Aku menyebut hari itu “Kamis Manis”. Bukan karena ada sesuatu yang benar-benar besar terjadi, bukan juga karena akhirnya ada percakapan panjang yang memecah semua kebisuan kami. Tidak ada itu. Semuanya tetap berjalan seperti biasa, orang-orang datang dan pergi, pekerjaan berjalan, suara-suara kecil memenuhi ruangan. Tapi di tengah semua hal biasa itu, ada satu hal yang membuat hari itu terasa berbeda, senyumnya.
Aku melihatnya beberapa kali tersenyum hari itu. Dan entah kenapa, senyumnya terasa lebih manis dari biasanya. Sampai beberapa kali aku harus mengumpat pelan dalam hati karena sadar betapa mudahnya aku goyah hanya karena hal sesederhana itu. Rasanya menyebalkan ketika mengetahui bahwa seseorang bisa mengacaukan fokusmu hanya dengan satu lengkung kecil di wajahnya.
Dan yang lebih menyebalkan lagi, aku tahu persis sejak kapan semuanya dimulai.
Aku masih ingat pertama kali aku benar-benar menyadari keberadaannya. Bukan karena dia melakukan sesuatu yang besar. Justru sebaliknya, karena sesuatu yang sederhana tapi entah bagaimana menempel di kepalaku terlalu lama. Waktu itu dia sedang berada di ruangan yang sama, biasa saja, bercampur dengan suasana yang juga biasa saja. Tapi tiba-tiba aku sadar satu hal, dia terlalu manis untuk diabaikan.
Kesadaran itu datang begitu saja, tanpa aba-aba.
Sejak saat itu, aku mulai memperhatikannya lebih sering dari yang seharusnya. Dan hari Kamis kemarin seperti mengulang kembali perasaan pertama itu. Cara dia tersenyum. Cara dia menoleh. Cara dia seperti sengaja berada di jalur pandangku, tapi tetap berpura-pura semua itu kebetulan.
Aku tahu mungkin pikiranku terlalu jauh. Tapi semakin hari, semakin sulit bagiku untuk menyebut semua tingkahnya itu sebagai sesuatu yang biasa. Ada gerakan-gerakan kecil yang terlalu sengaja. Terlalu rapi untuk disebut tidak punya maksud. Kadang dia seperti sangat percaya diri saat mencoba menarik perhatianku, tapi di waktu lain terlihat ragu dengan dirinya sendiri, seperti takut ketahuan sedang melakukan sesuatu.
Dan justru keraguan itu yang membuat semuanya terasa nyata.
Karena kalau benar-benar tidak ada apa-apa, kenapa harus hati-hati? Kenapa harus tetap menjaga diri dari tatapan teman-temannya? Kenapa setiap kali mencoba terlihat dekat, dia tetap bermain aman seolah tidak ingin siapa pun sadar?
Aku memperhatikan semua itu diam-diam.
Cara dia masih berusaha tampak biasa di depan orang lain. Cara dia membuat semuanya terlihat natural, padahal bagiku terlalu kentara. Kadang aku ingin tertawa sendiri karena tingkahnya terasa seperti flirting ala pemula, setengah berani, setengah panik. Tapi justru karena canggung itulah aku sulit mengabaikannya.
Dan mungkin yang paling jujur untuk kuakui adalah, aku menikmati itu.
Aku menikmati permainan kecil ini lebih dari yang seharusnya. Menunggu tingkah absurd berikutnya. Menunggu momen ketika dia mencoba mencuri perhatian dengan cara yang menurutnya halus, padahal aku bisa melihatnya dengan jelas.
Aneh, ya.
Padahal tidak ada kepastian apa-apa. Tidak ada hubungan yang benar-benar berjalan. Tidak ada pengakuan. Tapi aku tetap menunggu hari demi hari hanya untuk kemungkinan kecil itu. Untuk senyum yang mungkin tidak sengaja. Untuk gerakan kecil yang mungkin hanya kuberi arti terlalu dalam.
Dan Kamis itu, dengan semua senyumnya yang terlalu manis, kembali mengingatkanku kenapa aku belum benar-benar bisa pergi dari perasaan ini.
Karena di balik semua kebingungan dan penyangkalan, ada bagian dalam diriku yang diam-diam selalu menunggu pertunjukan kecil itu dimulai lagi.
Dan sayangnya, dia terlalu pandai membuatku tetap menunggu.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!