Aku melihatnya di salah satu sudut ruangan, tanpa rencana, tanpa niat. Momen itu datang begitu saja, seperti kebiasaan lama yang belum benar-benar hilang. Ia berdiri di sana, mengenakan baju yang belum pernah kulihat sebelumnya, warna coklat bata, atau mungkin ada nama lain yang lebih tepat untuk warna itu. Aku tidak begitu paham soal warna, tapi yang jelas, warna itu berbeda dari biasanya. Dan entah kenapa, perbedaan kecil itu cukup untuk membuat sudut hatiku tersenyum pelan.
Sepanjang pengamatanku, yang seharusnya sudah kuhentikan, ia hampir selalu memilih warna-warna gelap. Hitam, abu-abu, biru tua. Warna-warna aman yang seperti tidak ingin menarik perhatian. Tapi hari ini, ada sesuatu yang berubah. Warna itu hangat. Hidup. Dan anehnya, cocok sekali padanya. Aku bahkan sempat berpikir, seharusnya ia lebih sering memakai warna seperti itu. Pikiran yang datang begitu spontan, begitu alami, seolah aku masih berhak memperhatikannya.
Dan di situlah aku tersadar.
Kenapa aku memperhatikannya lagi?
Bukankah baru kemarin aku berjanji pada diri sendiri untuk berhenti peduli? Bukankah aku sudah lelah menjadi orang yang selalu mencari keberadaannya di antara keramaian? Bukankah aku sudah memutuskan untuk menaruh semua ini di tempat yang jauh, tempat yang tidak mudah dijangkau oleh kebiasaan-kebiasaan lama?
Pertanyaan itu muncul bersamaan, seperti suara yang saling bertabrakan di dalam kepala. Namun anehnya, tidak ada satu pun yang benar-benar memberi jawaban. Aku hanya berdiri di sana, menyadari bahwa janji pada diri sendiri ternyata tidak sekuat kebiasaan yang sudah terlanjur tumbuh.
Aku mencoba membela diri dalam hati. Perhatianku ini tidak sengaja. Aku tidak mencarinya. Aku tidak sengaja menoleh ke sudut ruangan itu. Ia hanya kebetulan berada di sana, di jalur pandang yang tidak bisa kuhindari. Dan aku masih cukup mampu menjaga diri, aku tidak menatap wajahnya. Aku tidak berani melihat matanya. Pandanganku berhenti di batas aman, seperti biasa: bahu, lengan, garis tubuh yang bergerak pelan di antara orang-orang lain.
Jika pun aku melihatnya, itu karena kami harus bersimpangan. Karena ruangan ini terlalu kecil untuk dua orang yang sedang berusaha saling menghindar. Karena ada momen-momen yang memang tidak bisa dielakkan, sekeras apa pun aku mencoba menghindarinya.
Tapi pembelaan itu terasa rapuh. Karena di balik semua alasan yang terdengar masuk akal, ada satu hal yang tak bisa kubohongi.
Aku masih mencarinya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!