Harusnya kemarin aku menuliskan semua ini. Harusnya aku meluapkan semuanya saat perasaannya masih hangat dan belum berubah menjadi sesak kecil yang menggantung di dada. Tapi entah kenapa, kemarin aku tidak punya cukup tenaga untuk bercerita panjang lebar. Mood-ku terasa datar. Seperti ada sesuatu yang hilang, tapi aku sendiri malas mencarinya lebih jauh.
Mungkin karena kecewa yang terlalu kecil untuk disebut luka, tapi terlalu terasa untuk diabaikan.
Aku bahkan bingung harus mulai dari mana.
Mungkin dari hari Sabtu kemarin.
Hari itu sebenarnya aku sudah menyiapkan sedikit harapan, meski aku tahu Sabtu bukan hari yang pasti untuk bisa bertemu dengannya. Kami memang jarang berada di tempat yang sama di hari itu. Tapi tetap saja, ada bagian dalam diriku yang berharap keberuntungan kecil datang diam-diam. Setidaknya melihatnya sebentar. Setidaknya memastikan dia benar-benar ada di sana.
Karena belakangan ini, sesederhana melihatnya saja sudah cukup untuk membuat hariku terasa lebih ringan.
Jadi aku menunggu.
Beberapa kali tanpa sadar mataku mencari keberadaannya. Mencari sosok yang sebenarnya bahkan tidak pernah berjanji akan datang. Tapi semakin lama aku mencari, semakin terasa kosong hari itu. Dia tidak muncul. Tidak terlihat di sudut mana pun. Dan perlahan aku mulai sadar bahwa harapanku hari itu mungkin memang terlalu besar.
Akhirnya Sabtu lewat begitu saja.
Lalu Minggu datang.
Hari yang paling kubenci akhir-akhir ini.
Karena Minggu selalu terasa terlalu panjang. Tidak ada kemungkinan bertemu. Tidak ada momen kecil yang bisa dinanti. Yang tersisa hanya pikiranku sendiri yang sibuk mengulang-ngulang potongan kejadian selama seminggu terakhir. Aku seperti memutar ulang adegan yang sama di kepala berkali-kali, cara dia melihatku, cara dia berpura-pura tidak peduli, cara dia beberapa kali mencoba terlihat di dekatku.
Lucu ya, bagaimana manusia bisa hidup dari serpihan-serpihan kecil seperti itu.
Dan selama hari Minggu itu, aku bertahan hanya dengan kenangan kecil yang sebenarnya bahkan belum tentu berarti apa-apa.
Makanya aku menunggu Senin dengan terlalu banyak harapan.
Sejak Jumat sebelumnya, aku sudah membayangkan bahwa Senin akan menjadi hari yang menyenangkan. Aku membayangkan akan ada momen-momen absurd kecil yang biasanya berhasil membuatku diam-diam tersenyum sendiri. Aku membayangkan dia akan kembali bertingkah aneh seperti biasanya. Aku membayangkan akan ada sesuatu yang bisa kusimpan lagi untuk bertahan sampai minggu berikutnya.
Tapi ternyata tidak.
Senin datang dengan biasa saja.
Aku memang melihatnya. Beberapa kali. Tapi rasanya berbeda. Sulit sekali mendapatkan momen seperti sebelumnya. Bahkan ketika aku mencoba mencari-cari celah kecil untuk memperhatikannya, semuanya terasa susah. Dia lebih banyak bersama teman-temannya. Lebih menjaga sikapnya. Lebih hati-hati dengan tingkahnya.
Dan aku tahu kenapa.
Kalau dia sedang sendiri, biasanya dia jauh lebih mudah terbaca. Tapi ketika bersama teman-temannya, dia selalu berubah jadi lebih halus. Lebih rapi menyembunyikan semua gerak-geriknya. Seolah dia takut ada yang menyadari sesuatu.
Akibatnya, aku seperti kehilangan “momen-momen kecil” yang biasanya diam-diam kunantikan itu.
Ada beberapa hal kecil, tentu saja. Tapi tidak cukup kuat untuk membuatku berdebar seperti biasanya. Tidak cukup untuk menghidupkan kembali antusiasme yang sudah kubangun sejak beberapa hari sebelumnya.
Dan di situlah aku mulai merasa kecewa pada diriku sendiri.
Karena ternyata aku sudah menggantungkan terlalu banyak harapan pada sesuatu yang bahkan tidak jelas arahnya. Aku menunggu Senin seperti anak kecil menunggu hadiah, padahal tidak pernah ada janji apa pun bahwa aku akan mendapatkan sesuatu.
Sungguh harapan yang sia-sia.
Tapi yang paling menyedihkan mungkin bukan soal harapannya yang gagal. Melainkan kenyataan bahwa aku tetap akan mengulang semuanya lagi. Tetap menunggu hari berikutnya. Tetap mencari momen-momen kecil itu lagi. Tetap menggantungkan semangatku pada seseorang yang bahkan belum tentu memikirkan aku sebesar aku memikirkannya.
Dan meski aku sadar semua itu terasa bodoh, anehnya aku masih belum bisa berhenti berharap.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!