Jujur saja, aku berharap dia membalas pesanku. Harapan yang sebenarnya sederhana, kecil, dan mungkin terdengar sepele bagi orang lain. Hanya sebuah balasan. Satu notifikasi. Satu tanda bahwa pesan itu sampai bukan hanya ke ponselnya, tapi juga ke perhatiannya. Tapi sampai sekarang, layar itu tetap sunyi.
Awalnya aku mencoba bersikap biasa saja. Aku menaruh ponsel, melanjutkan aktivitas, mencoba meyakinkan diri bahwa hidup tidak akan berubah hanya karena satu pesan belum dibalas. Tapi entah sejak kapan, tanganku mulai punya kebiasaan baru, membuka aplikasi media sosial tanpa alasan yang jelas. Seperti refleks. Seperti gerakan otomatis yang terjadi bahkan sebelum aku sempat berpikir.
Semenit sekali. Lima menit sekali. Lalu setengah jam.
Dan tanpa terasa, dua hari sudah lewat.
Pesan terakhirku masih menggantung di sana, seperti kalimat yang terhenti di tengah udara dan tidak pernah menemukan tempat untuk mendarat.
Lucunya, aku tidak benar-benar bisa marah. Tidak bisa juga bilang sebal. Aku tahu betul bagaimana rasanya malas membalas pesan. Aku sendiri sering begitu. Sering menunda. Sering membiarkan notifikasi menumpuk sampai lupa. Jadi rasanya tidak adil jika tiba-tiba aku menuntut sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak selalu mampu berikan.
Tapi perasaan ternyata tidak selalu peduli pada logika.
Meski memahami, aku tetap menekan tombol pesan itu berulang kali. Membuka chat yang sama. Menatap kalimat yang tidak berubah. Seolah-olah dengan cukup sering melihatnya, sesuatu akan tiba-tiba muncul. Seolah-olah kesabaran bisa memanggil notifikasi.
Dan setiap kali layar itu tetap sama, ada perasaan kecil yang pelan-pelan tumbuh di dalam dada. Bukan kecewa yang besar, bukan sedih yang dramatis. Hanya rasa kosong yang tipis tapi menetap. Seperti ruang hening yang terlalu lama dibiarkan tanpa suara.
Di sela-sela keheningan itu, pikiran mulai bekerja lebih keras dari seharusnya.
Bagaimana kalau selama ini hanya aku yang merasa?
Bagaimana kalau semua senyum, semua perhatian kecil, semua kemungkinan yang kubayangkan… hanya hidup di kepalaku sendiri?
Bagaimana kalau aku satu-satunya yang menganggap ini sesuatu?
Pertanyaan-pertanyaan itu datang tanpa diundang, lalu duduk diam di sudut pikiran, menunggu untuk diakui. Aku mencoba menolaknya, mengatakan bahwa dua hari bukan waktu yang lama, bahwa setiap orang punya kesibukan, bahwa mungkin dia hanya belum sempat. Tapi semakin aku mencoba menenangkan diri, semakin sering aku kembali membuka chat itu.
Seperti ada bagian dari diriku yang berharap menemukan bukti bahwa aku tidak sendirian dalam perasaan ini.
Dan di saat yang sama, ada bagian lain yang sudah bersiap menerima kemungkinan sebaliknya.
Mungkin ini memang hanya aku.
Mungkin aku yang terlalu banyak memberi makna pada hal-hal kecil.
Mungkin aku yang diam-diam membangun cerita yang bahkan belum pernah dimulai.
Aku menatap layar sekali lagi, lalu menutupnya perlahan. Bukan karena sudah berhenti berharap, tapi karena mulai lelah berharap terlalu keras.
Namun jauh di dalam hati, aku tahu, besok aku akan membuka chat itu lagi. Tanpa alasan. Tanpa rencana. Hanya untuk memastikan apakah keheningan itu masih ada.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!