Setiap Kali Ia Berlalu, Aku Selalu Merasa Telah Memenangkan Sesuatu. Tapi di Saat yang Sama, Aku Juga Merasa Kalah
Ada momen-momen kecil yang terasa begitu besar hanya karena terjadi berulang. Ia berjalan melintas di depanku, sekilas, singkat, seperti adegan yang tidak pernah benar-benar dimulai tapi selalu berhasil meninggalkan jejak. Setiap kali itu terjadi, ada dorongan aneh yang muncul tanpa diminta. Sebuah keinginan yang tiba-tiba saja berdiri di ambang kesadaran.... ingin memeluknya. Bukan pelukan yang panjang atau dramatis, hanya keinginan sederhana untuk berhenti sejenak dan menghapus jarak yang selama ini terasa terlalu jauh.
Dan setiap kali keinginan itu datang, aku langsung membencinya.
Bukan karena keinginan itu salah, tapi karena aku tahu aku tidak akan pernah menuruti dorongan itu. Aku menahannya sekuat mungkin, seperti seseorang yang menggenggam sesuatu yang terlalu panas tapi tidak berani melepaskannya. Ada batas yang tak terlihat, ada aturan tak tertulis yang terus mengingatkanku untuk tetap di tempatku. Maka aku memilih diam. Selalu diam.
Lucunya, semakin aku menahan diri, semakin aku merasa ia sengaja berjalan melewatiku lebih sering. Entah hanya perasaanku saja, atau memang ada sesuatu yang ia uji dariku. Cara ia melintas terasa terlalu pas untuk disebut kebetulan. Seperti seseorang yang tahu persis di mana harus berjalan agar tetap terlihat tanpa harus berhenti.
Dan aku berdiri di sana, berpura-pura biasa saja, sementara di dalam dada ada sesuatu yang berisik.
Saat ia lewat, ada hal kecil yang selalu kucuri tanpa izin, aroma tubuhnya. Bukan sesuatu yang bisa kujelaskan dengan kata-kata, tapi cukup untuk membuat waktu melambat sepersekian detik. Seperti fragmen kecil yang tertinggal di udara setelah ia pergi. Aku tahu itu tidak berarti apa-apa baginya. Tapi bagiku, itu seperti sisa-sisa percakapan yang tak pernah terjadi.
Ironisnya, aku selalu berharap ia yang memulai. Aku ingin ia yang berhenti lebih dulu, ia yang membuka percakapan, ia yang meruntuhkan jarak ini. Mungkin karena aku terlalu takut memulai, atau mungkin karena aku ingin merasa diinginkan, bukan sekadar menginginkan.
Namun sampai sekarang, tak ada kemajuan. Tidak ada langkah yang benar-benar mendekatkan. Kami hanya dua orang yang terus berpapasan di jalur yang sama, dengan jarak yang tidak pernah benar-benar berubah.
Kadang aku bertanya-tanya, sampai kapan aku akan terus menunggu sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan? Sampai kapan aku akan berdiri di titik ini, menahan keinginan yang bahkan tidak pernah kuberi kesempatan untuk hidup?
Setiap kali ia berlalu, aku selalu merasa telah memenangkan sesuatu, karena berhasil menahan diri. Tapi di saat yang sama, aku juga merasa kalah. Karena kemenangan itu tidak pernah membawa kami ke mana-mana.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!