Senin akhirnya datang, seperti janji yang selalu kutunggu tapi juga selalu kutakuti. Ada perasaan aneh yang menggantung sejak pagi, semacam tekad yang setengah matang, hari ini aku tidak akan membiarkan perasaanku berlarian terlalu jauh. Aku ingin mencoba sesuatu yang baru, menarik sedikit jarak tanpa benar-benar pergi.
Lucunya, justru hari itu kita punya begitu banyak waktu untuk berada di ruang yang sama. Terlalu banyak, bahkan. Seolah semesta ingin menguji seberapa kuat aku bisa berpura-pura biasa saja. Dulu, refleks pertamaku selalu mencari keberadaannya. Sekarang aku mencoba mengubah kebiasaan itu. Bukan berarti aku tidak peduli, hanya berusaha menahan diri agar pandanganku tidak lagi otomatis tertuju padanya.
Aku tidak lagi mencari wajahnya. Setidaknya tidak secara terang-terangan.
Tentu saja, sekilas tetap ada. Bagaimanapun juga, kami terlalu dekat untuk benar-benar saling tak terlihat. Aku masih tahu dia berada di mana. Aku masih tahu harus mengambil posisi di mana agar tidak terus-terusan melihat aktivitasnya. Semacam radar diam yang tetap menyala, meski aku berpura-pura mematikannya.
Dua kali aku melihat warna navy itu hari ini. Baju yang sama, baru 2 kali ini dipakai atau mungkin aku saja yang terlalu mengingat detail kecil. Lalu rambutnya, dari potongan pandang yang singkat, sepertinya baru dipangkas. Terlihat lebih segar, lebih rapi. Anehnya, pikiranku sempat berkomentar sendiri bahwa aku masih lebih menyukai gaya rambutnya yang dikuncir. Pikiran yang datang begitu saja, tanpa diundang, seperti kebiasaan lama yang lupa cara berhenti.
Aku cepat-cepat menepisnya.
Beberapa kali aku merasa dia mencoba menarik perhatianku. Atau mungkin itu hanya perasaanku yang masih terlalu peka. Gerakan kecil, posisi yang tiba-tiba berada di jalur pandang, keberadaan yang terasa sengaja mendekat lalu menjauh. Dulu aku akan menyambut semua itu seperti kode rahasia. Hari ini aku memilih berpura-pura tidak melihat.
Bukan karena tidak ingin. Lebih karena takut kembali terjebak.
Sebagai gantinya, aku menenggelamkan diri dalam hal paling sederhana, permainan kecil di ponsel. Game yang bahkan tidak penting. Tidak menantang. Tidak seru. Tapi cukup efektif untuk menyita waktu kosong yang biasanya dipenuhi kebiasaan memperhatikannya. Layar kecil itu seperti tameng, perlindungan sementara agar mataku tidak lagi bebas berkeliaran.
Setiap kali ada jeda, aku kembali menatap layar. Menggeser, mengetuk, mengulang level yang sama berkali-kali. Bukan karena ingin menang, tapi karena ingin lupa. Atau setidaknya, ingin terlihat sibuk agar tidak terlihat menunggu sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan.
Hari Senin ini terasa seperti latihan menahan diri. Menahan kebiasaan lama yang diam-diam sudah menjadi rutinitas. Menahan rasa penasaran terhadap setiap geraknya yang dulu selalu terasa penting. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya biasa saja. Bahwa tidak ada yang berubah. Bahwa tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu dalam.
Tapi di sela semua usaha itu, aku masih menyadari keberadaannya. Masih tahu di mana dia berdiri, kapan dia bergerak, kapan dia lewat. Hanya saja kali ini, aku memilih tidak menoleh.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!