Kadang aku merasa ingin menutup buku ini. Menarik garis tebal di halaman terakhir, memberi judul “selesai”, lalu meletakkannya rapi di rak kenangan seperti cerita-cerita lain yang pernah gagal tumbuh. Keinginan itu datang tiba-tiba, biasanya di malam hari, saat suasana terlalu sunyi dan pikiranku terlalu gaduh. Aku membayangkan betapa leganya jika semuanya jelas, tidak ada lagi menebak-nebak, tidak ada lagi menunggu sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan. Hanya keheningan yang jujur, yang mungkin menyakitkan di awal, tapi setidaknya tidak membingungkan.
Tapi anehnya, setiap kali aku hampir sampai pada keputusan itu, ada bagian lain dalam diriku yang diam-diam menahan tanganku. Bagian yang berbisik pelan, jangan dulu. Belum sekarang. Seolah-olah ketidakjelasan ini, yang sering membuatku lelah, justru menjadi sesuatu yang diam-diam ingin kupelihara. Seperti luka kecil yang tidak kunjung sembuh karena aku sendiri yang enggan berhenti menyentuhnya.
Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang ingin keluar dari kebingungan, tapi di saat yang sama takut kehilangan kebingungan itu? Namun begitulah rasanya. Ketidakjelasan ini seperti ruang abu-abu yang memberiku kebebasan untuk berimajinasi. Selama tidak ada jawaban, semua kemungkinan masih hidup. Selama tidak ada kepastian, aku masih boleh berharap, meski hanya sedikit, meski hanya diam-diam.
Padahal, jika mau jujur, aku merasa semuanya sudah dijawab sejak lama. Pesan yang tidak pernah dibalas itu seperti pintu yang ditutup pelan-pelan, tanpa suara, tanpa penjelasan. Tidak ada kata “tidak”, tapi juga tidak ada tanda “iya”. Dan entah kenapa, aku memilih menerjemahkannya sebagai penolakan. Mungkin karena lebih mudah begitu. Lebih aman menganggap semuanya selesai daripada berharap terlalu jauh.
Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku sudah ditolak, bahwa semuanya tidak mungkin. Tapi di saat yang sama, aku masih memperhatikan kehadirannya di ruangan yang sama. Masih mencatat kebiasaan kecilnya tanpa sengaja. Masih merasakan degup yang sama ketika jarak kami terlalu dekat. Jika benar aku sudah menerima penolakan itu sepenuhnya, seharusnya semuanya tidak terasa sehidup ini.
Kadang aku bertanya, kenapa harus aku yang memperjelas sesuatu yang bahkan dia sendiri tampak ragu? Aku tidak merasa ragu dengan perasaanku. Aku tahu aku menyukainya, sederhana, jelas, tanpa perlu banyak pembelaan. Tapi dia?
Dia seperti berdiri di tempat yang tidak bisa kubaca. Kadang mendekat, kadang menghilang. Kadang terasa hadir, kadang seperti tidak pernah ada. Bagaimana mungkin aku diminta mengambil langkah maju jika arah jalannya saja tidak terlihat?
Lalu aku kembali bersembunyi di balik logika yang terasa masuk akal, untuk apa memperjelas sesuatu yang dia sendiri tidak berani pastikan? Untuk apa menanyakan jawaban yang mungkin hanya akan mengukuhkan hal yang sudah kutakuti sejak awal? Bukankah lebih mudah membiarkan semuanya tetap samar, tetap menggantung di udara, tanpa harus jatuh ke tanah sebagai kenyataan?
Dan di titik itu, aku sadar, mungkin aku tidak benar-benar ingin mengakhiri ketidakjelasan ini. Aku hanya ingin berhenti merasa lelah karenanya. Dua hal yang terdengar mirip, tapi ternyata sangat berbeda. Karena mengakhiri berarti kehilangan seluruh kemungkinan. Sementara bertahan dalam kebingungan berarti masih ada ruang kecil untuk bermimpi, meski aku tahu ruang itu perlahan semakin sempit.
Jadi aku tetap di sini, berdiri di antara keinginan untuk selesai dan ketakutan untuk benar-benar selesai. Mengulang pertanyaan yang sama dengan jawaban yang selalu berubah. Seolah-olah waktu bisa menunda keputusan selamanya, seolah-olah cerita yang tidak pernah dimulai ini tidak perlu benar-benar diakhiri.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!