Skip to main content

Patah Hati Yang Tidak Pernah Benar-Benar Diakui Sebagai Patah Hati


Lucunya, kebiasaan itu masih tertinggal seperti refleks yang tidak sempat ikut pamit. Setiap kali membuka media sosial, jemariku seperti tahu jalan sendiri, mengetik namanya, membuka profilnya, lalu berhenti di halaman yang sama, terkunci, sunyi, tak memberi apa-apa. Tidak ada yang bisa dilihat. Tidak ada yang bisa dipahami. Hanya foto profil kecil dan ruang kosong yang terasa terlalu luas untuk sesuatu yang sebenarnya begitu sederhana.

Aku tahu tak ada gunanya. Aku juga tahu aku tidak benar-benar berharap menemukan sesuatu. Tidak ada harapan yang menunggu di sana. Tapi tetap saja aku mampir. Seperti seseorang yang lewat di depan rumah lama, padahal sudah tahu penghuninya pindah entah ke mana. Bukan ingin mengetuk pintu. Hanya ingin memastikan rumah itu masih berdiri.

Dan setiap kali selesai, rasanya datar saja. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada rasa sakit yang dramatis. Hanya semacam keheningan kecil yang cepat berlalu, seperti menutup aplikasi yang tidak sengaja terbuka.

Mungkin ini tanda bahwa perasaanku memang mulai menipis. Atau mungkin justru sebaliknya, perasaanku sudah terlalu lelah untuk terasa menyakitkan.

Aku mulai sadar, aku sudah pernah berada di titik seperti ini sebelumnya. Bukan sekali. Bukan dua kali. Polanya hampir sama, awalnya penuh getaran, penuh tebakan, penuh kemungkinan yang terasa besar sekali. Lalu perlahan berubah jadi menunggu. Menunggu balasan. Menunggu keberanian. Menunggu kejelasan. Sampai akhirnya yang tersisa hanya kebiasaan.

Dan patah hati yang tidak pernah benar-benar diakui sebagai patah hati.

Karena tidak ada hubungan yang dimulai. Tidak ada janji yang diucapkan. Tidak ada perpisahan yang resmi. Jadi rasanya aneh jika harus menyebut ini kehilangan. Padahal dada tetap terasa seperti habis ditinggalkan sesuatu.

Aku jadi berpikir, mungkin aku memang sudah terbiasa mengelola perasaan seperti ini. Terbiasa menyimpan rasa tanpa sempat memberinya nama. Terbiasa menguburnya pelan-pelan tanpa upacara. Terbiasa berpura-pura semuanya baik-baik saja karena memang tidak ada yang benar-benar rusak di permukaan.

Dan mungkin itu sebabnya sekarang rasanya lebih banyak “tidak peduli”.

Bukan karena benar-benar tidak peduli. Lebih seperti… tubuh dan hati sudah tahu jalur pulangnya. Sudah hafal rutenya. Sudah tahu bahwa pada akhirnya semua akan kembali ke titik semula, rutinitas, kesibukan, hari-hari biasa yang berjalan tanpa menunggu siapa pun.

Sesekali mungkin aku masih akan membuka profil itu lagi. Bukan karena ingin kembali. Bukan karena berharap sesuatu berubah. Hanya karena ada bagian kecil dari diriku yang belum sepenuhnya berhenti mencari jejak.

Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa langkahku tidak lagi tertahan di sana.

Comments

Popular posts from this blog

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...