Kalau dipikir-pikir lagi, perasaan jatuh cinta yang tak jelas ini ternyata bukan hanya manis. Ia juga melelahkan. Di satu sisi, ada sensasi yang tak bisa kupungkiri, degup jantung yang datang tanpa diminta, semangat yang tiba-tiba muncul hanya karena tahu kemungkinan akan bertemu. Hari-hari yang biasanya berjalan datar mendadak punya warna. Bahkan rutinitas yang membosankan pun terasa lebih ringan, hanya karena ada kemungkinan kecil bahwa dia akan ada di sana.
Aku menyukai bagian itu. Sangat menyukai, bahkan. Rasanya seperti mendapat suntikan energi gratis yang tidak perlu kucari. Hanya dengan hadirnya kemungkinan, aku bisa menjalani hari dengan langkah yang sedikit lebih cepat, dengan hati yang sedikit lebih ringan. Aku jadi punya sesuatu untuk ditunggu. Punya alasan kecil untuk tersenyum tanpa sebab yang jelas.
Tapi di sisi lain, ada bagian yang tidak pernah benar-benar mau kuakui.
Bagian yang lelah.
Karena setiap rasa berdebar selalu datang bersama ketidakpastian. Setiap perasaan hangat selalu diikuti oleh pertanyaan yang tidak punya jawaban. Dan perlahan, pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk seperti awan yang tak kunjung hujan.
Apa sebenarnya ini?
Ke mana arahnya?
Apakah ini nyata atau hanya kubuat sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya menunggu malam datang, lalu muncul satu per satu seperti tamu yang tahu betul kapan harus datang tanpa diundang.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya manfaatnya apa? Apa yang benar-benar kudapat dari semua ini?
Apakah rasa berdebar itu cukup? Apakah semangat yang naik turun itu cukup? Apakah perasaan hidup yang tiba-tiba muncul setiap kali bertemu bisa menggantikan kejelasan yang tidak pernah ada?
Pertanyaan itu terasa sederhana, tapi jawabannya selalu kabur. Karena setiap kali aku mencoba jujur, ada bagian diriku yang buru-buru menutupinya dengan pembelaan.
Bukankah semua orang butuh sesuatu untuk membuat hidup terasa lebih hidup?
Bukankah perasaan ini, meski samar, tetap lebih baik daripada tidak merasakan apa-apa?
Bukankah lebih baik punya degup kecil daripada hidup yang sepenuhnya sunyi?
Begitulah aku meyakinkan diri.
Aku bilang pada diriku bahwa ini cukup. Bahwa rasa berdebar itu sudah lebih dari cukup. Bahwa semangat yang muncul tanpa sebab jelas adalah bonus yang tidak perlu dipertanyakan terlalu jauh. Aku mencoba percaya bahwa tidak semua hal harus jelas, tidak semua perasaan harus punya tujuan.
Tapi di balik semua kalimat bijak yang kubuat sendiri, ada keheningan yang tidak bisa dibohongi.
Karena kalau memang cukup, kenapa aku masih merasa frustrasi?
Kenapa ada rasa jengkel yang muncul tanpa alasan? Kenapa ada lelah yang datang diam-diam setelah semua degup itu mereda? Kenapa setiap malam aku kembali ke titik yang sama, memikirkan hal yang sama, menanyakan pertanyaan yang sama?
Mungkin karena sebenarnya aku tidak hanya menginginkan degup. Aku juga menginginkan arah. Aku tidak hanya ingin merasa hidup sesaat, aku ingin tahu untuk apa perasaan ini hidup.
Tapi mengakui itu terasa berbahaya.
Karena begitu aku mengakui bahwa aku ingin kejelasan, berarti aku harus siap menghadapi kemungkinan bahwa kejelasan itu tidak akan sesuai harapan. Bahwa semua degup yang selama ini kunikmati bisa saja berakhir sebagai kesalahpahaman panjang.
Dan mungkin, di situlah letak penolakanku.
Lebih aman mengatakan bahwa ini sudah cukup. Lebih nyaman berpura-pura bahwa aku hanya butuh rasa berdebar. Lebih mudah menyebutnya “cukup” daripada harus mengakui bahwa sebenarnya aku ingin lebih dan takut tidak mendapatkannya.
Jadi aku tetap berdiri di tempat yang sama.
Menikmati degupnya.
Mengeluhkan ketidakjelasannya.
Dan diam-diam tahu bahwa keduanya sama-sama belum cukup.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!