuk membuat langkah benar-benar maju. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada sapaan yang bisa dijadikan pegangan. Hanya mata yang seolah berbicara, lalu kembali diam sebelum sempat diterjemahkan.
Awalnya, aku menganggapnya manis. Ada rasa berdebar yang diam-diam tumbuh dari ketidakpastian itu. Menebak-nebak terasa seperti permainan kecil yang menyenangkan. Ada harapan yang pelan-pelan menyusup, mengatakan bahwa mungkin ini hanya soal waktu. Bahwa mungkin keberanian hanya sedang menunggu momen yang tepat.
Tapi waktu ternyata tidak selalu menjadi jawaban. Kadang waktu justru memperpanjang tanda tanya.
Hari demi hari, sinyal itu tetap sama. Tidak lebih jelas, tidak lebih dekat. Hanya berulang dalam pola yang nyaris identik. Tatapan datang, perasaan bergerak, lalu semuanya kembali ke titik semula. Tidak ada satu langkah pun yang benar-benar menyeberangi jarak di antara kita.
Di situlah rasa lelah mulai muncul.
Lelah bukan karena perasaan itu hilang, justru karena ia tetap ada tanpa arah. Lelah karena harus terus menerjemahkan sesuatu yang tidak pernah diucapkan. Lelah karena terus bertanya pada diri sendiri, ini sungguh-sungguh, atau hanya kebetulan yang terlalu sering terjadi?
Aku mulai menyadari bahwa berharap tanpa kepastian memiliki batasnya sendiri. Kesabaran, ternyata, bukan sesuatu yang tak berujung. Ia punya garis halus yang perlahan mendekat tanpa terasa. Dan ketika garis itu mulai terlihat, semua yang dulu terasa manis berubah menjadi berat.
Bukan karena perasaan itu salah. Bukan karena kehadiranmu tidak berarti. Tapi karena hati juga butuh kejelasan untuk tetap bertahan.
Ada keinginan sederhana yang selama ini kutahan: keinginan untuk tahu. Hanya itu. Tidak perlu janji besar, tidak perlu kepastian yang dramatis. Cukup kejelasan kecil yang bisa dijadikan arah. Sesuatu yang membuatku berhenti menebak.
Karena menebak terlalu lama membuat segalanya terasa seperti berjalan di tempat.
Dan untuk pertama kalinya, aku mulai berpikir bahwa mungkin yang kubutuhkan bukan lagi sinyal, melainkan keputusan. Jika memang tidak ada langkah yang ingin diambil, mungkin lebih baik semua ini berhenti di sini. Bukan sebagai kegagalan, tapi sebagai akhir yang jujur bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar dimulai.
Aneh rasanya memikirkan kemungkinan itu. Ada bagian diriku yang masih ingin bertahan, masih ingin percaya bahwa sesuatu bisa berubah. Tapi ada bagian lain yang mulai memahami bahwa menunggu tanpa arah bukanlah bentuk kesetiaan, hanya bentuk kelelahan yang ditunda.
Aku masih menyukaimu. Itu tidak berubah. Tapi kali ini, aku juga mulai menyukai diriku sendiri cukup untuk berhenti menebak-nebak.
Dan mungkin, kepastian bukanlah tuntutan yang berlebihan, hanya kebutuhan sederhana agar hati tahu harus melangkah ke mana.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!