Pagi ini aku terbangun dengan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku.
Apakah kemarin dia sedang menggodaku?
Aku bahkan sempat tertawa saat pertanyaan itu muncul. Bukan karena lucu, melainkan karena rasanya terlalu terlambat untuk baru memikirkannya sekarang. Semua kejadian itu sudah berlalu. Hari sudah berganti. Tapi seperti biasa, otakku bekerja dengan cara yang aneh. Ketika peristiwa sedang berlangsung, aku sering kali tidak memahami apa-apa. Baru setelah semuanya selesai, ketika suasana sudah tenang dan aku sendirian dengan pikiranku sendiri, potongan-potongan kejadian itu datang kembali dan meminta untuk ditafsirkan.
Kemarin, saat berada di dekatnya, semuanya terasa biasa saja.
Tidak ada degup jantung yang berlebihan. Tidak ada kepanikan yang membuatku kehilangan arah. Bahkan aku sempat kecewa karena merasa hari itu tidak memberikan apa-apa untuk dikenang. Aku pulang dengan perasaan datar, seolah pertemuan kami hanyalah salah satu hari biasa yang akan segera terlupakan.
Tapi ternyata tidak.
Karena pagi ini, satu demi satu adegan kecil mulai muncul kembali.
Cara dia bergerak. Cara dia muncul di tempat-tempat tertentu. Cara dia beberapa kali berada dalam jarak yang cukup dekat untuk kusadari, namun tidak cukup dekat untuk membuatku curiga saat itu.
Dan anehnya, semua itu bukan hal baru.
Aku pernah melihat gerakan-gerakan seperti itu sebelumnya.
Sering, bahkan.
Hanya saja selama ini aku menganggapnya bagian dari kebiasaannya. Bagian dari aktivitas normal yang tidak perlu dicari maknanya. Aku berusaha rasional. Berusaha tidak menghubungkan segala sesuatu dengan perasaanku sendiri. Berusaha meyakinkan diri bahwa tidak semua hal adalah kode rahasia yang harus diterjemahkan.
Tapi sekarang aku mulai bertanya-tanya.
Bagaimana jika selama ini aku memang terlalu menganggap semuanya biasa?
Bagaimana jika ada beberapa hal yang sebenarnya sengaja dilakukan, tetapi aku melewatkannya karena terlalu sibuk menjaga diri agar tidak terlihat berharap?
Aku tidak tahu.
Dan mungkin aku memang tidak akan pernah tahu.
Karena masalah terbesar dalam kisah ini adalah tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar berbicara. Tidak ada konfirmasi. Tidak ada kalimat yang bisa dijadikan pegangan. Yang ada hanya gerakan-gerakan kecil, tatapan yang cepat menghilang, dan kehadiran yang selalu terasa setengah sengaja.
Makanya aku sering terjebak dalam kebingungan seperti ini.
Di satu sisi, aku merasa ada sesuatu.
Di sisi lain, aku juga sadar bahwa perasaan suka bisa membuat seseorang melihat pola di tempat yang sebenarnya kosong.
Aku mengenal diriku cukup baik untuk mengetahui itu.
Tapi yang membuatku terus berpikir adalah karena gerakan-gerakan itu terasa terlalu konsisten untuk disebut kebetulan.
Bukan sekali dua kali.
Sudah berkali-kali.
Dan setiap kali aku mulai mengabaikannya, selalu ada kejadian lain yang membuatku kembali bertanya.
Mungkin itulah yang membuatku belum bisa benar-benar melepaskan rasa penasaran ini.
Karena aku tidak sedang mencoba memahami satu peristiwa besar. Aku sedang mencoba memahami ratusan hal kecil yang, jika berdiri sendiri, tampak biasa saja. Namun ketika disusun bersama, membentuk sesuatu yang sulit diabaikan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!