Pesan itu akhirnya dibaca. Hari Minggu. Tengah malam.
Seperti biasa, aku tidak benar-benar tidur nyenyak. Ada kebiasaan aneh yang muncul sejak semuanya jadi serba tidak jelas: sesekali terbangun, membuka layar ponsel, mengecek tanpa harapan besar tapi juga tanpa keberanian untuk benar-benar tak peduli. Dan di antara sisa kantuk yang menggantung, aku melihat tanda itu, “dibaca”.
Jumat aku mengirimnya. Minggu tengah malam baru dibuka.
Entah kenapa, justru bukan rasa marah yang muncul. Bukan juga lega. Lebih ke arah… kosong yang pelan-pelan mengembang. Seperti balon yang tak diisi udara, tapi tetap membesar karena tekanan dari dalam.
Dan yang lebih membuat pikiranku berlari ke mana-mana adalah satu hal, sekarang profilku sudah privat.
Bukan memblokirnya. Aku tidak sekejam itu. Hanya mengembalikan semuanya ke mode semula, tertutup. Seolah aku sedang menata ulang ruang pribadiku. Tapi kalau jujur, ada sedikit gerakan defensif di sana. Seperti ingin bilang, “Kalau kamu bisa diam, aku juga bisa menjaga jarak.”
Aku membayangkan dia membuka profilku setelah membaca pesan itu. Lalu menyadari tak ada lagi yang bisa dilihat. Tak ada lagi akses mudah untuk mengintip keseharianku. Tak ada lagi jendela kecil untuk tahu aku sedang apa.
Apa yang dia pikirkan, ya?
Aku tak tahu. Tapi anehnya, aku bisa membayangkan wajahnya. Ekspresinya selalu terbaca jelas bagiku, antara senyum tipis yang menyimpan sesuatu, atau wajah datar yang pura-pura tak terjadi apa-apa. Dia punya kebiasaan menyembunyikan reaksi di balik sikap biasa saja. Tapi aku hafal sorot matanya saat ia merasa tersentuh, atau terganggu, atau justru senang.
Dan sekarang, aku membayangkan semua kemungkinan itu bergantian.
Apakah dia merasa aku tersinggung?
Apakah dia merasa aku sedang bermain tarik-ulur?
Atau justru… dia tak merasa apa-apa?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar lebih keras karena Senin sudah menunggu.
Aku tahu kami akan berada di ruang yang sama. Di jalur yang mungkin bersilangan lagi seperti biasa. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Apakah aku akan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa?
Atau justru aku yang jadi canggung karena sadar telah menarik diri?
Apakah dia akan kembali mencari-cari pandang seperti dulu?
Atau malah menjaga jarak karena merasa ditolak diam-diam?
Kata “awkward” terasa terlalu sederhana untuk menggambarkan ini.
Ada kemungkinan kami hanya akan lewat seperti dua orang asing yang kebetulan pernah saling menyukai dalam diam. Ada kemungkinan dia akan menatap lebih lama, mencoba membaca perubahan sikapku. Ada kemungkinan juga tak ada perubahan sama sekali, yang justru akan lebih menyakitkan, karena berarti semua ini hanya dramaku sendiri.
Aku menyadari satu hal malam itu, rasa penasaranku ternyata masih lebih besar daripada rasa lelahku.
Kalau benar aku sudah ingin melepaskan, kenapa aku masih memikirkan reaksinya sedetail ini? Kenapa aku masih membayangkan ekspresinya, langkahnya, bahkan cara dia berdiri di sekitarku?
Mungkin karena meski aku sudah berhenti mengikuti akunnya, aku belum berhenti mengikutinya di dalam pikiranku.
Dan Senin nanti akan menjadi semacam ujian kecil. Bukan tentang siapa yang lebih peduli. Tapi tentang siapa yang mampu bersikap paling tenang di tengah ketegangan yang tak pernah benar-benar diucapkan.
Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan di depannya.
Yang aku tahu, jantungku pasti tetap berdetak lebih cepat dari biasanya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!