Tahun lalu rasanya seperti hidup dalam dua dunia yang berjalan bersamaan, tapi tidak pernah benar-benar bertemu. Di dunia yang terlihat orang lain, aku masih tertawa, masih mengunggah cerita, masih menulis hal-hal kecil yang tampak seperti kebahagiaan. Story tentang pencapaian, foto-foto sederhana, kalimat ringan yang terdengar optimis. Semuanya tampak normal. Bahkan mungkin terlalu normal.
Sementara di dunia yang tidak terlihat siapa pun, semuanya runtuh pelan-pelan.
Aku masih ingat betapa anehnya perasaan itu, menekan tombol “unggah” dengan jari yang gemetar, lalu beberapa detik kemudian melihat unggahan itu muncul dengan rapi, bersih, seolah hidupku memang sedang baik-baik saja. Seolah tidak ada apa-apa. Seolah aku tidak sedang tenggelam. Rasanya seperti berdiri di depan cermin dan berpura-pura tidak melihat retakan besar yang membelah bayangan sendiri.
Awalnya, aku tidak berpikir unggahan-unggahan itu akan berarti apa-apa bagi orang lain. Itu hanya caraku bertahan. Caraku mengingatkan diri sendiri bahwa mungkin masih ada bagian kecil dalam hidup yang layak disyukuri. Bahwa mungkin aku masih bisa terlihat hidup, meski di dalam terasa semakin kosong.
Tapi kemudian, sesuatu berubah.
Masalah yang selama ini seperti awan jauh di horizon tiba-tiba menjadi badai yang bisa dilihat semua orang. Dan sejak saat itu, seolah ada lampu sorot besar yang tiba-tiba diarahkan ke hidupku. Orang-orang mulai datang, bukan untuk bertanya apakah aku baik-baik saja, melainkan untuk mencari tahu di mana letak kesalahanku.
Rasanya seperti dikuliti pelan-pelan.
Akun-akunku dicari.
Unggahan lama digali.
Story lama diambil tangkapan layarnya.
Potongan-potongan kecil dari hidupku dipungut satu per satu, lalu disusun menjadi cerita yang bahkan aku sendiri tidak mengenalinya.
Setiap kalimat terasa seperti bukti. Setiap foto seperti tuduhan. Hal-hal yang dulu terasa sepele tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang bisa diperdebatkan, dipertanyakan, bahkan disalahkan.
Aku membaca semuanya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bingung, mungkin. Atau lelah. Atau kosong. Aku tidak yakin.
Yang paling menyakitkan bukanlah tuduhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa tidak ada yang bertanya bagaimana keadaanku saat itu. Tidak ada yang tahu bahwa di balik unggahan-unggahan yang tampak cerah itu, ada malam-malam panjang yang terasa tidak berujung. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa kali aku benar-benar tidak yakin ingin tetap ada di sini.
Ironisnya, justru unggahan-unggahan “bahagia” itulah yang menahanku.
Setiap kali keinginan untuk menyerah datang seperti ombak besar, aku mencoba membuat sesuatu, sebuah kalimat, sebuah foto, sebuah cerita kecil, yang bisa kupegang seperti pelampung. Sesuatu yang berkata, “Lihat, masih ada yang bisa dirayakan.” Meski kecil. Meski dipaksakan.
Aku kira orang-orang akan melihatnya sebagai upaya bertahan. Ternyata mereka melihatnya sebagai bukti bahwa aku baik-baik saja.
Dan mungkin di situlah letak kebingungannya. Dunia luar melihat seseorang yang tampak tidak terdampak, sementara di dalam, aku sedang berusaha keras agar tidak hancur sepenuhnya. Dua kenyataan berjalan berdampingan, saling meniadakan, saling menyangkal.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah mereka benar-benar membenciku, atau hanya membutuhkan seseorang untuk disalahkan. Kadang aku bertanya-tanya, apakah mereka tahu betapa dekatnya aku dengan batas itu. Batas yang tidak pernah terlihat di layar mana pun.
Sampai sekarang, aku masih belum tahu jawabannya. Yang kutahu hanya satu, saat itu, aku bertahan dengan cara yang mungkin tidak dimengerti siapa pun.
Dan mungkin itu sudah cukup untuk membuatku tetap di sini.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!