Skip to main content

Tidak Cukup Yakin untuk Melangkah Maju, Tapi Juga Tidak Cukup Yakin untuk Berhenti


Pertanyaan itu kembali muncul, seperti lagu lama yang tiba-tiba terputar sendiri tanpa diminta, apakah aku benar-benar menyukainya? Pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi entah kenapa selalu terasa terlalu berat untuk dijawab dengan jujur. 

Aku menanyakannya berulang kali, di sela-sela kesibukan, di tengah perjalanan pulang, bahkan di saat-saat seharusnya pikiranku kosong. Seolah-olah ada bagian dari diriku yang memaksa mencari kepastian, sementara bagian lain sengaja menghindari jawabannya.

Hari ini, aku sempat berada begitu dekat di belakangnya. Dekat dalam arti yang nyata, bukan sekadar dekat dalam bayangan atau kemungkinan. Jarak kami cukup untuk membuatku bisa memperhatikan hal-hal kecil, cara ia berjalan, ritme langkahnya, bentuk bahunya yang terlihat dari balik pakaian yang sederhana. 

Aku menatapnya cukup lama, meski tetap menjaga jarak aman dari keberanian yang belum kumiliki. Aku tidak berani melihat wajahnya, apalagi matanya. Rasanya seperti ada batas tak terlihat yang menahanku untuk tidak melangkah lebih jauh dari itu.

Dan di situlah kebingungan itu muncul.

Aku menunggu sesuatu. Aku menunggu jantungku berlari lebih cepat. Menunggu perasaan gugup yang biasanya muncul ketika seseorang benar-benar berarti. Menunggu getaran kecil yang sering digambarkan orang-orang ketika mereka menyukai seseorang. Aku menunggu tanda apa pun yang bisa memberiku bukti bahwa perasaan ini nyata.

Tapi yang datang justru keheningan.

Tidak ada degup yang tiba-tiba mengeras. Tidak ada perasaan aneh yang membuat tangan terasa dingin atau langkah menjadi canggung. Tidak ada apa-apa selain kesadaran bahwa aku sedang berdiri di belakangnya, memperhatikannya, dan… itu saja. Momen itu terasa datar, hampir biasa. Terlalu biasa untuk sesuatu yang selama ini kupikir penting.

Dan di titik itu, pertanyaan yang sama kembali muncul, kali ini dengan suara yang lebih pelan tapi lebih tajam, kalau memang suka, kenapa tidak ada getaran?

Aku mencoba mencari alasan. Mungkin karena sudah terlalu sering melihatnya. Mungkin karena rasa gugupku habis lebih dulu sebelum sempat berubah jadi perasaan yang jelas. Atau mungkin, dan ini kemungkinan yang paling sulit kuhadapi, memang tidak ada apa-apa di sana sejak awal.

Namun anehnya, meski tidak ada getaran itu, aku tetap tidak bisa menyapanya.

Aku masih tidak mampu mengucapkan “hi” seperti yang kemarin kuketik dengan susah payah di layar ponsel. Kata yang terasa kecil itu mendadak menjadi sesuatu yang sangat besar ketika harus keluar dari mulutku sendiri. Seolah-olah antara jari dan suara ada jurang yang terlalu lebar untuk diseberangi.

Aku berdiri di sana, di belakangnya, dengan semua kesempatan yang pernah kuinginkan, dan tetap memilih diam.

Diam yang tidak memberi jawaban apa pun. Diam yang justru membuat pertanyaan semakin banyak.

Jika bukan karena suka, kenapa aku tetap memperhatikannya?
Jika memang suka, kenapa tidak ada rasa berdebar?
Jika semuanya biasa saja, kenapa menyapa terasa begitu sulit?

Pertanyaan-pertanyaan itu saling bertabrakan tanpa pernah benar-benar menyentuh jawaban. Dan aku mulai sadar, mungkin kebingungan ini bukan tentang dia sepenuhnya. Mungkin ini tentang diriku sendiri, tentang bagaimana aku mencari perasaan yang bahkan aku tidak yakin pernah ada.

Dan sampai sekarang, aku masih berdiri di tempat yang sama, tidak cukup yakin untuk melangkah maju, tapi juga tidak cukup yakin untuk berhenti.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...