Yang paling melelahkan dari menjauh itu bukan langkahnya, tapi berpura-pura bahwa langkah itu tidak berarti apa-apa.
Aku benar-benar mencoba mengambil jarak. Entah terasa atau tidak dalam perspektifnya, aku tak tahu. Aku hanya berusaha tidak lagi mencari keberadaannya di dalam ruangan. Tidak lagi otomatis menyapu pandangan untuk memastikan ia ada di sana. Tidak lagi sengaja memilih tempat duduk yang memungkinkan garis pandangku jatuh ke arahnya.
Meski, tentu saja, tak semuanya bisa kuhindari.
Ada momen-momen kecil yang tak bisa dikontrol, berpapasan di lorong, berdiri dalam antrean yang sama, atau sekadar menyadari suaranya di antara keramaian. Di saat-saat seperti itu, aku harus bekerja dua kali lebih keras untuk terlihat biasa saja. Wajah datar. Gestur wajar. Tertawa pada hal-hal yang memang lucu, bukan karena ia ada di sekitar.
Aku merasa seperti sedang memainkan peran sebagai diriku sendiri.
Sehari-hari aku tetap beraktivitas seperti biasa. Mengobrol dengan orang lain. Menyelesaikan pekerjaan. Masuk dan pulang tepat waktu. Tapi di dalam kepala, ada percakapan yang tak pernah benar-benar selesai. Pertanyaan yang muncul lagi dan lagi, seperti lagu yang diputar ulang tanpa sengaja.
Apakah aku terlambat merespons kodenya?
Apakah dulu, saat ia berusaha mendekat, aku terlalu dingin? Terlalu lambat menyadari? Terlalu berhati-hati sampai ia mengira aku tak tertarik?
Kadang aku membayangkan dari sudut pandangnya. Mungkin ia pernah menunggu balasan yang lebih hangat. Mungkin ia pernah berharap aku menyambut pertanyaannya dengan antusias yang setara. Tapi yang ia dapat hanya jawaban singkat, datar, aman. Lalu perlahan ia menarik diri, bukan karena tak peduli, tapi karena lelah merasa sendirian dalam usaha.
Pikiran itu berputar-putar dan tak pernah menemukan ujungnya.
Karena di sisi lain, ada kemungkinan yang lebih sederhana: mungkin semua itu memang hanya biasa saja baginya. Mungkin tak ada kode. Tak ada ambisi tersembunyi. Tak ada perasaan yang perlu direspons cepat-cepat. Mungkin aku saja yang datang terlambat pada cerita yang bahkan tak pernah dimulai.
Tapi perubahan sikapnya terasa begitu mendadak.
Dulu ada semacam dorongan dalam dirinya, ia terlihat ingin tahu, ingin mendekat, ingin membuka percakapan. Sekarang ia tampak stabil, tenang, bahkan sedikit jauh. Seolah ambisi kecil itu telah ia simpan kembali di tempat yang tak bisa kuakses.
Dan aku terjebak di tengah-tengah kemungkinan.
Jika ia benar-benar ngambek, aku tak tahu bagaimana cara memperbaikinya tanpa terlihat terlalu berharap. Jika ia memang sudah tak tertarik, aku juga tak tahu bagaimana cara berhenti memikirkan alasannya.
Yang paling jujur mungkin ini, aku takut bahwa aku datang pada perasaan ini saat ia sudah selesai dengannya.
Maka aku memilih menjauh. Bukan untuk menghukumnya, bukan untuk menguji reaksinya. Tapi untuk menyelamatkan diriku sendiri dari tafsir yang makin liar. Aku tak ingin terus-menerus membaca tanda yang mungkin tak pernah ia tulis.
Namun tetap saja, di sela-sela kesibukan yang kubuat senormal mungkin itu, ada satu bagian kecil dalam diriku yang masih bertanya, kalau saja aku sedikit lebih cepat, apakah ceritanya akan berbeda?
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!