Skip to main content

Menunggu Lagi… atau Mulai Menerima Bahwa Mungkin Tidak Ada Percakapan yang Benar-Benar Ingin Dimulai Darinya


Aku mulai punya kebiasaan baru yang terasa konyol sekaligus sulit dihentikan, melongok kotak pesan media sosial berkali-kali tanpa alasan jelas. Seolah ada sesuatu di sana yang menungguku, padahal setiap kali kubuka, hasilnya selalu sama. Kosong. Sunyi. Hanya layar yang tak berubah, seakan menatap balik tanpa ekspresi.

Kadang memang ada satu atau dua pesan masuk, tapi isinya selalu sama, iklan perjalanan, promo diskon, ajakan liburan yang terdengar terlalu ceria untuk hatiku yang sedang menunggu satu nama saja. Ironis sekali rasanya. Dunia seperti ramai memanggilku pergi ke mana-mana, sementara aku hanya menunggu satu orang yang bahkan tidak memanggilku ke mana pun.

Pesan yang kukirimkan kepadanya masih ada di sana. Diam. Tak bergerak.
Di bawahnya tertulis kalimat kecil yang rasanya jauh lebih berat daripada seharusnya, telah dilihat pada hari Senin.

Sejak hari itu, waktu berjalan seperti biasa untuk semua orang, kecuali untuk percakapan ini. Percakapan itu berhenti di satu titik, seperti napas yang tertahan terlalu lama.

Aku jadi bingung harus memulai dari mana lagi. Bagaimana mungkin membuka percakapan baru jika yang lama saja belum selesai? Rasanya seperti mengetuk pintu yang belum pernah dibuka, lalu mengetuknya lagi tanpa tahu apakah ada orang di baliknya atau tidak. Takut terlihat memaksa. Takut terlihat terlalu ingin. Takut terlihat seolah-olah aku satu-satunya yang peduli pada percakapan ini.

Dan di antara semua ketakutan itu, yang paling mengganggu adalah pertanyaan yang tak pernah berhenti berputar di kepala.

Apakah dia sengaja tidak membalas?
Apakah dia tidak tahu harus menjawab apa?
Atau… apakah pesan itu sebenarnya tidak penting baginya?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang bergantian, seperti antrean panjang yang tak pernah selesai. Setiap satu pertanyaan pergi, satu lagi datang menggantikannya. Aku mencoba mengusirnya, mencoba mengatakan pada diri sendiri bahwa tidak semua hal harus memiliki jawaban segera. Tapi otak ternyata tidak suka ruang kosong. Ia akan mengisinya dengan kemungkinan-kemungkinan, bahkan yang paling tidak ingin kita bayangkan.

Di tempat yang biasanya kami bertemu, semuanya jadi terasa berbeda. Tempat yang dulu terasa biasa saja kini berubah menjadi panggung kecil penuh kecanggungan. Setiap langkah terasa terlalu disadari. Setiap gerakan terasa terlalu berarti. Bahkan napas pun terasa seperti sesuatu yang harus dipikirkan.

Aku mulai bertanya-tanya bagaimana harus bersikap jika kami bertemu lagi. Haruskah aku berpura-pura tidak pernah mengirim pesan itu? Haruskah aku menunggu dia yang memulai? Atau justru aku harus bertanya langsung, seolah-olah aku tidak pernah menunggu dua hari penuh hanya untuk satu balasan?

Semakin kupikirkan, semakin tidak ada jawaban yang terasa benar.

Lucunya, yang paling kutakuti bukanlah penolakan. Bukan jawaban yang menyakitkan. Tapi kemungkinan bahwa tidak akan ada jawaban sama sekali. Keheningan yang terlalu panjang, terlalu netral, terlalu tidak jelas untuk diberi nama.

Dan di tengah semua kebingungan itu, aku berdiri di antara dua pilihan yang sama-sama membuatku ragu, menunggu lagi… atau mulai menerima bahwa mungkin tidak ada percakapan yang benar-benar ingin dimulai darinya.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...