Kadang aku membayangkan bagaimana rasanya jika semua ini diucapkan dengan jujur. Kalimat-kalimat sederhana yang selama ini hanya berputar di kepala, disusun rapi lalu diserahkan begitu saja kepadanya, tanpa sandi, tanpa isyarat. Rasanya seperti berdiri di tepi kolam yang airnya dingin, tahu bahwa melompat mungkin akan menyegarkan, tapi juga takut pada benturan pertama yang mengejutkan tubuh. Ada dorongan kecil yang terus muncul, mengajak untuk berterus terang tentang perasaan ini, tentang isi hati yang semakin hari semakin sulit disembunyikan dari diri sendiri.
Namun setiap kali keberanian itu mulai tumbuh, bayangan lain ikut muncul bersamanya, kemungkinan ditolak. Kemungkinan bahwa semua yang selama ini terasa begitu besar di dalam diri, ternyata tidak memiliki tempat di hatinya. Dan bayangan itu terasa jauh lebih nyata daripada harapan yang ingin kupegang. Aku bisa membayangkan dengan sangat jelas rasa malu yang akan mengikuti, malu yang mungkin akan bertahan lama, yang akan membuat setiap pertemuan berikutnya terasa canggung dan penuh jarak. Risiko itu terasa terlalu besar, terlalu memalukan, terlalu berat untuk dipikul.
Akhirnya aku menyadari sesuatu yang sedikit ironis, mungkin aku justru menyukai keadaan ini. Perasaan yang setengah jelas, setengah samar. Rasa malu-malu yang tidak pernah benar-benar menemukan bentuknya. Ketidakpastian yang anehnya terasa aman. Di ruang abu-abu ini, aku bebas mempermainkan perasaanku sendiri. Aku bisa membiarkan imajinasi berlari sejauh mungkin, membayangkan kemungkinan bahwa aku dicintai, bahwa ada sesuatu yang tidak terucapkan di antara kami. Dan selama semuanya hanya tinggal di dalam kepala, tidak ada yang bisa membuktikan bahwa itu salah.
Aku sadar sepenuhnya bahwa mungkin semua ini hanya milikku sendiri. Sebuah cerita yang tumbuh dari kebiasaan memperhatikan, dari kebetulan-kebetulan kecil yang kuberi makna terlalu besar. Tapi kesadaran itu tidak serta-merta menghentikan keinginan untuk menikmatinya. Justru karena aku tahu ini mungkin hanya ilusi, aku merasa ingin menjaganya lebih lama. Seperti mimpi yang enggan dibangunkan, karena begitu mata terbuka, semuanya akan kembali menjadi biasa.
Ada bagian dari diriku yang percaya bahwa aku bukan orang yang mudah dicintai. Bukan seseorang yang kehadirannya langsung dirindukan, bukan seseorang yang secara alami menjadi pusat perhatian. Mungkin itu hanya cara pikir yang terlalu keras pada diri sendiri, mungkin juga hanya kebiasaan lama yang sulit dilepas. Tapi keyakinan itu membuatku merasa harus realistis. Jika kemungkinan dicintai begitu kecil, maka setidaknya aku masih punya kesempatan untuk merasakan perasaan dicintai, meski hanya di dalam ruang yang kubangun sendiri.
Dan di situlah dilema itu terus berputar. Di satu sisi, ada keinginan untuk berkata jujur, untuk mengakhiri semua spekulasi dengan satu keberanian sederhana. Di sisi lain, ada ketakutan bahwa kejujuran justru akan merampas satu-satunya hal yang selama ini bisa kunikmati, harapan yang tidak perlu dibuktikan.
Maka setiap kali kesempatan untuk mengungkapkan perasaan itu muncul, aku memilih untuk membiarkannya lewat begitu saja. Membiarkannya tetap menjadi kemungkinan yang tidak pernah diuji. Membiarkan perasaan ini tinggal di tempat yang aman, di dalam hati, di dalam bayangan, di dalam cerita yang hanya aku yang tahu bagaimana akhirnya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!