Ini hanya perasaanku. Mungkin salah. Aku bahkan berharap ini salah. Tapi semakin aku mencoba mengabaikannya, semakin keras ia berbisik di kepalaku. Seolah ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang bergeser sedikit saja, cukup kecil untuk tak terlihat orang lain, tapi cukup besar untuk membuatku gelisah sepanjang hari. Aku mulai curiga… jangan-jangan dia menghindariku. Dan pikiran itu, sekecil apa pun, terasa seperti benih yang langsung tumbuh liar tanpa izin.
Semuanya kembali ke pesan singkat itu. Pesan yang sangat sederhana, bahkan terlalu sederhana, sapaan kecil yang kuketik dengan ragu, kukirim dengan jantung berdebar, lalu kusesali beberapa detik setelahnya. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu bukan apa-apa. Hanya kata pendek, hanya basa-basi. Tapi di kepalaku, pesan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar, seolah aku telah menabrak batas yang tidak terlihat. Bagaimana jika dia merasa tidak nyaman? Bagaimana jika dia terganggu? Bagaimana jika aku telah merusak keseimbangan aneh yang selama ini diam-diam kami jaga?
Pikiran itu berputar-putar tanpa henti sampai sore menjelang malam. Surup datang bersama hujan. Langit menggelap perlahan, udara terasa dingin, dan jalanan basah memantulkan cahaya lampu seperti serpihan kaca. Aku sebenarnya jarang pulang selarut itu, tapi hujan membuatku menunggu. Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku hanya ingin menghindari macet. Hanya itu. Tidak ada alasan lain.
Tapi entah kenapa, hatiku seperti sudah tahu sesuatu akan terjadi.
Dan benar saja, di pintu masuk, pintu yang sekaligus menjadi jalan keluar, aku melihatnya. Berdiri di sana bersama teman-temannya. Selalu begitu. Dia tidak pernah sendirian. Selalu ada lingkaran kecil yang mengelilinginya, percakapan yang terdengar hidup, tawa yang terasa ringan. Sementara aku berdiri beberapa meter jauhnya, sendirian seperti biasa, memegang tas dan pikiran yang terlalu penuh.
Aku ingin menatapnya. Sungguh ingin. Tapi tubuhku menolak bekerja sama. Yang kuberikan hanya sekilas pandang, terlalu cepat untuk disebut melihat, terlalu singkat untuk disebut pertemuan. Padahal aku sudah menunggu cukup lama hanya untuk momen sekecil itu. Ironis sekali rasanya, menunggu begitu lama hanya untuk detik yang bahkan tak sempat kupahami sepenuhnya.
Dan yang paling aneh, setelah akhirnya melihatnya, rasa kosong itu justru semakin besar.
Seharusnya aku merasa lega. Setidaknya aku tahu dia baik-baik saja. Setidaknya aku tahu dia ada. Tapi yang datang justru kebalikannya. Ada sesuatu di dadaku yang runtuh pelan-pelan, seperti bangunan tua yang sudah lama retak tapi baru sekarang benar-benar menyerah pada waktu.
Aku pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan sedih yang jelas bentuknya. Bukan kecewa yang punya alasan kuat. Lebih seperti patah hati yang belum pernah terjadi, kehilangan yang belum pernah dimiliki. Aneh sekali rasanya, bagaimana mungkin seseorang yang bahkan belum pernah benar-benar menjadi milikku bisa meninggalkan rasa kehilangan sebesar ini?
Langkahku terasa lebih berat dari biasanya. Jalanan masih basah, udara masih dingin, tapi yang paling terasa adalah sunyi yang ikut pulang bersamaku. Aku mencoba mengingat lagi pertemuan singkat itu, mencari tanda-tanda kecil yang mungkin terlewat. Apakah dia sengaja tidak melihatku? Apakah dia pura-pura sibuk? Atau semua ini hanya cerita yang kubuat sendiri di kepalaku?
Aku tidak tahu. Dan mungkin justru ketidaktahuan itulah yang paling menyakitkan.
Karena di antara semua kemungkinan, yang paling menakutkan adalah jika ternyata tidak ada apa-apa. Jika semua ini hanya perasaan sepihak yang tumbuh terlalu jauh tanpa disadari. Jika pesan singkat itu hanya berarti apa adanya, sebuah sapaan kecil yang tidak perlu dibalas, tidak perlu dipikirkan, tidak perlu dirasakan.
Dan di sanalah aku berdiri sekarang, di antara hujan yang sudah reda dan langit yang mulai gelap, mencoba menerima kenyataan bahwa kadang rasa kehilangan bisa datang bahkan sebelum sesuatu benar-benar dimulai.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!