Skip to main content

Berhenti Mengikuti


Aku melakukannya tanpa banyak upacara. Tanpa drama. Tanpa pengumuman dalam hati. Hanya satu gerakan kecil, membuka profilnya, melihat tombol yang selama ini bertuliskan “mengikuti”, lalu menekannya hingga kembali menjadi netral. Selesai. Sesederhana itu.

Aku menghapus statusku sebagai pengikutnya.

Bukan karena marah. Bukan juga karena ingin membuatnya sadar atau memancing reaksi. Kalau pun ada yang tersisa, itu lebih mirip lelah daripada kecewa. Lelah menunggu balasan yang tak kunjung datang setelah pesan terakhirku. Lelah menebak-nebak arti diamnya. Lelah menjadi orang yang selalu lebih dulu bergerak, sementara yang lain tetap berdiri di tempat.

Pesanku sudah dibaca. Tanda kecil itu masih tertera jelas. Tapi setelah itu, sunyi. Tak ada satu huruf pun yang kembali. Dan dua hari terasa cukup untuk membuatku sadar bahwa mungkin aku sedang berbicara pada ruang kosong.

Padahal, jauh di dalam hati, aku masih yakin ini bukan sepenuhnya sepihak. Ada tatapan-tatapan yang dulu terasa terlalu jelas untuk disebut kebetulan. Ada cara dia berada di sekitarku yang tak pernah benar-benar biasa. Ada gerak-gerik kecil yang membuatku percaya bahwa aku tidak sendirian dalam rasa ini.

Tapi mungkin aku salah menafsirkan.

Atau mungkin dia tak pernah berniat sejauh yang kupikirkan.

Dan di titik itulah aku merasa capek. Bukan karena tidak dibalas. Bukan karena tidak dianggap. Tapi karena terus-menerus berada di wilayah abu-abu yang tak punya nama. Wilayah yang terlalu dekat untuk disebut asing, tapi terlalu jauh untuk disebut nyata.

Menghapus status mengikuti itu seperti menarik sedikit diriku kembali. Bukan menjauh sepenuhnya, hanya mengurangi intensitas. Seolah aku berkata pada diri sendiri, “Cukup dulu.” Cukup memantau. Cukup berharap. Cukup mencari tanda-tanda di setiap unggahan.

Namun anehnya, setelah kulakukan, hatiku tidak serta-merta terasa ringan.

Justru ada ruang kosong yang tiba-tiba lebih terasa. Seperti sesuatu yang kupotong sendiri, padahal aku masih ingin memegangnya. Aku bilang pada diriku bahwa ini hanya bentuk menjaga harga diri. Bentuk mengembalikan keseimbangan. Tapi di sela-sela keyakinan itu, ada suara kecil yang berbisik, atau ini hanya caramu kabur sebelum benar-benar ditolak?

Aku tidak tahu.

Yang jelas, aku tidak ingin lagi larut terlalu dalam pada sesuatu yang bahkan belum punya bentuk. Aku tidak ingin setiap notifikasi membuatku berdebar. Tidak ingin setiap keheningan membuatku overthinking. Aku ingin berdiri lebih tegak, meski rasanya belum sepenuhnya siap.

Mungkin ini memang cinta sepihak. Mungkin juga bukan. Tapi jika memang hanya aku yang berjuang menjaga nyala kecil ini, mungkin sudah waktunya aku berhenti meniupnya sendirian.

Bukan karena tak peduli.

Hanya karena aku lelah berharap tanpa arah.

Comments

Popular posts from this blog

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...