Aku tidak tahu sejak kapan semuanya mulai terasa aneh. Seolah hidup berjalan seperti biasa, langit biru, hari-hari lewat tanpa drama, dan aku masih menjadi diriku yang sama. Tapi entah bagaimana, di tengah rutinitas yang tidak berubah, muncul satu orang yang pelan-pelan mengacaukan cara kerjaku memahami dunia.
Lucunya, aku bahkan tidak yakin apakah ini kebahagiaan atau justru awal dari penderitaan yang halus. Rasanya seperti berdiri di tempat yang sama, melihat langit yang sama, tapi tiba-tiba semuanya terasa berbeda hanya karena satu kehadiran. Orang lain mungkin menyebut ini hal indah. Aku sendiri masih bingung memberi nama.
Pertama kali menyadarinya, tubuhku bereaksi lebih cepat daripada pikiranku. Jantung berdetak lebih keras, napas terasa tidak teratur, dan aku mendadak kehilangan kemampuan paling sederhana, bersikap biasa saja. Menyapa pun terasa seperti misi yang terlalu besar. Apalagi mendekat. Apalagi membayangkan kemungkinan yang lebih jauh.
Aku berdiri di tempatku, mencoba terlihat tenang, sementara di dalam tubuhku seperti ada gempa kecil yang tidak berhenti. Mata ingin menatap, tapi takut ketahuan. Langkah ingin mendekat, tapi kaki seperti menolak bekerja sama. Ada rasa ingin yang besar, tapi selalu diikuti rasa takut yang tidak kalah besar.
Aneh sekali rasanya menginginkan seseorang sampai sejauh itu, padahal bahkan belum terjadi apa-apa.
Kadang aku membayangkan, bagaimana kalau suatu hari dia benar-benar menjadi milikku? Pikiran itu terdengar indah sekaligus menakutkan. Indah karena rasanya seperti mimpi yang terlalu manis. Menakutkan karena aku tahu, hal-hal yang terlalu indah sering kali tidak bertahan lama. Ada ketakutan aneh bahwa jika mimpi itu benar-benar terjadi, justru saat itulah ia akan pergi.
Mungkin itu sebabnya aku terjebak di ruang yang penuh ambiguitas ini. Di satu sisi ingin mendekat, di sisi lain takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum dimiliki.
Setiap kali dia muncul, dunia seperti berubah sedikit. Warna terasa lebih terang, suara terasa lebih jelas, dan waktu terasa berjalan dengan cara yang aneh, terlalu cepat ketika dia ada, terlalu lambat ketika dia tidak ada. Aku sering bertanya pada diri sendiri, apakah ini nyata atau hanya khayalan yang terlalu jauh berjalan.
Kadang muncul keinginan sederhana, andai aku bisa bertanya langsung. Apakah ini hanya perasaanku sendiri? Apakah dia merasakan sesuatu yang sama? Tapi pertanyaan itu selalu berhenti di tenggorokan, berubah menjadi diam yang panjang.
Ada bagian dari diriku yang berharap dia berkata tidak, dengan jelas, tegas, tanpa ruang abu-abu. Kedengarannya menyedihkan, tapi mungkin kejelasan akan lebih mudah daripada harapan yang menggantung terlalu lama. Karena berharap diam-diam ternyata melelahkan. Terlalu banyak kemungkinan, terlalu banyak skenario yang hanya hidup di kepala.
Namun di sisi lain, ada bagian kecil yang tetap ingin percaya. Bahwa mungkin semua getaran ini bukan sepihak. Bahwa mungkin ada kemungkinan yang belum sempat diberi kesempatan.
Dan di situlah aku berdiri sekarang, di antara keberanian yang tidak pernah benar-benar datang, dan harapan yang tidak pernah benar-benar pergi. Tidak tahu apakah ini awal cerita, tengah cerita, atau hanya persinggahan singkat yang nantinya akan terasa seperti mimpi yang pernah mampir sebentar.
Aku hanya tahu satu hal, sejak dia hadir, hidup yang tadinya terasa datar kini dipenuhi pertanyaan yang tidak pernah kuminta, tapi diam-diam tidak ingin kuhentikan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!