Sepertinya aku memang harus berterima kasih padanya.
Kalimat itu baru benar-benar terasa hari ini, ketika aku kembali tidak menemukannya di mana pun. Dan anehnya, justru dari ketidakhadirannya itulah aku akhirnya sadar sesuatu yang selama ini berusaha keras kutolak.
Bahwa mungkin… selama ini dia adalah alasan kenapa aku masih bertahan.
Bukan pekerjaan ini.
Bukan rutinitasnya.
Bukan juga karena aku terlalu mencintai tempat ini.
Kalau dipikir-pikir lagi, sudah berkali-kali aku ingin pergi. Berkali-kali aku membuka kemungkinan untuk mencari tempat baru, suasana baru, hidup baru yang mungkin lebih tenang daripada hari-hariku sekarang. Ada terlalu banyak lelah yang menumpuk di sini. Terlalu banyak tekanan yang kadang membuat dadaku sesak bahkan sebelum hari dimulai.
Aku sering membayangkan menyerah saja.
Pergi diam-diam tanpa perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
Tapi setiap kali pikiran itu muncul, selalu ada sesuatu yang menahanku untuk benar-benar melangkah keluar. Dan sekarang aku mulai tahu apa penyebabnya.
Atau lebih tepatnya… siapa.
Hari ini, sejak pagi, aku sudah merasa ada yang aneh. Aku tidak melihat tanda-tanda kehadirannya. Tidak ada sosok yang biasanya tiba-tiba muncul di sudut pandangku. Tidak ada gerakan kecil yang sering tanpa sadar kucari. Bahkan ruangan terasa lebih kosong dari biasanya, meski sebenarnya tetap ramai oleh orang-orang yang lalu lalang.
Dan tanpa sadar, aku mulai melakukan kebiasaan bodoh itu lagi.
Melongok ke arah pintu masuk.
Sekali.
Dua kali.
Lalu berkali-kali.
Kadang sambil pura-pura mencari sesuatu yang lain agar tidak terlihat terlalu jelas. Kadang berpura-pura sibuk, tapi mataku tetap mencuri arah yang sama.
Berharap dia tiba-tiba muncul.
Berharap pintu itu terbuka lalu memperlihatkan dirinya berdiri di sana dengan segala kecanggungan yang selama ini diam-diam kurindukan.
Tapi sampai waktu berjalan semakin siang, dia tetap tidak ada.
Dan anehnya, semangatku ikut hilang perlahan.
Aktivitasku berjalan seperti biasa, tapi rasanya hambar. Aku tetap melakukan semuanya, tetap menyelesaikan pekerjaanku, tetap duduk di tempat yang sama, tapi seperti ada sesuatu yang tertinggal dan membuat semuanya terasa kosong.
Aku baru sadar betapa besar pengaruh kehadirannya terhadap hariku.
Padahal kami bahkan tidak pernah benar-benar dekat.
Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada hubungan yang jelas. Bahkan sebagian besar waktu kami habiskan hanya dengan saling menghindari tatapan atau berpura-pura tidak saling memerhatikan.
Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa aneh.
Bagaimana mungkin seseorang yang nyaris tidak punya hubungan apa-apa denganku bisa menjadi alasan terkuatku untuk tetap bertahan di tempat ini?
Aku membencinya sekaligus mensyukurinya.
Karena di tengah rasa lelah yang terus tumbuh terhadap pekerjaanku, dia seperti jeda kecil yang membuat semuanya terasa lebih ringan. Kehadirannya menciptakan semacam rasa penasaran yang membuatku ingin datang lagi keesokan hari.
Hanya untuk melihat apakah hari ini dia akan kembali mencari perhatianku.
Atau apakah hari ini aku akan cukup berani untuk sekadar menatap wajahnya lebih lama.
Sesederhana itu.
Dan mungkin itu yang paling menyedihkan.
Karena ternyata aku bertahan bukan karena hidupku baik-baik saja, tapi karena ada seseorang yang diam-diam membuat hari-hariku terasa sedikit lebih hidup.
Seseorang yang bahkan belum tentu memikirkanku sebanyak aku memikirkannya.
Ketika sore mulai datang dan aku akhirnya berhenti melongok ke arah pintu, aku menyerah.
Bukan menyerah terhadap perasaanku, tapi menyerah untuk menyangkal kenyataan bahwa aku memang menunggunya.
Bahwa aku memang berharap bertemu dengannya.
Dan bahwa mungkin, tanpa sadar, dia sudah menjadi alasan kecil yang menahan kakiku agar tidak pergi terlalu jauh dari tempat ini.
Lucu sekali.
Di tengah semua ketidakjelasan ini, justru dia yang membuatku tetap tinggal.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!