Aku tahu itu terdengar konyol. Dan mungkin memang konyol. Karena pada akhirnya aku tetap menekan tombol kirimnya.
Lalu seketika, penyesalan datang seperti tamu yang tidak diundang, duduk santai di sebelahku, dan menertawakan keberanianku yang terlalu tipis. Rasanya seperti kembali menjadi anak SMA yang baru belajar menyukai seseorang, yang mengira setiap pesan adalah pertaruhan harga diri. Padahal aku tahu persis, di usia sekarang, aku seharusnya sudah melewati fase-fase seperti ini. Tapi rupanya perasaan tidak pernah benar-benar bertambah dewasa. Ia hanya belajar bersembunyi lebih rapi.
Pesan itu terkirim. Tidak bisa ditarik kembali. Tidak bisa disunting. Tidak bisa pura-pura tidak pernah terjadi.
Dan sejak detik itu, waktu berubah bentuk menjadi sesuatu yang aneh. Menit terasa seperti jam. Jam terasa seperti hari. Aku mencoba melakukan hal lain, membuka aplikasi lain, membaca sesuatu, bahkan menaruh ponsel jauh dari jangkauan, tapi pikiranku tetap kembali ke layar itu, ke satu percakapan yang masih sunyi. Sunyi yang terasa terlalu keras.
Aku mulai menebak-nebak kemungkinan. Mungkin dia sedang sibuk. Mungkin dia belum membuka pesan. Mungkin dia melihatnya tapi memilih menunda. Mungkin dia bingung harus membalas apa. Mungkin dia bosan. Mungkin dia merasa basa-basiku terlalu hambar, terlalu dipaksakan, terlalu tidak menarik untuk dilanjutkan.
Aku memang tidak pernah pandai basa-basi. Setiap kalimat kecil terasa seperti sepatu yang kebesaran, bisa dipakai, tapi tidak pernah benar-benar pas. Aku selalu takut terdengar biasa saja, sementara diam terasa terlalu berisiko untuk kehilangan kesempatan. Jadi akhirnya aku berdiri di tengah-tengah, mengirim pesan sederhana yang terasa terlalu sederhana.
Ironisnya, aku tahu aku memang sedang mencoba mendekat. Dan menyadari itu membuat segalanya terasa lebih memalukan. Seolah-olah aku sedang menonton diriku sendiri dari jauh, melihat seseorang yang gugup, kikuk, dan terlalu berharap pada balasan singkat yang bahkan belum tentu datang.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih menakutkan dari penyesalan, bagaimana reaksinya besok?
Besok, ketika kami mungkin bertemu. Apakah dia akan bersikap biasa saja, seolah pesan itu tidak pernah ada? Atau justru terlalu sadar, terlalu hati-hati, terlalu berbeda? Apakah akan ada senyum kecil yang diam-diam mengakui keberanian kecilku? Atau hanya kesunyian yang sama seperti sebelumnya, tapi kini terasa lebih berat karena aku sudah lebih dulu melangkah?
Aku tidak tahu. Dan mungkin ketidaktahuan itulah yang membuat segalanya terasa menggantung, seperti kalimat yang berhenti di tengah tanpa titik.
Satu kata sudah dikirim. Satu langkah sudah diambil. Terlambat untuk kembali.
Sekarang aku hanya menunggu, bukan hanya balasan di layar, tapi juga jawaban dari semesta tentang apa arti keberanian kecil yang terlalu lama kupikirkan itu.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!