Akhir-akhir ini aku berusaha terlihat biasa saja di depan orang lain. Tetap bercanda seperlunya, tetap menjawab ketika diajak bicara, tetap menjalani hari seperti tidak ada apa-apa. Aku tidak ingin terlihat seperti seseorang yang sedang memendam masalah sendirian. Tidak ingin orang bertanya terlalu jauh. Tidak ingin wajahku dibaca seperti buku yang terbuka.
Tapi tubuh rupanya lebih jujur daripada mulut.
Beberapa minggu terakhir, aku sering terbangun di tengah malam karena mimpi buruk. Bukan mimpi yang jelas bentuknya, bukan pula mimpi yang bisa diceritakan runtut setelah bangun tidur. Kadang hanya potongan-potongan kejadian yang terasa menyesakkan. Wajah-wajah samar. Suasana gelap. Perasaan dikejar sesuatu yang tidak terlihat. Dan anehnya, saat membuka mata, rasa takut dari mimpi itu masih tertinggal nyata di dada.
Ada malam ketika aku bangun dengan napas berat, lalu duduk lama di tepi kasur sambil mencoba memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam kepalaku.
Ruangan sunyi. Semua orang masih tidur. Hanya suara kipas angin atau dengung AC yang terdengar pelan. Namun di dalam pikiranku, rasanya ribut sekali.
Aku mencoba mengurai semuanya pelan-pelan. Mencari pangkal dari rasa sesak ini. Mengingat kapan semuanya mulai terasa berlebihan. Apakah karena pekerjaan? Karena rasa takut? Karena kejadian-kejadian tahun lalu yang belum benar-benar selesai? Atau karena aku terlalu lama menumpuk semuanya sendiri?
Tapi semakin dicari, semakin terasa seperti benang kusut yang tidak punya ujung.
Setiap kali kupikir aku mulai menemukan jawabannya, muncul pertanyaan lain yang lebih membingungkan. Kadang aku merasa hanya terlalu lelah. Kadang merasa memang ada yang salah dalam diriku. Di waktu lain, aku malah takut semua ini hanyalah pikiranku sendiri yang terus membesar-besarkan keadaan.
Dan akhirnya aku sadar, sebagian besar yang memenuhi kepalaku hanyalah perkiraan.
Perkiraan tentang hal buruk yang belum tentu terjadi. Ketakutan tentang masa depan yang bahkan belum datang. Kecemasan yang tumbuh dari kemungkinan-kemungkinan yang belum nyata. Namun meski hanya “perkiraan”, rasanya tetap nyata. Tetap membuat dada sesak. Tetap membuat tidur tidak tenang.
Yang paling sulit dijelaskan mungkin adalah perasaan seperti ingin meminta tolong… tapi tidak tahu harus berkata apa.
Ada teriakan-teriakan kecil di dalam diri yang tidak pernah benar-benar keluar. Bukan karena tidak ingin bicara, tapi karena semuanya terasa terlalu rumit untuk dijelaskan. Bagaimana cara menjelaskan bahwa kadang aku takut tanpa alasan jelas? Bahwa kadang aku lelah bahkan sebelum hari dimulai? Bahwa ada malam-malam ketika pikiranku terasa terlalu bising untuk ditenangkan?
Jadi akhirnya aku hanya diam.
Berusaha terlihat normal di siang hari, lalu diam-diam berhadapan dengan pikiranku sendiri di tengah malam.
Kadang aku iri pada orang-orang yang bisa tidur tenang tanpa dihantui apa pun. Yang memejamkan mata lalu benar-benar beristirahat. Sementara aku, bahkan ketika tubuhku lelah, pikiranku tetap seperti berjaga.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!