Setiap kali selesai bertemu dengannya, pikiranku seperti mesin yang tak punya tombol mati. Selalu ada rekaman ulang yang diputar berkali-kali sebelum tidur. Cara dia berdiri tak jauh dariku. Cara dia seperti sengaja melintas lebih dekat dari biasanya. Cara tatapannya terasa setengah berani, setengah menunggu. Dan seperti biasa, aku menyimpulkan dengan penuh keyakinan, dia tertarik. Dia hanya gengsi untuk memulai lebih dulu.
Keyakinan itu biasanya terasa bulat di sore hari. Terasa masuk akal. Bahkan terasa manis. Aku membiarkan diriku larut dalam kemungkinan-kemungkinan yang kususun rapi. Seolah-olah aku bisa membaca maksudnya dari jarak beberapa langkah. Seolah-olah aku tahu isi kepalanya hanya dari bahasa tubuh yang mungkin saja biasa.
Tapi malam selalu lebih jujur daripada siang.
Begitu suasana sunyi dan pikiranku mengendap, keyakinan tadi mulai retak. Bagaimana kalau aku salah tafsir? Bagaimana kalau semua gerak-geriknya yang kubaca sebagai kode hanyalah kebetulan yang kubesar-besarkan? Bagaimana kalau dia memang seperti itu pada semua orang, dan aku saja yang terlalu haus makna?
Pertanyaan itu berputar-putar tanpa akhir. Siang memberiku harapan. Malam merenggutnya kembali. Lalu besoknya aku mengulang pola yang sama, seperti lingkaran yang tak pernah menemukan ujung.
Ada masa ketika aku mencoba menyudahi semuanya. Dua hari penuh aku bersikap “cut loss”. Aku tidak memberi celah. Tidak memberi tatapan tambahan. Tidak memberi ruang untuk permainan kecil itu berkembang. Aku menahan diri untuk tidak terlihat menunggu. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa berhenti. Bahwa aku tidak bergantung pada sorot matanya untuk menjalani hari.
Dan anehnya, dua hari itu terasa hambar.
Bukan karena dia melakukan sesuatu. Justru karena tidak ada apa-apa. Tidak ada adrenalin kecil ketika jarak kami tiba-tiba terlalu dekat. Tidak ada degup jantung yang datang mendadak. Tidak ada sensasi manis yang sulit dijelaskan. Hari-hariku terasa lebih lurus, lebih tenang, tapi juga lebih datar.
Di situlah aku mulai bernegosiasi dengan diriku sendiri.
Mungkin tak perlu disudahi. Mungkin cukup dinikmati saja. Toh aku tidak menuntut apa-apa darinya. Aku hanya menikmati pertunjukan kecil ini, tatapan, jarak, pura-pura tak peduli, lalu diam-diam memperhatikan. Aku mengambil bagian yang menguntungkanku, endorfin kecil yang membuat hariku terasa lebih hidup.
Aku tidak berniat menyakitinya. Aku tidak memintanya menjanjikan apa pun. Aku hanya... memanfaatkan suasana.
Dan di titik itu, rasa bersalah mulai muncul pelan-pelan.
Karena kalau memang dia benar-benar memiliki perasaan, bukankah aku sedang mempermainkannya? Aku menahan diri untuk maju, tapi juga tak benar-benar mundur. Aku membiarkannya menggantung, sementara aku menikmati sensasi yang tercipta. Seolah-olah dia adalah sumber energi tambahan untuk semangatku, bukan manusia dengan hati yang mungkin juga rapuh.
Lalu aku buru-buru membela diri.
Bukankah dia juga melakukan hal yang sama? Bukankah dia yang memulai permainan tatapan itu? Bukankah dia juga tidak pernah benar-benar jelas? Aku hanya merespons. Aku hanya mengikuti arus. Aku tidak memaksa apa pun.
Begitulah caraku menyangkal.
Aku menyebutnya “menikmati momen”, padahal mungkin aku takut menghadapi kenyataan. Aku menyebutnya “tidak mau berharap”, padahal aku tetap berharap dalam diam. Aku menyebutnya “hanya permainan kecil”, padahal aku tahu ada hati yang terlibat, termasuk hatiku sendiri.
Seberdosakah keputusanku?
Aku tidak tahu. Mungkin dosa kecil yang tak tercatat. Mungkin hanya kebingungan dua orang yang sama-sama tak berani jujur. Atau mungkin ini hanya bentuk lain dari ketakutanku sendiri, takut ditolak, takut kehilangan, takut benar-benar tahu jawabannya.
Yang jelas, setiap kali aku berkata pada diriku bahwa ini hanya permainan ringan, ada suara kecil yang berbisik, kalau memang hanya permainan, kenapa rasanya seserius ini?
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!