Ada jeda panjang sebelum akhirnya aku memberanikan diri membuka kembali jendela percakapan itu. Jeda yang terasa jauh lebih panjang dari hitungan hari yang sebenarnya. Pesan sebelumnya sudah dibaca, tanda kecil yang biasanya cukup untuk memberi harapan, namun tak pernah diikuti balasan. Hanya tanda sunyi yang menggantung seperti titik-titik yang tak kunjung berubah menjadi kalimat.
Awalnya aku mencoba pura-pura tidak peduli. Meyakinkan diri bahwa aku pun sering melakukan hal yang sama pada orang lain: membaca pesan, lalu menunda membalasnya tanpa alasan yang jelas. Tapi entah kenapa, ketika berada di posisi yang berlawanan, logika itu tiba-tiba terasa rapuh. Ada rasa tidak enak yang mengendap. Rasa yang aneh, seperti berdiri terlalu lama di depan pintu rumah orang lain tanpa tahu apakah harus mengetuk lagi atau pulang saja.
Namun pada akhirnya aku mengetuk lagi.
Aku memaksa diriku menekan tombol kirim sekali lagi, sambil mencoba mematikan rasa bersalah karena harus memulai percakapan untuk kedua kalinya. Bahkan hanya melalui pesan, langkah kecil itu terasa seperti lompatan yang terlalu jauh. Ada rasa kikuk yang menempel di ujung jari sebelum kalimat itu benar-benar terkirim, seolah-olah aku sedang melakukan sesuatu yang berlebihan padahal sebenarnya hanya mengetik beberapa kata sederhana.
Lucunya, aku sendiri tidak tahu harus bertanya apa.
Segala kemungkinan topik terasa terlalu berat, terlalu tiba-tiba, atau justru terlalu pribadi. Aku tidak punya pegangan apa pun. Tidak ada riwayat obrolan. Tidak ada kebiasaan saling bertanya. Tidak ada percakapan kecil yang bisa dijadikan pijakan. Yang ada hanya keheningan panjang dan keinginan samar untuk tetap terhubung, meski aku sendiri belum paham bentuk hubungan seperti apa yang sebenarnya kuinginkan.
Akhirnya aku memilih pertanyaan yang bahkan terdengar konyol di kepalaku sendiri.
Aku bertanya namanya.
Sederhana. Terlalu sederhana. Bahkan terasa tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang mencoba membuka percakapan dengan orang yang belum pernah benar-benar diajak bicara, lalu memulai dari pertanyaan paling dasar seperti itu? Pertanyaan yang seharusnya sudah diketahui jauh sebelumnya. Pertanyaan yang terasa seperti langkah mundur, bukan maju.
Tapi justru karena itu, aku mengirimkannya.
Karena di balik pertanyaan sederhana itu, ada sesuatu yang sebenarnya ingin kusampaikan, aku ingin punya alasan untuk memanggilmu. Aku ingin punya cara untuk menyebutmu. Aku ingin ada satu kata kecil yang bisa mengubahmu dari “dia” menjadi seseorang yang nyata di dalam kalimatku.
Mungkin memang terdengar sepele. Mungkin terdengar tidak penting. Tapi bagiku, itu seperti mencoba membuka pintu yang selama ini hanya kulihat dari kejauhan. Tidak langsung masuk, tidak langsung berbicara panjang, hanya mengetuk pelan dan berkata, “Aku di sini.”
Setelah pesan itu terkirim, rasa lega dan cemas datang bersamaan. Lega karena akhirnya aku bergerak lagi, tidak hanya menunggu dalam diam. Cemas karena sekali lagi aku menempatkan diriku di ruang tunggu yang sama, ruang yang penuh dengan kemungkinan, tapi juga penuh dengan keheningan.
Kini aku kembali menunggu. Dan seperti sebelumnya, waktu tiba-tiba berjalan lebih lambat dari biasanya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!