Kadang aku berpikir, apa pun ini, rasanya sudah terlalu aneh untuk disebut biasa. Bahkan mungkin tak masuk akal. Ada pola yang terus berulang, dan setiap kali terjadi, aku selalu berakhir menertawakan keadaan kami sendiri. Karena lucu sekali rasanya melihat dua orang yang jelas-jelas saling menyadari keberadaan masing-masing, tapi tetap bersikeras berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Saat berjauhan, kami seperti saling mencari.
Tanpa sadar mata akan menyisir ruangan, mencari sosok yang sebenarnya berusaha dihindari. Ada kegelisahan kecil ketika tidak melihat satu sama lain terlalu lama. Tapi anehnya, begitu jarak itu mendekat, kami justru berubah menjadi dua orang paling kikuk di dunia. Sama-sama menjaga ego. Sama-sama menjaga gengsi. Sama-sama takut terlihat terlalu ingin.
Dan hari ini kembali membuktikan betapa absurdnya hubungan tak bernama ini.
Aku tidak tahu siapa yang datang lebih dulu pagi tadi. Sepertinya dia. Karena ketika aku sampai, kendaraannya sudah terparkir di sana. Aku sebenarnya tidak terlalu memikirkannya sampai tiba-tiba dia muncul dan berpura-pura mengambil sesuatu dari kendaraannya tepat ketika aku datang.
Itu yang membuatku hampir tertawa.
Bukan karena tindakannya aneh, tapi karena aktingnya terlalu mudah ditebak. Kau tahu ketika seseorang berusaha terlihat biasa saja padahal terlalu sadar akan keberadaanmu? Gerakannya jadi terasa sedikit kaku, sedikit terburu-buru, seperti orang yang sedang memainkan peran tanpa cukup latihan.
Dan dia seperti itu.
Dia berpura-pura sibuk. Berpura-pura memang kebetulan sedang ada urusan di sana. Padahal waktunya terlalu pas untuk disebut kebetulan. Aku sampai harus menahan senyum sendiri karena betapa terbacanya tingkahnya. Kadang aku ingin bilang padanya bahwa dia tidak terlalu pandai menyembunyikan sesuatu.
Tapi lucunya, aku pun tidak lebih baik.
Karena setiap kali kami berjauhan, mata kami selalu punya kebiasaan buruk yang sama: mencari.
Beberapa kali tanpa sengaja kami saling bertatapan dari kejauhan. Dan setiap kali itu terjadi, reaksinya selalu sama. Cepat-cepat mengalihkan pandangan, seolah baru saja melakukan kesalahan besar. Seolah menatap terlalu lama bisa membocorkan semua rahasia yang sudah susah payah disembunyikan.
Aku sering berpikir, kenapa harus serumit ini?
Padahal kalau dipikir-pikir, menatap seseorang bukan dosa besar. Tapi entah kenapa, saat itu melibatkan dia, semuanya jadi terasa terlalu kentara. Terlalu berbahaya. Maka kami sama-sama berpura-pura sibuk setelahnya. Dia melihat ke arah lain. Aku pura-pura fokus pada hal lain. Dua orang dewasa yang tiba-tiba bertingkah seperti anak sekolah yang ketahuan menyukai teman sebangkunya.
Belum lagi soal lorong.
Tuhan tahu betapa seringnya kami harus berpapasan karena memang tidak ada jalan lain. Tapi bahkan dalam situasi sesederhana itu, kami tetap mencari cara untuk menghindar. Kadang aku yang memilih memutar lebih jauh. Kadang dia yang mendadak berhenti seolah ada sesuatu yang tertinggal. Semua dilakukan hanya agar tidak harus bersimpangan terlalu dekat.
Lucu, bukan?
Mencari saat jauh, menghindar saat dekat.
Dan yang paling membuatku gemas adalah ketika dia bersama teman-temannya. Dia selalu terlihat lebih hati-hati, tapi justru di situ tingkahnya makin terasa jelas bagiku. Beberapa kali sebelum keluar bersama mereka, dia seperti sengaja membuat dirinya terlihat. Gerakan kecil, posisi berdiri, langkah yang sedikit diperlambat, semuanya seperti kode diam-diam agar aku sadar bahwa dia ada di sana.
Dan setiap kali melihat itu, aku selalu gagal menahan senyum.
Karena hubungan ini memang tidak masuk akal.
Tidak ada pengakuan. Tidak ada percakapan berarti. Tidak ada keberanian untuk benar-benar mendekat. Tapi ada terlalu banyak kode kecil, terlalu banyak akting buruk, terlalu banyak usaha pura-pura tidak peduli yang justru membuat semuanya terasa nyata.
Dan mungkin, justru karena tak masuk akal itulah aku belum bisa berhenti memikirkannya.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!