Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya aku sendiri tidak pernah benar-benar yakin apakah aku memang menyukainya. Perasaan itu datang seperti kabut tipis di pagi hari...... terlihat ada, terasa dingin menyentuh kulit, tapi ketika ingin kugenggam, tanganku kosong. Aku sering bertanya pada diriku sendiri, ini benar cinta atau hanya ilusi yang sengaja kuciptakan agar hidupku terasa lebih berdenyut?
Ada masa ketika hari-hariku berjalan datar. Tidak ada getaran, tidak ada yang membuat jantungku berdetak lebih cepat. Semuanya terasa normal dalam arti yang paling membosankan. Lalu dia muncul, atau mungkin aku yang mulai menyadari keberadaannya dan tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak di dalam dada. Bukan ledakan, bukan gempa besar. Hanya riak kecil. Tapi cukup untuk membuatku merasa hidup.
Dan di situlah kecurigaanku bermula.
Bagaimana jika sebenarnya aku hanya sedang mempermainkan hatiku sendiri? Seolah-olah aku sengaja membiarkan diriku jatuh, atau setidaknya berpura-pura jatuh, hanya supaya ada cerita yang bisa kurasakan. Supaya ada degup yang bisa kunamai rindu. Supaya ada sosok yang bisa kupikirkan sebelum tidur.
Kadang aku merasa seperti sutradara sekaligus pemeran dalam drama yang kutulis sendiri. Aku menyusun adegan-adegan kecil di kepalaku, tatapan yang terasa lebih lama dari biasa, jarak yang terasa lebih dekat dari seharusnya, senyum yang mungkin biasa saja tapi kuterjemahkan sebagai isyarat rahasia. Lalu aku terbawa peranku sendiri.
Tapi ketika tiba waktunya untuk benar-benar melangkah, mengungkapkan sesuatu, memberi tanda yang lebih jelas, atau sekadar bertanya apa sebenarnya yang terjadi, aku selalu mundur. Bukan hanya karena takut ditolak. Lebih dari itu, karena aku tidak yakin apa yang sedang kupertaruhkan.
Bagaimana jika ternyata aku tidak benar-benar mencintainya?
Bagaimana jika semua ini hanya caraku untuk melarikan diri dari rasa hampa yang lebih besar? Cara paling halus untuk mengatakan bahwa aku butuh sesuatu yang membuatku merasa berarti, meski hanya sementara.
Ada momen ketika aku menatapnya dan merasa hangat. Ada juga momen lain ketika aku melihatnya biasa saja, seperti melihat orang lain pada umumnya. Perasaan itu tidak konsisten. Ia datang dan pergi tanpa pola yang jelas. Hari ini aku merasa ingin dekat. Besoknya aku merasa netral, bahkan cenderung ingin menjaga jarak.
Maju. Mundur. Maju sedikit. Lalu mundur lebih jauh.
Dan setiap kali aku hampir berani menyusun kalimat pengakuan dalam hati, selalu ada suara kecil yang berbisik, “Kamu yakin?” Suara itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat langkahku goyah. Aku takut menyatakan sesuatu yang bahkan belum kupahami sepenuhnya.
Aku takut menyakiti dia, kalau ternyata yang kurasa hanya rasa ingin memiliki sensasi, bukan ingin memiliki dirinya.
Kadang aku berpikir, mungkin aku hanya rindu pada versi diriku yang bisa berdebar karena seseorang. Mungkin yang kucari bukan dia, tapi perasaan itu sendiri..... getaran, harap, kemungkinan. Dia hanya kebetulan hadir di waktu yang tepat untuk menjadi wadah dari semua itu.
Dan kalau memang begitu, bukankah itu tidak adil?
Itulah sebabnya aku sering terlihat ragu. Bukan karena tidak peduli, tapi karena aku sedang bernegosiasi dengan diriku sendiri. Aku mencoba memastikan apakah ini benar rasa yang tumbuh, atau hanya bayangan yang kubesarkan sendiri.
Sampai hari ini, jawabannya belum benar-benar jelas.
Aku hanya tahu, setiap kali mencoba menjauh, ada sedikit yang terasa hilang. Tapi setiap kali mencoba mendekat, ada kegamangan yang tak kalah besar.
Mungkin aku memang menyukainya.
Mungkin juga aku hanya takut kembali merasa hampa.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!