Aku sering bertanya-tanya tentang hal yang sebenarnya sederhana, tapi rasanya selalu berputar menjadi labirin panjang di kepalaku,
apakah dia juga merindukanku seperti aku merindukannya? Pertanyaan itu muncul pelan-pelan, seperti kabut yang datang tanpa suara, lalu menetap terlalu lama. Tidak ada momen dramatis yang memicunya. Ia hadir begitu saja, di sela percakapan singkat, di antara jeda pesan yang tak segera dibalas, atau di detik-detik hening setelah kami berpisah. Dan sejak itu, pertanyaan itu seperti memilih tinggal, menempati ruang paling sunyi di pikiranku.
Aku tidak yakin. Benar-benar tidak yakin. Bahkan ketika mencoba meyakinkan diri sendiri, selalu ada suara kecil yang memotong di tengah kalimat, mengatakan bahwa mungkin semua ini hanya sepihak. Rasanya seperti déjà vu yang terlalu familiar. Perasaan mencintai ini terasa seperti pola lama yang kembali berulang, cerita yang pernah terjadi dengan tokoh berbeda tapi alur yang sama. Aku seperti seseorang yang menonton ulang film lama dan sudah tahu bagaimana akhir ceritanya, tapi tetap duduk menunggu dengan harapan kecil bahwa kali ini mungkin ending-nya berubah.
Kadang aku merasa aku terlalu pandai mendramatisir perasaan. Aku bisa membuat detik biasa terasa seperti adegan penting, membuat tatapan singkat terasa seperti janji, membuat kebetulan kecil terasa seperti takdir. Dalam kepalaku, hal-hal kecil berkembang menjadi kemungkinan-kemungkinan besar. Aku membayangkan bahwa mungkin ia merasakan getaran yang sama, merasakan degup yang sama, menyimpan rindu yang sama. Padahal, di dunia nyata, tidak ada bukti yang benar-benar pasti. Hanya asumsi yang tumbuh subur karena aku membiarkannya tumbuh.
Dan yang paling aneh, aku sadar akan semua itu. Aku tahu kemungkinan besar perasaan ini hanya hidup di satu sisi. Aku tahu aku sering menciptakan skenario sendiri, menulis dialog sendiri, bahkan menambahkan musik latar yang hanya bisa kudengar. Tapi kesadaran itu tidak otomatis membuatku berhenti. Sebaliknya, aku kadang justru menikmati prosesnya. Ada sensasi mendebarkan yang sulit dijelaskan ketika bertemu dengannya, seperti menunggu adegan favorit dalam film yang sudah dihafal. Degup jantung yang terlalu cepat, kalimat yang tiba-tiba terasa sulit disusun, dan waktu yang bergerak aneh, kadang terlalu cepat, kadang terlalu lambat.
Momen-momen kecil itu terasa seperti hadiah yang kubuka sendirian. Tidak perlu konfirmasi, tidak perlu kepastian. Hanya perasaan hangat yang datang dan pergi tanpa permisi. Aku tahu ini mungkin hanya ilusi, tapi ilusi yang terasa nyata seringkali lebih mudah dinikmati daripada kenyataan yang terlalu datar. Jadi aku membiarkan diriku larut, walau hanya sebentar.
Di balik semua itu, ada kesadaran yang lebih dalam dan lebih sunyi, mungkin memang tidak ada orang lain yang mencintaiku seperti aku mencintai mereka. Pikiran itu tidak datang sebagai tragedi besar, melainkan sebagai bisikan pelan yang muncul berulang-ulang. Karena itulah aku sering berandai-andai. Membayangkan kemungkinan bahwa seseorang diam-diam menyukaiku, merindukanku, atau setidaknya memikirkanku sesekali. Imajinasi itu menjadi tempat singgah yang nyaman, tempat di mana harapan boleh hidup tanpa harus diuji.
Dan mungkin, aku tidak benar-benar mencari jawaban pasti. Pertanyaan tentang apakah dia merindukanku atau tidak mungkin akan tetap menjadi misteri yang kubiarkan menggantung. Sebab di antara yakin dan tidak yakin, di antara nyata dan imajinasi, ada ruang abu-abu yang entah kenapa terasa paling aman. Di sanalah perasaan ini tinggal, tidak sepenuhnya nyata, tapi juga tidak sepenuhnya palsu. Seperti mimpi yang belum ingin kubangunkan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!