Mungkin Bukan Pertemuannya yang Kusukai, Melainkan Kemungkinan-Kemungkinan yang Tidak Pernah Terjadi di Dalamnya
Kemarin pertemuan itu hanya berlangsung singkat, hampir seperti adegan selingan yang muncul sebentar lalu hilang sebelum sempat dipahami. Ia datang terlambat, bukan terlambat seperti biasanya, bukan selisih beberapa menit yang masih bisa dianggap kebiasaan kecil yang lucu. Kali ini benar-benar terlambat. Sangat terlambat, sampai kehadirannya terasa seperti sesuatu yang datang setelah hampir semua orang berhenti menunggu.
Dan anehnya, aku menyadari itu dengan mudah. Terlalu mudah, malah. Karena tanpa sadar aku sudah menghafal ritme kedatangannya: jam berapa biasanya muncul, langkahnya yang seperti apa ketika memasuki ruangan, bagaimana ia biasanya menaruh barang, bahkan jeda kecil sebelum ia benar-benar bergabung dengan aktivitas yang lain. Semua detail kecil itu entah kapan tersimpan di kepalaku, seperti catatan rahasia yang tidak pernah sengaja kutulis.
Ketika ia akhirnya muncul kemarin, ada sesuatu yang terasa berbeda. Gerakannya tampak lebih hati-hati, lebih pelan, seolah ia sedang berusaha menyesuaikan diri dengan ruang yang tiba-tiba terasa asing. Canggung, setidaknya itu yang kubaca dari caranya berdiri, dari bagaimana tangannya bergerak tanpa tujuan jelas. Aku tidak tahu apakah tebakanku benar. Aku tidak pernah benar-benar mencari tahu. Tapi ada bahasa yang tak perlu diucapkan untuk bisa dipahami.
Lucunya, meski aku terus berusaha menghindari tatapan matanya, dunia seakan punya caranya sendiri untuk mempertemukan kami dalam jarak yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Aktivitas yang sama. Ruangan yang sama. Waktu yang sama. Persimpangan kecil yang tidak bisa dihindari, walau aku sudah berusaha memilih jalur yang berbeda.
Dan setiap kali itu terjadi, adegan yang sama seperti diputar ulang.
Kami berada dalam satu ruang. Jarak tidak jauh, tapi juga tidak cukup dekat untuk disebut kebersamaan. Tidak ada sapaan. Tidak ada kata. Hanya kehadiran yang saling disadari tanpa pernah benar-benar diakui.
Aneh sekali, aku justru menyukai bagian ini.
Kadang aku tertawa sendiri memikirkan itu. Kenapa dari sekian banyak kemungkinan, justru momen canggung seperti ini yang terasa paling hidup? Kenapa diam yang panjang itu terasa lebih ramai daripada percakapan biasa?
Suasana itu sulit dijelaskan. Seperti berada di sebuah ruangan yang penuh orang, tapi kesunyian justru menempel di antara dua orang yang tidak berbicara. Segalanya berjalan normal, orang berlalu-lalang, suara percakapan lain terdengar samar, aktivitas berlangsung seperti biasa, namun di tengah semua itu ada ruang kecil yang kosong, ruang yang hanya diisi oleh kesadaran bahwa kami ada di tempat yang sama.
Kadang rasanya seperti berdiri di depan pintu yang tidak pernah benar-benar tertutup, tapi juga tidak pernah terbuka. Kau tahu pintu itu ada. Kau tahu kau bisa mengetuknya. Tapi tanganmu selalu berhenti beberapa sentimeter sebelum benar-benar menyentuh permukaannya.
Dan di situlah kami berdiri, di depan pintu yang sama, masing-masing berpura-pura tidak melihatnya.
Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan suasana itu selain dengan satu kata: menggantung. Seperti kalimat yang berhenti di tengah tanpa tanda titik. Seperti lagu yang berhenti sebelum bagian reff. Seperti napas yang ditahan terlalu lama tanpa pernah benar-benar dihembuskan.
Pertemuan singkat kemarin mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Tapi entah kenapa, adegannya terus berulang di kepalaku. Diputar kembali dengan detail yang sama, dengan jeda yang sama, dengan keheningan yang sama.
Dan semakin sering kuingat, semakin aku sadar, mungkin bukan pertemuannya yang kusukai, melainkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah terjadi di dalamnya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!