Skip to main content

Berani di Kepala, dan Tetap Gemetar di Dunia Nyata


Ini yang biasanya kulakukan ketika di rumah sendirian. Saat kamar sunyi, lampu redup, dan tak ada siapa-siapa yang menertawakan imajinasiku. Aku membuat banyak skenario. Adegan-adegan kecil yang kurancang dengan begitu rapi, seperti sutradara yang terlalu ambisius untuk sebuah cerita yang bahkan belum dimulai.

Di kepalaku, aku tahu harus berkata apa. Kalimat pembuka yang ringan, sapaan yang santai, bahkan lelucon kecil untuk mencairkan suasana. Aku membayangkan ia tersenyum, lalu membalas dengan nada yang tak kalah hangat. Percakapan mengalir, tidak canggung, tidak terbata-bata. Kami berdiri berhadapan tanpa jarak yang terlalu kaku. Bahkan dalam beberapa versi, aku bisa menatap matanya cukup lama tanpa merasa ingin melarikan diri.

Semuanya terasa mungkin ketika hanya aku dan dinding kamar yang menjadi saksi.

Tapi kenyataan selalu berbeda.

Ketika benar-benar bertemu dengannya, semua naskah itu mendadak hilang. Seperti file yang terhapus sebelum sempat disimpan. Otakku kosong. Jantungku bekerja terlalu keras, seolah ingin mengambil alih semua fungsi tubuh. Aku bahkan tak berani menatap matanya lebih dari satu detik. Pandanganku selalu mencari alasan untuk beralih, ke lantai, ke dinding, ke orang lain yang kebetulan lewat.

Selemah itu aku di hadapannya.

Padahal di rumah, aku merasa begitu siap. Begitu yakin. Seolah-olah hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusi semua rencana yang sudah kususun. Tapi ketika waktu itu benar-benar datang, aku justru membeku. Bukan karena tak punya kata, melainkan karena terlalu banyak kata yang saling bertabrakan di dalam kepala.

Kadang aku jadi membenci diriku sendiri dalam versi imajinasi itu. Versi yang terlalu berani, terlalu lancar, terlalu mudah. Ia membuatku merasa seperti penipu bagi diriku sendiri. Karena aku tahu, ketika berdiri di depan orangnya langsung, aku tidak sekuat itu. Aku hanyalah seseorang yang grogi, yang wajahnya sulit menyembunyikan rasa, yang tubuhnya kaku seperti tak tahu harus berdiri dengan cara apa.

Dan ironisnya, semakin sering aku berlatih dalam pikiran, semakin besar pula jurang antara imajinasi dan kenyataan. Seolah-olah skenario itu hanya mempertegas betapa aku tak mampu menjalankannya.

Aku kadang bertanya, kenapa bisa begini? Kenapa untuk sekadar menyapa saja terasa seperti mendaki tebing yang licin? Kenapa untuk sekadar berkata “hai” secara langsung terasa jauh lebih sulit dibanding mengirimkannya lewat pesan?

Mungkin karena di dunia nyata, ada tatapan. Ada jeda. Ada kemungkinan ditolak yang tak bisa kuhapus dengan menutup mata. Di kepalaku, semua bisa kuatur. Di hadapannya, aku tak punya kendali apa-apa.

Dan yang paling menyebalkan, aku tahu semua ini bukan tentang dia sepenuhnya. Ini tentang keberanianku yang selalu setengah-setengah. Tentang rasa suka yang tumbuh tapi tak pernah benar-benar kuberi ruang untuk berdiri tegak.

Setiap kali aku gagal menjalankan skenario itu, ada sedikit rasa kecewa yang menempel. Bukan padanya, tapi pada diriku sendiri. Karena aku tahu, kesempatan mungkin tidak datang dua kali dengan bentuk yang sama. Dan aku selalu membiarkannya lewat begitu saja, hanya karena aku terlalu takut pada detak jantungku sendiri.

Jadi malam-malam berikutnya, aku akan kembali membuat skenario baru. Versi yang lebih sederhana, mungkin. Versi yang tidak terlalu ambisius. Tapi entah sampai kapan aku akan terus berani di kepala, dan tetap gemetar di dunia nyata.

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Kemarin Twitter heboh banget dengan terbongkarnya pemilk akun @poconggg. Siapa sih yang gak kenal poconggg, dia adalah hantu yang tidak biasa, hantu yang seharusnya bertugas menghantui orang, menakut-nakutin orang, ternyata malah paling sering dipermainkan orang. Followernya mencapai ribuan, padahal tidak following siapa pun. Beberapa kali berhasil bikin TT di twitter karena ulanhnya, dan masih banyak lagi.  Malang bener nasib dia. Meski nasibnya sesial itu, sekarang ini dia malah lebih sial lagi karena akun Twitternya terbongkar. Iya, kemaren ada orang yang sakit hati ama @poconggg dan ngebongkar siapa dia sebenarnya. Dulu sih memang pengen tahu yang sebenarnya, siapakah pemilik akun @poconggg. Melihat tweetnya yang lucu-lucu dan menggemaskan, banyak yang ngira kalo pemiliknya adalah penulis buku, Raditya Dika. Tapi secara tegas dia ngebantah, kalo dia adalah pemilik akun @poconggg. Tapi semalem, nggak tau gimana mulainya, ada akun yang ngebongkar siapa @poconggg sebe...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...