Skip to main content

Menghindar, Lalu Mencari


Rabu datang dengan cara yang aneh, terlalu sunyi, terlalu kosong, seperti ada sesuatu yang sengaja dihilangkan dari rutinitas yang mulai terbiasa kujalani. Aku tidak menemukannya hari itu. Sama sekali.

Bahkan bayangannya pun tidak.

Beberapa kali tanpa sadar mataku menyisir ruangan, lorong, sudut-sudut yang biasanya pernah menyimpan jejak keberadaannya. Tempat-tempat yang dulu terasa biasa saja kini seperti memiliki kemungkinan. Tapi hari itu, semuanya kosong. Tidak ada sosok yang tiba-tiba lewat di belakangku. Tidak ada gerakan kecil yang mencuri perhatian. Tidak ada permainan absurd yang diam-diam kutunggu meski selalu kusingkal keberadaannya.

Aku mencoba bersikap biasa. Seolah ketidakhadirannya bukan sesuatu yang perlu dipikirkan. Tapi semakin siang berjalan, semakin aku sadar bahwa pikiranku terus mencarinya. Diam-diam. Tanpa izin.

Entah di mana dia berada.

Kalimat itu terus berputar di kepalaku seperti lagu yang tak selesai. Aku tidak tahu apakah dia memang tidak datang, atau hanya berada di tempat lain yang tidak sempat kulewati. Dan anehnya, ketidaktahuan itu justru membuat perasaanku makin tidak tenang.

Padahal aku tahu, aku tidak punya hak untuk merasa kehilangan.

Kami bukan siapa-siapa. Tidak ada hubungan yang bisa kusebut dengan jelas. Tidak ada janji, tidak ada kepastian, bahkan percakapan pun hampir tidak pernah benar-benar terjadi. Tapi tetap saja, ketidakhadirannya menciptakan ruang kosong yang sulit kuabaikan.

Dan di tengah semua itu, aku kembali dihadapkan pada diriku sendiri.

Aku sadar diri. Sangat sadar, malah.

Aku tahu kami sama-sama keras kepala. Sama-sama terlalu menjaga gengsi. Tidak ada yang benar-benar mau membuka pintu lebih dulu. Tidak ada yang rela terlihat lebih membutuhkan. Kami seperti dua orang yang sama-sama berdiri di balik kaca—bisa saling melihat, tapi memilih diam karena takut menjadi yang pertama mengetuk.

Mungkin itu sebabnya semuanya terasa melelahkan.

Karena setiap kali ada kesempatan untuk mendekat, selalu ada sesuatu dalam diriku yang menarikku mundur. Dan mungkin, sesuatu yang sama juga terjadi padanya. Kami sama-sama menjaga diri, sampai akhirnya yang tersisa hanya kebisuan panjang yang dipelihara bersama.

Tapi ironisnya, di tengah semua penolakan itu, aku masih berharap dia hadir.

Aku masih berharap pintu tiba-tiba terbuka dan dia muncul di sana seperti biasa. Aku masih berharap bisa melihatnya walau hanya sekilas. Bahkan setelah berkali-kali meyakinkan diri untuk tidak peduli, harapan kecil itu tetap hidup diam-diam di sudut hati yang paling keras kepala.

Sungguh egois, pikirku.

Aku ingin menjaga jarak, tapi juga ingin dicari. Aku ingin terlihat tidak peduli, tapi diam-diam menunggu. Aku ingin melupakan, tapi tetap berharap dipertemukan. Seolah aku ingin menang dalam dua sisi sekaligus.

Dan mungkin memang begitulah manusia ketika sedang menyangkal perasaannya sendiri, terlihat ingin pergi, padahal diam-diam masih berdiri di tempat yang sama.

Menjelang sore, aku akhirnya berhenti mencari. Bukan karena benar-benar menyerah, tapi karena lelah melawan kenyataan bahwa hari itu memang tidak memberiku kesempatan untuk melihatnya. Aku duduk dengan pikiran yang masih gaduh, mencoba menerima bahwa tidak semua hari harus memiliki cerita.

Lalu entah dari mana, sebuah kalimat melintas di kepalaku:

“Sebab sepanjang kita berjalan, menghindar, berpura-pura tidak mengetahui atau apa pun itu, kita akan tetap bertemu apa yang ditakdirkan untuk bertemu.”

Aku tidak tahu kenapa kalimat itu terasa begitu dekat.

Mungkin karena selama ini kami memang hanya berputar-putar di lingkar yang sama. Menghindar, lalu mencari. Menolak, lalu berharap. Menjauh, lalu diam-diam menunggu dipertemukan lagi.

Dan mungkin, kalau memang harus bertemu, kami akan tetap bertemu. Dengan atau tanpa keberanian. Dengan atau tanpa pengakuan.

Sementara itu, yang bisa kulakukan hanya melanjutkan hari dengan sisa-sisa harapan yang tak mau benar-benar mati.

Comments

Popular posts from this blog

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

One Direction – Live While We're Young (Arti Lagu)

One Direction atau 1D sekarang lagi booming-boomingnya. Sepertinya saya gak salah jika mau sedikit menerjemahkan salah satu lagunya. Meski lagu-lagunya banyak yang digilai banyak orang, tapi sampai sekarang saya tetap tidak mengidolakannya, apalagi mengoleksi lagu-lagunya. Saya menulis tulisan ini alasannya cuma satu, biar yang berkunjung di blogku bertambah. simple, kan? Kali ini saya memilh lagunya 1D yang judulnya  Live While We're Young. Banyak yang beranggapan, lagu ini tentang sex. Ajakan untuk berbuat sex lebih tepatnya. Anggapan mereka tidaklah salah, karena liriknya jelas banget mengarahnya kesana. Kalo ada yang ngeyel dan membela diri bahwa lagu ini bukan lagu tentang ajakan sex, tanya deh pada orang tua kita,  Get some means have sex. Simple as that. Sedikit tambahan, One Direction adalah grup penyanyi pria asal Inggris-Irlandia yang terbentuk di London pada tahun 2010. Grup ini beranggotakan Niall Horan, Zayn Malik, Liam Payne, Harry Style...

Bincang Buku "I am Proud to be Scout"

Hi, sobat blogger. Hari ini cuacanya panas banget ya.... ato jangan-jangan ini hanya perasaanku saja, karena saat ini lagi di Surabaya. Hmmm.... mungkin karena emang cuaca di Surabaya gak pernah dingin kali ya, makanya panas mulu bawaannya. Padahal udah banyak taman yang dibuat buat menghijaukan kota Surabaya lho... gak ngaruh ternyata. heuheu Ngomong-ngomong tentang Surabaya, hari ini aku lagi di Surabaya nih... Ceritanya lagi ikutan launching buku "I am Proud to be Scout" . Tahu sendirikan, bukuku yang itu baru aja terbit. Karena baru, so pastinya perlu dibuatlah event kecil-kecilan buat ngrayain atas terbitnya buku itu. Yah, semacam syukuran githu deh! Syukuran karena bukunya udah terbit, maka dibuatlah acara launching dan bincang buku serta sharing tentang kepenulisan.  Acara udah disusun rapi, tapi karena ada beberapa hal yang di luar kendali dan rencana kita, akhirnya acara launchingnya diubah jadi bincang buku. You know why lah.... membuat event seperti ini ...