Skip to main content

Kisah Lama


Tahun lalu rasanya seperti hidup dalam dua dunia yang berjalan bersamaan, tapi tidak pernah benar-benar bertemu. Di dunia yang terlihat orang lain, aku masih tertawa, masih mengunggah cerita, masih menulis hal-hal kecil yang tampak seperti kebahagiaan. Story tentang pencapaian, foto-foto sederhana, kalimat ringan yang terdengar optimis. Semuanya tampak normal. Bahkan mungkin terlalu normal.

Sementara di dunia yang tidak terlihat siapa pun, semuanya runtuh pelan-pelan.

Aku masih ingat betapa anehnya perasaan itu, menekan tombol “unggah” dengan jari yang gemetar, lalu beberapa detik kemudian melihat unggahan itu muncul dengan rapi, bersih, seolah hidupku memang sedang baik-baik saja. Seolah tidak ada apa-apa. Seolah aku tidak sedang tenggelam. Rasanya seperti berdiri di depan cermin dan berpura-pura tidak melihat retakan besar yang membelah bayangan sendiri.

Awalnya, aku tidak berpikir unggahan-unggahan itu akan berarti apa-apa bagi orang lain. Itu hanya caraku bertahan. Caraku mengingatkan diri sendiri bahwa mungkin masih ada bagian kecil dalam hidup yang layak disyukuri. Bahwa mungkin aku masih bisa terlihat hidup, meski di dalam terasa semakin kosong.

Tapi kemudian, sesuatu berubah.

Masalah yang selama ini seperti awan jauh di horizon tiba-tiba menjadi badai yang bisa dilihat semua orang. Dan sejak saat itu, seolah ada lampu sorot besar yang tiba-tiba diarahkan ke hidupku. Orang-orang mulai datang, bukan untuk bertanya apakah aku baik-baik saja, melainkan untuk mencari tahu di mana letak kesalahanku.

Rasanya seperti dikuliti pelan-pelan.

Akun-akunku dicari. 

Unggahan lama digali. 

Story lama diambil tangkapan layarnya. 

Potongan-potongan kecil dari hidupku dipungut satu per satu, lalu disusun menjadi cerita yang bahkan aku sendiri tidak mengenalinya. 

Setiap kalimat terasa seperti bukti. Setiap foto seperti tuduhan. Hal-hal yang dulu terasa sepele tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang bisa diperdebatkan, dipertanyakan, bahkan disalahkan.

Aku membaca semuanya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bingung, mungkin. Atau lelah. Atau kosong. Aku tidak yakin.

Yang paling menyakitkan bukanlah tuduhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa tidak ada yang bertanya bagaimana keadaanku saat itu. Tidak ada yang tahu bahwa di balik unggahan-unggahan yang tampak cerah itu, ada malam-malam panjang yang terasa tidak berujung. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa kali aku benar-benar tidak yakin ingin tetap ada di sini.

Ironisnya, justru unggahan-unggahan “bahagia” itulah yang menahanku. 

Setiap kali keinginan untuk menyerah datang seperti ombak besar, aku mencoba membuat sesuatu, sebuah kalimat, sebuah foto, sebuah cerita kecil, yang bisa kupegang seperti pelampung. Sesuatu yang berkata, “Lihat, masih ada yang bisa dirayakan.” Meski kecil. Meski dipaksakan.

Aku kira orang-orang akan melihatnya sebagai upaya bertahan. Ternyata mereka melihatnya sebagai bukti bahwa aku baik-baik saja.

Dan mungkin di situlah letak kebingungannya. Dunia luar melihat seseorang yang tampak tidak terdampak, sementara di dalam, aku sedang berusaha keras agar tidak hancur sepenuhnya. Dua kenyataan berjalan berdampingan, saling meniadakan, saling menyangkal.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah mereka benar-benar membenciku, atau hanya membutuhkan seseorang untuk disalahkan. Kadang aku bertanya-tanya, apakah mereka tahu betapa dekatnya aku dengan batas itu. Batas yang tidak pernah terlihat di layar mana pun.

Sampai sekarang, aku masih belum tahu jawabannya. Yang kutahu hanya satu,  saat itu, aku bertahan dengan cara yang mungkin tidak dimengerti siapa pun.

Dan mungkin itu sudah cukup untuk membuatku tetap di sini.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...