Semalam aku kembali bermimpi tentang ibuku. Rasanya aneh, belakangan ini ia datang lebih sering dalam mimpi, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan, atau mungkin justru ada sesuatu dalam diriku yang belum selesai melepaskannya. Mimpi itu terasa begitu nyata, seperti potongan waktu yang tiba-tiba diputar ulang tanpa peringatan.
Di mimpi itu, semuanya dimulai dengan pertengkaran. Aku tidak tahu dengan siapa. Wajahnya kabur, suaranya samar, tapi emosinya terasa sangat jelas. Kami bertengkar hebat. Kalimat demi kalimat keluar dengan nada tinggi, penuh emosi yang terasa menyesakkan. Ada rasa marah, kecewa, lelah, semuanya bercampur menjadi satu sampai rasanya kepalaku seperti dipenuhi suara yang saling bertabrakan.
Di tengah pertengkaran itu, pikiran yang dulu pernah kukenal muncul lagi, lebih baik mati saja.
Kalimat itu datang begitu saja, seperti refleks yang sudah pernah ada sebelumnya. Bukan sesuatu yang baru, bukan sesuatu yang asing. Justru terasa seperti bisikan lama yang tiba-tiba kembali menemukan jalannya.
Lalu mimpi itu berubah cepat.
Aku melihat ibuku sedang tidur. Ia terlelap, tenang, seperti tidak tersentuh oleh kekacauan yang baru saja terjadi. Pemandangan itu membuat langkahku otomatis bergerak mendekat. Ada satu hal yang tiba-tiba terasa sangat mendesak, aku ingin berbicara padanya. Aku ingin mengatakan semuanya. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah. Bahwa aku ingin mati. Bahwa aku tidak tahu harus bagaimana lagi.
Kalimat-kalimat itu sudah penuh di kepala, berdesakan, menunggu untuk keluar.
Tapi saat aku benar-benar sampai di hadapannya, semuanya berubah.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Yang keluar justru tangis. Tangis yang pecah begitu saja, tanpa izin, tanpa kontrol. Sesenggukan, berat, seperti air yang terlalu lama tertahan lalu akhirnya menemukan celah. Aku hanya menangis di hadapannya, seperti anak kecil yang tidak tahu bagaimana menjelaskan rasa sakitnya.
Dan anehnya, di dalam mimpi itu aku sadar, ini bukan pertama kalinya.
Adegan itu terasa seperti pengulangan dari masa lalu. Aku pernah melakukan hal yang sama ketika beliau masih hidup. Pernah beberapa kali menangis di pangkuannya tanpa berani mengatakan apa pun. Duduk diam, kepala tertunduk, air mata jatuh tanpa kalimat yang menyertainya.
Padahal di dalam hati, kalimatnya selalu sama, aku ingin mati.
Kalimat yang tidak pernah benar-benar terucap.
Mimpi itu terasa seperti membuka laci lama yang sudah lama tertutup. Mengingatkan bahwa ada masa ketika aku tidak tahu bagaimana menjelaskan isi kepala sendiri, bahkan kepada orang yang paling dekat. Menangis menjadi satu-satunya bahasa yang mampu kupakai, karena kata-kata terasa terlalu berat untuk dibawa keluar.
Aku tidak tahu kenapa mimpi itu datang lagi. Mungkin hanya ingatan yang mencari jalan pulang. Mungkin juga bagian dari diriku yang masih ingin duduk sebentar di pangkuan yang dulu selalu terasa aman, meski kini hanya bisa kutemui dalam mimpi.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!