Awalnya aku ragu harus memulai semua ini. Bahkan sampai sekarang pun, kalau dipikir ulang, rasanya aku masih tidak benar-benar mengerti di titik mana semuanya mulai berubah menjadi serumit ini. Karena sejujurnya, pada awalnya tidak ada niat apa-apa. Tidak ada rencana untuk menyukai seseorang. Tidak ada keinginan untuk terlibat dalam permainan perasaan yang menggantung seperti sekarang.
Aku hanya sedang melihat sekeliling.
Sesederhana itu.
Kadang ketika suasana terlalu sunyi atau pikiranku terlalu penuh, aku memang suka memperhatikan sekitar. Melihat orang lalu-lalang. Memerhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Bukan karena penasaran pada seseorang, bukan pula sedang mencari perhatian. Hanya kebiasaan kecil untuk mengalihkan isi kepala dari kebisingannya sendiri.
Lalu di tengah kebiasaan itu, aku melihatnya.
Atau lebih tepatnya, aku merasa sedang dilihat.
Ada sorot mata yang tertangkap sesaat ketika aku tanpa sengaja mengangkat pandangan. Dan anehnya, setiap kali aku menyadarinya, dia selalu cepat-cepat memalingkan wajah. Seolah memang tidak ingin ketahuan sedang melihat ke arahku.
Awalnya aku tidak terlalu memikirkan itu.
Manusia memang kadang saling tidak sengaja bertatapan. Itu biasa. Aku mencoba menganggap semuanya normal. Tapi yang membuatku mulai bingung adalah karena kejadian itu terus berulang.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu berkali-kali setelahnya.
Hari demi hari berjalan, dan aku masih melihat hal yang sama. Bahkan mungkin lebih dari sebulan. Setiap kali aku sedang memandang sekitar tanpa tujuan, entah kenapa mataku selalu menemukan sorot mata itu lagi. Dan setiap kali pula reaksinya tetap sama: cepat-cepat berpaling seakan tidak terjadi apa-apa.
Lucunya, justru kepura-puraan itu yang membuat semuanya terasa mencurigakan.
Aku mulai sadar bahwa ini bukan lagi sekadar kebetulan kecil yang terjadi sekali dua kali. Ada sesuatu yang terlalu sering terulang untuk disebut tidak sengaja. Tapi aku juga belum cukup berani untuk mengartikannya lebih jauh. Jadi aku memilih diam. Berpura-pura tidak sadar. Meski diam-diam aku mulai menunggu momen-momen itu terjadi lagi.
Dan mungkin, tanpa kusadari, di situlah semuanya mulai berubah.
Karena setelah itu, aku merasa dia semakin sering berada di sekitarku. Bukan mendekat secara terang-terangan, tapi seperti sengaja muncul dalam radius pandanganku. Kadang tiba-tiba lewat di depanku. Kadang berdiri di tempat yang mudah kulihat. Kadang seperti mencari alasan kecil agar keberadaannya terasa.
Hal-hal kecil yang sebenarnya bisa saja tidak berarti apa-apa.
Tapi masalahnya, itu terjadi terlalu sering.
Dan aku, yang awalnya sama sekali tidak tertarik, perlahan mulai terbawa arus. Aku mulai sadar kapan dia datang. Mulai mengenali kebiasaannya. Mulai hafal cara dia berpura-pura biasa saja. Bahkan tanpa sadar, aku mulai beberapa kali mencari keberadaannya juga.
Di titik itu aku mulai panik sendiri.
Karena aku tahu, aku bukan tipe orang yang mudah tertarik pada seseorang. Aku bahkan sering menjaga jarak dari banyak hal agar tidak terlalu terlibat secara emosional. Tapi entah kenapa, kali ini aku terlambat sadar bahwa aku sudah terlalu jauh memperhatikannya.
Dan sekarang semuanya jadi rumit.
Yang awalnya hanya sekadar melihat sekeliling, berubah menjadi kebiasaan menunggu seseorang muncul di depan pandangan. Yang awalnya hanya kebetulan saling bertatapan, berubah menjadi rasa penasaran yang terus tumbuh diam-diam. Aku jadi sering melirik pintu masuk. Jadi hafal jam kedatangannya. Jadi memikirkan kenapa dia tidak muncul hari ini.
Padahal dulu aku bahkan tidak peduli.
Kadang aku ingin kembali ke awal, ke masa ketika semua ini masih terasa biasa saja. Ketika aku masih bisa melihat sekeliling tanpa berharap menemukan sorot mata tertentu di antara keramaian.
Tapi semuanya sudah terlanjur berubah.
Dan yang paling membuatku bingung adalah, aku bahkan tidak tahu apakah semua ini nyata, atau hanya pikiranku sendiri yang terlalu jauh menafsirkan kebetulan-kebetulan kecil menjadi sesuatu yang lebih besar.
Namun jika memang hanya kebetulan, kenapa sampai sekarang aku masih mengingat cara dia buru-buru memalingkan wajah setiap kali ketahuan melihatku?
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!