Lebaran kemarin seharusnya sederhana saja, berjalan pelan dari rumah ke rumah, mengetuk pintu, tersenyum, berjabat tangan, lalu pulang dengan perasaan hangat yang katanya selalu menjadi ciri hari raya. Setidaknya begitu gambaran yang sering diceritakan orang.
Aku berangkat dengan harapan yang tidak terlalu besar, cukup menjalani kewajiban sosial, menyapa tetangga, lalu kembali pulang tanpa terlalu banyak percakapan panjang.
Awalnya semua berjalan seperti biasa. Obrolan ringan tentang cuaca, makanan, kabar keluarga. Pertanyaan-pertanyaan yang terasa aman karena jawabannya sudah tersedia sejak dulu, kerja bagaimana, sehat ya, semoga lancar rezekinya. Kalimat-kalimat yang bergerak pelan, tidak terlalu dalam, tidak terlalu menuntut.
Sampai di satu rumah, percakapan itu berubah arah tanpa peringatan.
Namaku disebut.
Awalnya hanya sepintas, seperti contoh kecil dalam kalimat yang panjang. Lalu di rumah berikutnya, namaku muncul lagi, kali ini lebih jelas. Di rumah setelahnya, namaku terdengar lebih tegas, lebih mantap, seolah sudah menjadi bagian dari cerita yang siap diceritakan ulang.
Aku mulai menyadari pola itu ketika seseorang berkata, “Nah, ini contoh anak yang berhasil.” Kalimat itu diucapkan dengan bangga, dengan nada yang seharusnya membuatku tersenyum. Orang-orang menoleh, beberapa mengangguk, beberapa tersenyum, beberapa mulai bertanya lebih jauh.
Dan di situlah perasaan aneh itu mulai tumbuh.
Aku tidak pernah merasa cocok dengan sorotan. Bahkan sejak dulu, aku selalu lebih nyaman berdiri sedikit di belakang, cukup dekat untuk melihat, tapi cukup jauh untuk tidak terlihat. Menjadi latar belakang terasa aman. Tidak banyak yang ditanya, tidak banyak yang diharapkan.
Tapi hari itu, rasanya seperti ada lampu yang tiba-tiba menyala tepat di atas kepalaku.
Pertanyaan mulai datang dengan cara yang terdengar ramah, kerja di mana sekarang? Sejak kapan? Wah, hebat ya. Kalimat-kalimat pujian yang diucapkan dengan tulus, tapi entah kenapa terasa berat ketika mendarat di telingaku. Setiap jawaban yang keluar terasa seperti membuka pintu yang selama ini sengaja kututup rapat.
Aku menjawab seperlunya. Singkat. Hati-hati. Berharap percakapan segera berpindah ke topik lain. Tapi setiap rumah seperti mengulang adegan yang sama, dengan variasi yang hanya sedikit berbeda. Namaku disebut lagi. Ceritaku diulang lagi. Bahkan kadang ditambahkan bumbu yang aku sendiri tidak tahu kapan aku menceritakannya.
Di tengah senyum dan tawa yang mengisi ruang tamu, aku justru merasa semakin kecil.
Ada rasa bersalah karena tidak bisa menikmati kebanggaan yang diberikan orang lain. Ada rasa tidak enak karena ingin percakapan itu segera selesai. Ada rasa aneh ketika menyadari bahwa semakin banyak orang tahu tentang hidupku, semakin besar keinginan untuk kembali bersembunyi.
Yang paling membingungkan adalah kenyataan bahwa tidak ada yang salah. Mereka tidak bermaksud buruk. Mereka tulus. Mereka bangga. Mereka hanya ingin berbagi cerita baik di hari yang baik.
Tapi tetap saja, rasanya seperti membawa sesuatu yang terlalu berat untuk dipamerkan.
Di perjalanan pulang, aku mencoba memahami perasaan itu. Kenapa pujian bisa terasa seperti beban? Kenapa sorotan bisa terasa seperti ruang yang terlalu sempit untuk bernapas? Kenapa hal yang bagi orang lain terdengar menyenangkan justru membuatku ingin menghilang lebih cepat?
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!