Lucunya, kebiasaan itu masih tertinggal seperti refleks yang tidak sempat ikut pamit. Setiap kali membuka media sosial, jemariku seperti tahu jalan sendiri, mengetik namanya, membuka profilnya, lalu berhenti di halaman yang sama, terkunci, sunyi, tak memberi apa-apa. Tidak ada yang bisa dilihat. Tidak ada yang bisa dipahami. Hanya foto profil kecil dan ruang kosong yang terasa terlalu luas untuk sesuatu yang sebenarnya begitu sederhana.
Aku tahu tak ada gunanya. Aku juga tahu aku tidak benar-benar berharap menemukan sesuatu. Tidak ada harapan yang menunggu di sana. Tapi tetap saja aku mampir. Seperti seseorang yang lewat di depan rumah lama, padahal sudah tahu penghuninya pindah entah ke mana. Bukan ingin mengetuk pintu. Hanya ingin memastikan rumah itu masih berdiri.
Dan setiap kali selesai, rasanya datar saja. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada rasa sakit yang dramatis. Hanya semacam keheningan kecil yang cepat berlalu, seperti menutup aplikasi yang tidak sengaja terbuka.
Mungkin ini tanda bahwa perasaanku memang mulai menipis. Atau mungkin justru sebaliknya, perasaanku sudah terlalu lelah untuk terasa menyakitkan.
Aku mulai sadar, aku sudah pernah berada di titik seperti ini sebelumnya. Bukan sekali. Bukan dua kali. Polanya hampir sama, awalnya penuh getaran, penuh tebakan, penuh kemungkinan yang terasa besar sekali. Lalu perlahan berubah jadi menunggu. Menunggu balasan. Menunggu keberanian. Menunggu kejelasan. Sampai akhirnya yang tersisa hanya kebiasaan.
Dan patah hati yang tidak pernah benar-benar diakui sebagai patah hati.
Karena tidak ada hubungan yang dimulai. Tidak ada janji yang diucapkan. Tidak ada perpisahan yang resmi. Jadi rasanya aneh jika harus menyebut ini kehilangan. Padahal dada tetap terasa seperti habis ditinggalkan sesuatu.
Aku jadi berpikir, mungkin aku memang sudah terbiasa mengelola perasaan seperti ini. Terbiasa menyimpan rasa tanpa sempat memberinya nama. Terbiasa menguburnya pelan-pelan tanpa upacara. Terbiasa berpura-pura semuanya baik-baik saja karena memang tidak ada yang benar-benar rusak di permukaan.
Dan mungkin itu sebabnya sekarang rasanya lebih banyak “tidak peduli”.
Bukan karena benar-benar tidak peduli. Lebih seperti… tubuh dan hati sudah tahu jalur pulangnya. Sudah hafal rutenya. Sudah tahu bahwa pada akhirnya semua akan kembali ke titik semula, rutinitas, kesibukan, hari-hari biasa yang berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Sesekali mungkin aku masih akan membuka profil itu lagi. Bukan karena ingin kembali. Bukan karena berharap sesuatu berubah. Hanya karena ada bagian kecil dari diriku yang belum sepenuhnya berhenti mencari jejak.
Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa langkahku tidak lagi tertahan di sana.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!