Adegan itu masih terulang jelas di kepalaku, seperti potongan film yang diputar tanpa henti. Ia berdiri di pintu gerbang, bukan kebetulan yang samar, bukan kehadiran yang setengah tersembunyi. Ia benar-benar ada di sana, menungguku. Setidaknya begitulah rasanya. Tidak ada keraguan pada jarak pandangku, tidak ada alasan untuk berpura-pura tidak melihat. Aku melihatnya. Ia juga melihatku.
Dan justru di detik itulah semuanya di dalam diriku mendadak berhenti.
Selama berhari-hari, bahkan mungkin berminggu-minggu, aku selalu membayangkan momen seperti ini. Aku membayangkan percakapan yang akan kami mulai, kalimat pembuka yang sederhana, mungkin hanya sapaan ringan yang bisa berkembang menjadi obrolan panjang. Aku membayangkan bagaimana akhirnya kami akan punya waktu berdua, berdiri di ruang yang sama tanpa keramaian yang mengganggu. Semua skenario itu sudah kususun rapi, seperti naskah yang menunggu dipentaskan.
Tapi kenyataan selalu punya cara sendiri untuk mengacaukan segalanya.
Saat jarak di antara kami tinggal beberapa langkah, dadaku mendadak sesak. Jantungku berdegup terlalu cepat, seolah berusaha mengejar sesuatu yang bahkan tidak bergerak. Kepalaku kosong, benar-benar kosong, seperti layar yang tiba-tiba padam saat film baru saja dimulai. Semua kalimat yang selama ini kuhafalkan menghilang begitu saja, meninggalkan keheningan yang memekakkan.
Aku tahu aku ingin berhenti. Aku tahu aku ingin menyapanya. Bahkan lebih dari itu, aku ingin tinggal lebih lama di sana, berdiri bersamanya tanpa tergesa. Tapi keinginan itu seperti terjebak di dalam tubuh yang menolak bergerak.
Dan akhirnya, aku melakukan hal yang paling tidak masuk akal.
Aku berjalan melewatinya.
Begitu saja. Tanpa sapaan. Tanpa senyum. Tanpa satu kata pun yang bisa menyelamatkan momen itu. Aku melangkah seperti seseorang yang tidak punya alasan untuk berhenti, seperti seseorang yang tidak sedang menunggu kesempatan yang selama ini ia rindukan.
Beberapa detik setelah melewatinya, perasaan itu datang sekaligus, penyesalan, rasa bersalah, dan keinginan untuk berbalik yang sudah terlambat. Kakiku terus melangkah, tapi pikiranku tertinggal di gerbang itu, berdiri di sampingnya.
Sungguh keterlaluan, pikirku. Bagaimana mungkin aku melewatkan kesempatan yang selama ini kucari sendiri?
Menit setelahnya terasa lebih berat dari biasanya. Setiap kali mengingat momen itu, aku ingin mengumpat pada diriku sendiri. Bukan karena kesempatan itu langka, tapi karena aku tahu aku yang membuangnya. Aku yang memilih diam ketika seharusnya berbicara. Aku yang memilih berjalan ketika seharusnya berhenti.
Dan semakin kupikirkan, semakin aku yakin bahwa ia pasti kecewa. Mungkin tidak sebesar kekecewaanku sendiri, tapi cukup untuk meninggalkan tanda. Karena bagaimana mungkin seseorang berdiri di sana, menunggu, lalu hanya disambut punggung yang menjauh?
Ironis sekali rasanya. Selama ini aku selalu mencari waktu untuk bisa bersamanya, berharap kebetulan berpihak pada kami. Tapi ketika kebetulan itu akhirnya benar-benar datang, aku justru tidak siap menerimanya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!