Pernahkah kamu merasakan hampa yang datang tanpa undangan? Bukan sedih yang jelas sebabnya, bukan pula bahagia yang lupa pulang. Hanya semacam ruang kosong yang tiba-tiba muncul di dalam dada, seperti ada sesuatu yang dipindahkan diam-diam saat aku lengah. Aku tahu ada yang hilang, tapi anehnya aku tak tahu apa. Rasanya seperti mencoba mengingat mimpi yang samar, kamu yakin pernah mengalaminya, tapi setiap kali berusaha mengingat, yang tersisa hanya potongan kabut.
Sejak pagi itu, pikiranku sibuk bertanya hal-hal yang bahkan terdengar konyol. Pertanyaan yang kutujukan ke diriku sendiri, lalu kujawab sendiri, lalu kupatahkan lagi jawabannya. Siklus yang berputar tanpa ujung. Aku mencoba menyibukkan diri, mengisi waktu dengan rutinitas kecil yang biasanya cukup ampuh membuat hari terasa padat. Tapi kali ini tidak. Semua terasa lebih ringan, terlalu ringan malah, seolah hari kehilangan bobotnya.
Dan di tengah hari yang terasa tipis itu, aku sadar dadaku seperti amblas. Bukan sakit, bukan sesak, tapi seperti ada bagian kecil yang tiba-tiba menghilang. Ruang kosong yang tidak berisik, tapi terasa sangat nyata. Aku mencoba menelusuri ke belakang, seperti detektif yang sedang mencari titik awal sebuah kehilangan. Kapan ini mulai terasa? Apa yang berubah?
Lalu ingatanku berhenti di hari Rabu.
Hari itu, aku tidak bertemu dengannya.
Satu hari yang seharusnya biasa saja.
Satu hari yang mestinya tidak layak diberi makna berlebihan.
Namun entah kenapa, hari Kamis datang dengan rasa hampa yang tidak bisa dijelaskan. Seolah-olah ada ritme kecil yang terlewat, sesuatu yang biasanya hadir diam-diam tanpa kusadari, lalu tiba-tiba tidak ada. Dan ketika ketidakhadiran itu terasa, aku baru menyadari bahwa mungkin selama ini aku diam-diam menunggunya.
Aku mencoba menyangkalnya. Berkali-kali. Mengatakan pada diri sendiri bahwa ini hanya kebetulan. Bahwa manusia memang kadang merasa kosong tanpa alasan. Bahwa tidak semua perasaan harus dihubungkan dengan seseorang. Tapi setiap kali mencoba meyakinkan diri, pertanyaan itu kembali muncul, pelan namun keras kepala.
Apakah mungkin aku sudah jatuh hati sejauh ini?
Pertanyaan itu terasa terlalu besar untuk dijawab, tapi juga terlalu jujur untuk diabaikan. Aku mengulang-ulang hari-hari sebelumnya di kepalaku, tatapan singkat, kebetulan yang terlalu sering, kehadiran yang sebenarnya tidak pernah disertai percakapan. Tidak ada cerita besar. Tidak ada momen dramatis. Hanya potongan-potongan kecil yang dulu terasa remeh, namun sekarang seperti menyusun pola yang tak ingin kuakui.
Mungkin selama ini aku tidak sadar bahwa kehadirannya telah menjadi bagian dari kebiasaanku. Seperti lagu latar yang terus diputar tanpa kusadari. Dan ketika lagu itu berhenti, dunia tidak runtuh, hanya menjadi terlalu sunyi.
Yang paling membingungkan, aku tidak yakin apakah ini benar-benar kehilangan dia… atau kehilangan versi diriku yang diam-diam menunggunya. Karena mungkin, yang kurindukan bukan hanya sosoknya, tapi juga perasaan kecil yang muncul setiap kali tahu dia ada di sekitar.
Dan di situlah aku berdiri sekarang, di antara yakin dan ragu, di antara kehilangan dan mungkin hanya perasaan yang terlalu dilebih-lebihkan. Aku masih mencoba memahami ruang kosong ini, mencoba memberi nama pada sesuatu yang bahkan belum tentu nyata.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!