Semakin lama berada di dunia kerja, aku semakin sadar bahwa yang melelahkan bukan selalu pekerjaannya. Kadang justru yang paling menguras tenaga adalah hal-hal yang tidak tertulis di jobdesk, politik kantor, permainan pengaruh, kelompok-kelompok kecil yang diam-diam menentukan siapa yang dianggap penting dan siapa yang perlahan disingkirkan.
Dan jujur saja, dunia seperti itu terasa mengerikan bagiku.
Terutama ketika kamu tidak punya “orang dalam”. Tidak punya lingkaran yang siap membelamu. Tidak pandai mengambil perhatian atasan. Tidak lihai berbasa-basi hanya demi menjaga posisi aman. Rasanya seperti hidup di habitat yang semua penghuninya berlomba mencari panggung, sementara aku justru sibuk mencari sudut yang tenang agar bisa bernapas.
Kadang aku melihat orang-orang begitu mudah masuk ke percakapan, tertawa bersama, saling mendukung di depan, lalu berubah menjadi kompetitor diam-diam di belakang. Ada yang pintar memainkan citra, ada yang tahu kapan harus mendekat kepada orang tertentu, ada juga yang sangat pandai membaca arah angin agar selalu berada di sisi yang aman.
Aku? Tidak pandai hal-hal seperti itu.
Mungkin memang ada salahku juga. Kinerja burukku. Dan.....
Sifat introvertku membuatku lebih banyak diam daripada bicara. Aku sering memilih menyendiri dibanding ikut nongkrong atau membangun kedekatan yang sebenarnya penting dalam lingkungan kerja. Bukan karena merasa lebih baik dari orang lain, tapi karena terlalu cepat lelah menghadapi keramaian sosial yang terasa penuh basa-basi.
Lama-lama aku sadar, di kantor, kemampuan bekerja saja kadang tidak cukup. Ada permainan lain yang harus dipahami. Ada dinamika yang berjalan di luar layar komputer dan meja kerja. Dan sering kali, orang yang paling tenang justru menjadi yang paling mudah tenggelam.
Di masa-masa tertentu, kondisi itu membuat pikiranku semakin gelap. Perasaan terasing itu bercampur dengan kelelahan yang sudah lama kupendam. Ditambah lagi dengan pikiran-pikiran buruk tentang hidup yang dulu pernah beberapa kali datang dan tinggal cukup lama di kepalaku. Saat semua bercampur, kantor tidak lagi terasa seperti tempat bekerja. Ia berubah menjadi panggung besar yang penuh drama, sementara aku berdiri di tengahnya seperti figuran yang tidak tahu harus mengambil peran apa.
Aku hadir, tapi rasanya tidak benar-benar ada.
Ada hari-hari ketika aku duduk di antara banyak orang namun merasa paling sendirian. Mendengar percakapan, melihat candaan, menyaksikan orang-orang membangun kedekatan satu sama lain, tapi aku seperti terpisah oleh kaca bening yang tidak terlihat.
Dan yang paling melelahkan dari keterasingan itu adalah kenyataan bahwa semuanya sering harus disembunyikan. Kita tetap datang kerja seperti biasa. Tetap menyelesaikan tugas. Tetap terlihat normal. Padahal di dalam kepala, rasanya seperti sedang bertahan agar tidak runtuh.
Kadang aku berpikir, mungkin aku memang tidak cocok dengan dunia yang terlalu penuh permainan semacam ini. Tapi di sisi lain, hidup tetap harus berjalan. Tagihan tetap ada. Tanggung jawab tetap menunggu.
Jadi untuk sekarang, aku hanya mencoba bertahan sebisanya. Menjaga diriku agar tidak sepenuhnya tenggelam di tengah panggung yang terasa asing ini. Dan mungkin, itu sudah cukup berat untuk dijalani setiap hari.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!