Belakangan ini aku sering duduk sendirian terlalu lama, memikirkan banyak hal yang sebenarnya tidak ingin kupikirkan. Pikiran itu datang pelan-pelan, biasanya saat malam mulai sepi dan tidak ada lagi suara yang bisa mengalihkan isi kepala. Dari sana, semuanya seperti terbuka satu per satu, kejadian-kejadian beberapa tahun terakhir, masalah yang datang bergantian, rasa lelah yang tidak pernah benar-benar selesai, dan ketakutan-ketakutan kecil yang diam-diam tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.
Kadang aku mencoba mengingat, sejak kapan semuanya mulai terasa seberat ini.
Tapi semakin kupikirkan, rasanya semua terjadi perlahan. Tidak ada satu kejadian besar yang langsung menghancurkan segalanya. Lebih seperti tumpukan kecil yang terus bertambah tanpa sempat dibersihkan. Masalah pekerjaan. Tekanan hidup. Pikiran yang tidak pernah tenang. Perasaan gagal menghadapi banyak hal. Ditambah lagi dengan kebiasaan memendam semuanya sendiri.
Lama-lama, kepalaku terasa seperti ruangan sempit yang penuh suara.
Dan dari semua itu, yang paling melelahkan ternyata bukan sedihnya. Bukan marahnya. Tapi rasa takut yang tidak pernah benar-benar pergi.
Takut masa depan.
Takut kehilangan.
Takut gagal.
Takut menghadapi hari esok.
Bahkan kadang takut pada pikiranku sendiri.
Rasa takut itu seperti hidup bersamaku setiap hari. Ia ikut duduk saat aku bekerja, ikut berjalan saat aku sendirian, bahkan ikut tidur meski tubuhku sedang berusaha beristirahat. Ada hari-hari ketika semuanya terlihat normal dari luar, tapi di dalam kepala rasanya seperti terus bersiap menghadapi sesuatu yang buruk.
Dan semakin lama, kelelahan itu berubah menjadi pikiran yang lebih gelap.
Akhir-akhir ini, keinginan untuk bunuh diri terasa semakin sering muncul. Bukan selalu dalam bentuk rencana besar yang dramatis, tapi lebih seperti bisikan yang terus datang berulang-ulang. Kadang muncul tiba-tiba saat sedang diam. Kadang datang setelah hari yang buruk. Kadang hanya berupa pertanyaan kecil, kalau semuanya berhenti sekarang, mungkin lebih tenang ya?
Yang menakutkan, pikiran itu tidak lagi terasa asing.
Aku tahu orang-orang sering berkata bahwa hidup harus dijalani, bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Tapi ketika seseorang terlalu lama hidup bersama ketakutan, kalimat-kalimat semacam itu kadang terdengar jauh. Bukan karena tidak percaya, tapi karena kepala sudah terlalu penuh untuk menerima harapan dengan mudah.
Di tengah kekacauan pikiran itu, tiba-tiba aku kepikiran tentang umroh lagi.
Bukan sekadar perjalanan ibadah biasa. Lebih seperti keinginan untuk mencari tempat aman. Tempat di mana aku bisa berhenti sebentar dari kebisingan di dalam kepala. Aku membayangkan duduk lama setelah salat, berdoa lebih spesifik dari biasanya, menyebut ketakutan-ketakutan yang selama ini hanya kusimpan sendiri.
Mungkin aku ingin mengatakan semuanya di sana.
Tentang rasa takut yang tidak habis-habis. Tentang pikiranku yang semakin gelap. Tentang hidup yang kadang terasa terlalu berat untuk dijalani dengan tenang. Tentang diriku yang sebenarnya lelah terus-menerus bertahan.
Aku tidak tahu apakah itu akan mengubah segalanya. Aku juga tidak yakin apakah setelah pulang nanti hidup akan langsung terasa ringan. Tapi ada bagian kecil dalam diriku yang berharap, mungkin di sana aku bisa menangis lebih jujur. Mungkin di sana aku bisa merasa sedikit lebih dekat dengan harapan.
Karena saat ini, yang paling melelahkan bukan hanya keinginan untuk menghilang. Tapi kenyataan bahwa aku masih ingin hidup… hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara hidup tanpa terus dihantui ketakutan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!