Hari ini, aku sempat berada begitu dekat di belakangnya. Dekat dalam arti yang nyata, bukan sekadar dekat dalam bayangan atau kemungkinan. Jarak kami cukup untuk membuatku bisa memperhatikan hal-hal kecil, cara ia berjalan, ritme langkahnya, bentuk bahunya yang terlihat dari balik pakaian yang sederhana.
Aku menatapnya cukup lama, meski tetap menjaga jarak aman dari keberanian yang belum kumiliki. Aku tidak berani melihat wajahnya, apalagi matanya. Rasanya seperti ada batas tak terlihat yang menahanku untuk tidak melangkah lebih jauh dari itu.
Dan di situlah kebingungan itu muncul.
Aku menunggu sesuatu. Aku menunggu jantungku berlari lebih cepat. Menunggu perasaan gugup yang biasanya muncul ketika seseorang benar-benar berarti. Menunggu getaran kecil yang sering digambarkan orang-orang ketika mereka menyukai seseorang. Aku menunggu tanda apa pun yang bisa memberiku bukti bahwa perasaan ini nyata.
Tapi yang datang justru keheningan.
Tidak ada degup yang tiba-tiba mengeras. Tidak ada perasaan aneh yang membuat tangan terasa dingin atau langkah menjadi canggung. Tidak ada apa-apa selain kesadaran bahwa aku sedang berdiri di belakangnya, memperhatikannya, dan… itu saja. Momen itu terasa datar, hampir biasa. Terlalu biasa untuk sesuatu yang selama ini kupikir penting.
Dan di titik itu, pertanyaan yang sama kembali muncul, kali ini dengan suara yang lebih pelan tapi lebih tajam, kalau memang suka, kenapa tidak ada getaran?
Aku mencoba mencari alasan. Mungkin karena sudah terlalu sering melihatnya. Mungkin karena rasa gugupku habis lebih dulu sebelum sempat berubah jadi perasaan yang jelas. Atau mungkin, dan ini kemungkinan yang paling sulit kuhadapi, memang tidak ada apa-apa di sana sejak awal.
Namun anehnya, meski tidak ada getaran itu, aku tetap tidak bisa menyapanya.
Aku masih tidak mampu mengucapkan “hi” seperti yang kemarin kuketik dengan susah payah di layar ponsel. Kata yang terasa kecil itu mendadak menjadi sesuatu yang sangat besar ketika harus keluar dari mulutku sendiri. Seolah-olah antara jari dan suara ada jurang yang terlalu lebar untuk diseberangi.
Aku berdiri di sana, di belakangnya, dengan semua kesempatan yang pernah kuinginkan, dan tetap memilih diam.
Diam yang tidak memberi jawaban apa pun. Diam yang justru membuat pertanyaan semakin banyak.
Jika bukan karena suka, kenapa aku tetap memperhatikannya?
Jika memang suka, kenapa tidak ada rasa berdebar?
Jika semuanya biasa saja, kenapa menyapa terasa begitu sulit?
Pertanyaan-pertanyaan itu saling bertabrakan tanpa pernah benar-benar menyentuh jawaban. Dan aku mulai sadar, mungkin kebingungan ini bukan tentang dia sepenuhnya. Mungkin ini tentang diriku sendiri, tentang bagaimana aku mencari perasaan yang bahkan aku tidak yakin pernah ada.
Dan sampai sekarang, aku masih berdiri di tempat yang sama, tidak cukup yakin untuk melangkah maju, tapi juga tidak cukup yakin untuk berhenti.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!