Semalam, mimpi itu datang tanpa aba-aba. Bukan mimpi yang gaduh, bukan pula mimpi yang terasa seperti potongan film yang berantakan. Ia hadir pelan, seperti seseorang yang mengetuk pintu dengan sopan, lalu masuk tanpa banyak suara. Anehnya, mimpi itu tentang ibu. Tentang almarhumah ibu, sosok yang sebenarnya jarang sekali hadir di pikiranku akhir-akhir ini. Bukan karena aku melupakan, mungkin lebih karena hidup berjalan terus, dan kenangan belajar bersembunyi di sudut-sudut yang tidak selalu terlihat.
Berbeda dengan kakakku, dia sering bermimpi tentangnya.
Dalam mimpi itu, aku berada di pasar lama. Pasar yang rasanya sudah menempel dalam ingatan sejak kecil, ramai, penuh suara tawar-menawar, dan aroma campur aduk antara bumbu dapur, plastik baru, dan kain-kain yang baru dibuka dari kardus. Pasar itu adalah tempat ibu dulu punya toko. Tempat yang sekarang dilanjutkan oleh kakakku. Lokasinya sama persis, bahkan dalam mimpi itu terasa begitu nyata, seolah aku benar-benar berjalan di lorong-lorongnya.
Lalu aku melihatnya.
Ibu berdiri di sana.
Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada pelukan. Tidak ada tangisan. Ia hanya ada, berdiri seperti biasa, seperti hari-hari ketika aku dulu datang menjemputnya di toko. Ia memakai gamis warna hijau, hijau yang lembut, tidak mencolok, tapi hangat dipandang. Kerudungnya panjang, menjuntai rapi, dihiasi manik-manik kecil yang berkilau samar saat terkena cahaya. Detail itu terasa begitu jelas, begitu spesifik, sampai-sampai aku yakin ini bukan sekadar bayangan kabur yang biasanya hadir dalam mimpi.
Yang membuatku semakin heran, aku tahu persis, itu bukan baju yang pernah kubelikan. Padahal, setiap Lebaran, aku hampir selalu membelikannya baju. Kebiasaan kecil yang dulu terasa sederhana, tapi kini menjadi kenangan yang diam-diam terasa berat.
Kami tidak berbicara. Tidak sepatah kata pun. Tidak ada suara yang keluar dari mulut kami. Kami hanya saling melihat. Atau mungkin lebih tepatnya, aku melihatnya. Karena anehnya, aku tidak bisa melihat wajahnya. Wajah ibu seperti tertutup oleh kabut tipis yang tidak bisa ditembus, meskipun jaraknya dekat. Aku tahu itu dia. Aku yakin itu dia. Tapi wajahnya tetap tak terlihat.
Dan yang paling ganjil, dalam mimpi itu, aku sadar bahwa ibu sudah meninggal.
Kesadaran itu tidak datang dengan rasa panik. Tidak ada keinginan bertanya, “Kenapa ibu ada di sini?” Tidak ada kebingungan yang biasanya muncul dalam mimpi. Kesadaran itu hadir begitu saja, tenang, seperti fakta yang tidak perlu diperdebatkan. Ibu sudah tiada, dan aku tahu itu. Namun, ia tetap berdiri di hadapanku.
Mimpi itu selesai tanpa penutup. Tanpa perpisahan. Tanpa akhir yang jelas.
Lalu mimpi kedua datang, seolah menjadi kelanjutan, atau mungkin pengulangan dalam versi yang sedikit berbeda. Kali ini ibu mengenakan gamis warna navy. Gelap, tenang, dan terasa lebih sunyi. Kerudung panjang dengan manik-manik itu masih ada. Ia kembali berdiri. Kembali tanpa suara. Kembali tanpa wajah yang bisa kulihat.
Aku hanya memandangnya lagi. Diam-diam. Tanpa berani mendekat. Tanpa berani bertanya.
Dan seperti mimpi pertama, aku tetap tahu....... ibu sudah meninggal.
Saat terbangun, perasaan itu tidak langsung hilang. Bukan sedih yang meledak-ledak, bukan juga bahagia. Lebih seperti rasa hening yang tertinggal setelah hujan berhenti. Ada kehangatan kecil yang sulit dijelaskan, bercampur dengan kekosongan yang juga tidak bisa diberi nama.
Mungkin mimpi itu tidak datang untuk menjawab apa pun. Mungkin ia hanya datang untuk mengingatkan, bahwa di suatu tempat dalam diriku, ibu masih berdiri, diam, tanpa suara, tanpa wajah yang jelas, namun tetap hadir. Selalu.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!