Akhir-akhir ini aku sering merasa hidupku seperti tidak pernah benar-benar keluar dari kata “klarifikasi.” Baru saja kupikir semuanya mulai tenang, luka lama mulai mengering, tiba-tiba muncul lagi satu hal baru yang memaksaku kembali duduk berhadapan dengan orang lain untuk menjelaskan diriku sendiri.
Dan jujur, aku lelah.
Trauma dari tahun kemarin sebenarnya belum benar-benar hilang. Sampai sekarang, ingatan tentang masa itu masih sering muncul tiba-tiba. Tentang bagaimana rasanya harus menjelaskan sesuatu dengan kepala penuh panik. Tentang bagaimana tubuh terasa gemetar bahkan sebelum percakapan dimulai. Tentang bagaimana setelah semuanya selesai pun, rasa malu dan takutnya masih tertinggal lama di dalam kepala.
Aku pikir itu sudah cukup.
Tapi sekarang, aku harus melakukannya lagi.
Entah kasus apa lagi yang kali ini dianggap sebagai masalah. Entah kesalahan apa lagi yang tanpa sadar kubuat. Rasanya seperti sejak tahun lalu aku tidak pernah berhenti membuat persoalan. Selalu ada sesuatu yang berujung pada penjelasan, pembelaan, atau tatapan orang-orang yang membuatku merasa seperti terdakwa.
Yang paling melelahkan adalah kenyataan bahwa sebenarnya aku sudah berusaha sangat hati-hati.
Aku mencoba tidak membuat kesalahan. Menjaga ucapan. Menahan diri. Menghindari konflik. Bahkan untuk sekadar menatap wajah orang lain saja, aku masih sering tidak berani terlalu lama. Ada rasa canggung dan takut yang belum benar-benar hilang sejak kejadian-kejadian sebelumnya. Namun anehnya, semakin aku berusaha tidak salah, semakin rasanya semua yang kulakukan justru dianggap salah.
Kadang aku sampai duduk sendirian memikirkan semuanya berulang-ulang.
Apakah ini memang murni kesalahanku?
Atau sebenarnya ada orang-orang yang memang sedang mencari-cari celah untuk menjatuhkanku?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala. Dan semakin dipikirkan, semakin sulit menemukan jawabannya.
Karena kalau memang ada orang yang sengaja menguliti kesalahanku, bukankah itu berarti mereka punya begitu banyak waktu dan perhatian hanya untuk memperhatikan hidupku? Rasanya aneh membayangkan seseorang sebegitu fokusnya mencari celah dari setiap langkah yang kuambil.
Tapi di sisi lain, ada juga suara kecil dalam diriku yang bertanya lebih pelan namun lebih menyakitkan, bagaimana kalau ini memang benar salahku, hanya saja aku terlalu keras kepala untuk mengakuinya?
Pertanyaan itu jauh lebih menakutkan.
Sebab kalau kesalahannya memang ada padaku, berarti aku tidak bisa lagi menyalahkan keadaan, tidak bisa lagi menyalahkan orang lain, dan tidak bisa lagi bersembunyi di balik rasa curiga.
Aku terjebak di antara dua kemungkinan yang sama-sama melelahkan.
Dan kini, aku harus kembali menghadapi proses klarifikasi itu lagi. Kembali duduk di hadapan orang-orang, kembali mendengar nada bicara yang membuat dada sesak, kembali menjelaskan diriku sendiri meski sebenarnya di dalam kepala aku masih gemetar.
Kadang aku iri pada orang-orang yang terlihat begitu mudah menghadapi konflik. Mereka bisa bicara lancar, membela diri tanpa takut, menatap mata lawan bicara tanpa ragu. Sementara aku, bahkan sebelum semuanya dimulai, energiku sudah habis duluan karena ketakutan.
Aku hanya ingin hidup tenang. Itu saja.
Tidak harus menjadi orang penting. Tidak harus selalu benar. Aku hanya ingin beberapa hari berlalu tanpa rasa takut dipanggil, tanpa rasa cemas kalau ada kesalahan baru yang tanpa sadar kubuat.
Tapi untuk sekarang, hidup rasanya masih seperti lorong panjang yang penuh suara-suara mempertanyakan siapa diriku sebenarnya, dan aku sendiri pun belum yakin bisa menjawabnya dengan tenang.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!