Dua hari terakhir terasa berbeda, meski tidak ada peristiwa besar yang benar-benar terjadi. Tidak ada kata yang diucapkan, tidak ada kejadian dramatis yang bisa dijadikan penanda. Hanya perubahan kecil, nyaris tak terlihat..... tapi cukup jelas untuk membuat hatiku menyadarinya lebih dulu daripada pikiranku.
Dulu, setiap kali aku berada di dekatnya, ada energi yang terasa berbeda. Ia seperti selalu punya cara untuk tampak lebih hidup, lebih ringan, lebih terbuka. Gesturnya sedikit lebih cepat, langkahnya sedikit lebih ringan, sorot matanya seperti tidak sengaja mencari-cari sesuatu di sekitarku. Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa artinya, tapi aku selalu merasakannya. Seperti ada getaran halus yang hanya bisa dipahami tanpa perlu diterjemahkan.
Tapi dua hari ini, semuanya berubah menjadi lebih sunyi.
Ia masih ada, masih lewat di tempat yang sama, masih berada dalam jarak yang bisa kuhitung dengan langkah. Namun ada sesuatu yang hilang....... seperti jarak tak kasatmata yang tiba-tiba berdiri di antara kami. Ia tidak lagi tampak terburu-buru mendekat. Tidak lagi terlihat berusaha berada di radius yang sama lebih lama dari yang diperlukan. Bahkan kadang, rasanya ia sengaja memilih jalur yang sedikit lebih jauh, seolah memberi ruang yang sebenarnya tidak pernah kuminta.
Aku tidak tahu sejak kapan perubahan itu dimulai. Mungkin kemarin. Mungkin beberapa hari sebelumnya. Atau mungkin ia sudah lama terjadi, hanya saja aku baru berani mengakuinya sekarang.
Yang paling membuatku tidak tenang adalah kemungkinan bahwa semua ini ada hubungannya denganku. Dengan sikapku yang selalu kaku, selalu menjaga jarak, selalu tampak seperti orang yang tidak ingin diganggu...... padahal kenyataannya justru sebaliknya. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya terlihat ingin.
Aku membayangkan bagaimana rasanya berada di posisinya. Berusaha mendekat, berusaha menunjukkan ketertarikan, tapi yang didapat hanya respons yang datar, canggung, bahkan mungkin terlihat dingin. Mungkin, pada titik tertentu, ia menyadari bahwa tidak masuk akal untuk terus menjadi satu-satunya orang yang tampak bersemangat. Tidak masuk akal untuk terus menyalakan lampu di ruangan yang tampak kosong.
Dan pikiran itu membuat dadaku terasa berat.
Aku tidak pernah bermaksud membuatnya merasa sendirian dalam usaha itu. Aku tidak pernah berniat membuatnya berpikir bahwa antusiasmenya bertepuk sebelah tangan. Tapi kenyataannya, sikapku mungkin terlihat seperti itu. Jaim yang kupikir sebagai cara menjaga diri, mungkin terbaca sebagai tembok yang sulit ditembus.
Ironisnya, di balik semua sikap diamku, justru ada kekacauan yang tak pernah berhenti. Ada keinginan untuk menyapa, untuk tersenyum, untuk membuat percakapan sederhana terasa mungkin. Tapi setiap kali kesempatan itu datang, tubuhku seperti membeku, seolah-olah keberanian adalah bahasa yang belum pernah kupelajari.
Dan sekarang, ketika ia mulai menjaga jarak, aku justru merasa bersalah. Seperti baru menyadari bahwa diam juga bisa menjadi jawaban...... jawaban yang mungkin tidak pernah ingin kuberikan.
Aku tidak tahu apakah ia benar-benar menjauh, atau aku hanya terlalu takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah kumiliki. Semua terasa abu-abu, menggantung di ruang yang tidak punya kepastian. Yang aku tahu hanya satu.... ada sesuatu yang berubah, dan perubahan itu membuatku menyadari betapa banyak hal yang tidak pernah sempat terjadi karena aku terlalu sibuk menunggu keberanian datang dengan sendirinya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!