Ada satu hal yang belakangan ini sering mengganggu pikiranku. Kadang, orang yang paling lantang menyayangkan tindakan bunuh diri, yang paling sering menulis kalimat penuh empati di forum dan media sosial, justru pernah, atau bahkan masih, menjadi bagian dari perundungan itu sendiri. Mereka bicara seolah-olah menjadi pembawa kasih, seakan berdiri di sisi yang paling peduli, padahal di sisi lain, mereka juga pernah melukai.
Aku mengenali tipe orang seperti itu. Bukan sekadar dari cerita orang lain, tapi dari pengalaman yang cukup dekat untuk terasa nyata. Di ruang publik, mereka terdengar bijak. Kata-katanya rapi, penuh empati, mudah disukai. Namun di ruang yang lebih kecil, di percakapan yang lebih pribadi, sikapnya bisa berubah jauh berbeda. Kalimat-kalimat yang dulu terasa hangat, tiba-tiba bisa menjadi dingin, tajam, dan merendahkan.
Kontras itu melelahkan.
Awalnya aku mencoba memaklumi. Mungkin mereka tidak sadar. Mungkin itu hanya salah paham. Mungkin aku terlalu sensitif. Banyak sekali “mungkin” yang dulu kucari demi mempertahankan hubungan. Tapi semakin lama, semakin terasa jelas bahwa ini bukan sekadar kebetulan. Ada pola yang berulang. Ada wajah yang berbeda tergantung di mana mereka berdiri.
Dan di titik tertentu, rasa lelah itu berubah menjadi keputusan.
Aku mulai memutus beberapa tali hubungan. Tidak dengan drama, tidak dengan pertengkaran besar. Lebih seperti menarik diri perlahan. Mengurangi percakapan, mengurangi pertemuan, mengurangi ruang yang dulu kuberikan. Sampai akhirnya hubungan itu tinggal formalitas, atau bahkan hilang sama sekali.
Sekarang, kalau kebetulan bertemu, rasanya biasa saja. Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada keinginan membalas. Hanya ada jarak. Datar. Seolah-olah emosi itu sudah habis digunakan di masa lalu.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri, apakah ini yang disebut mati rasa? Mungkin iya. Atau mungkin ini hanya bentuk lain dari menjaga diri. Karena ada titik ketika memahami orang lain tidak lagi cukup untuk membenarkan luka yang berulang.
Bukan berarti aku membenci mereka. Lebih tepatnya, aku memilih tidak lagi memberi ruang yang sama. Ada perbedaan halus di situ. Dulu aku ingin dekat. Sekarang aku hanya ingin tenang.
tidak apa-apa, kan?
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!