Aku melakukannya tanpa banyak upacara. Tanpa drama. Tanpa pengumuman dalam hati. Hanya satu gerakan kecil, membuka profilnya, melihat tombol yang selama ini bertuliskan “mengikuti”, lalu menekannya hingga kembali menjadi netral. Selesai. Sesederhana itu.
Aku menghapus statusku sebagai pengikutnya.
Bukan karena marah. Bukan juga karena ingin membuatnya sadar atau memancing reaksi. Kalau pun ada yang tersisa, itu lebih mirip lelah daripada kecewa. Lelah menunggu balasan yang tak kunjung datang setelah pesan terakhirku. Lelah menebak-nebak arti diamnya. Lelah menjadi orang yang selalu lebih dulu bergerak, sementara yang lain tetap berdiri di tempat.
Pesanku sudah dibaca. Tanda kecil itu masih tertera jelas. Tapi setelah itu, sunyi. Tak ada satu huruf pun yang kembali. Dan dua hari terasa cukup untuk membuatku sadar bahwa mungkin aku sedang berbicara pada ruang kosong.
Padahal, jauh di dalam hati, aku masih yakin ini bukan sepenuhnya sepihak. Ada tatapan-tatapan yang dulu terasa terlalu jelas untuk disebut kebetulan. Ada cara dia berada di sekitarku yang tak pernah benar-benar biasa. Ada gerak-gerik kecil yang membuatku percaya bahwa aku tidak sendirian dalam rasa ini.
Tapi mungkin aku salah menafsirkan.
Atau mungkin dia tak pernah berniat sejauh yang kupikirkan.
Dan di titik itulah aku merasa capek. Bukan karena tidak dibalas. Bukan karena tidak dianggap. Tapi karena terus-menerus berada di wilayah abu-abu yang tak punya nama. Wilayah yang terlalu dekat untuk disebut asing, tapi terlalu jauh untuk disebut nyata.
Menghapus status mengikuti itu seperti menarik sedikit diriku kembali. Bukan menjauh sepenuhnya, hanya mengurangi intensitas. Seolah aku berkata pada diri sendiri, “Cukup dulu.” Cukup memantau. Cukup berharap. Cukup mencari tanda-tanda di setiap unggahan.
Namun anehnya, setelah kulakukan, hatiku tidak serta-merta terasa ringan.
Justru ada ruang kosong yang tiba-tiba lebih terasa. Seperti sesuatu yang kupotong sendiri, padahal aku masih ingin memegangnya. Aku bilang pada diriku bahwa ini hanya bentuk menjaga harga diri. Bentuk mengembalikan keseimbangan. Tapi di sela-sela keyakinan itu, ada suara kecil yang berbisik, atau ini hanya caramu kabur sebelum benar-benar ditolak?
Aku tidak tahu.
Yang jelas, aku tidak ingin lagi larut terlalu dalam pada sesuatu yang bahkan belum punya bentuk. Aku tidak ingin setiap notifikasi membuatku berdebar. Tidak ingin setiap keheningan membuatku overthinking. Aku ingin berdiri lebih tegak, meski rasanya belum sepenuhnya siap.
Mungkin ini memang cinta sepihak. Mungkin juga bukan. Tapi jika memang hanya aku yang berjuang menjaga nyala kecil ini, mungkin sudah waktunya aku berhenti meniupnya sendirian.
Bukan karena tak peduli.
Hanya karena aku lelah berharap tanpa arah.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!