Kadang aku sendiri bingung dari mana datangnya pikiran-pikiran seperti ini.
Tiba-tiba saja muncul, tanpa aba-aba, di tengah kesibukan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengannya sama sekali. Dan yang paling aneh, pikiran itu selalu terasa begitu nyata meski aku tahu semuanya hanya ada di kepalaku sendiri.
Aku pernah membayangkan menangis di pundaknya.
Entah sudah berapa kali bayangan itu muncul begitu saja. Kadang saat perjalanan pulang. Kadang ketika sedang sendirian menatap langit-langit kamar. Kadang bahkan di tengah keramaian, ketika aku sedang mencoba terlihat biasa saja di depan semua orang.
Aku membayangkan diriku bersandar di pundaknya sambil menangis pelan. Tidak perlu banyak bicara. Tidak perlu dijelaskan apa pun. Hanya diam, lalu membiarkan semua rasa sesak yang selama ini tertahan keluar begitu saja.
Dan anehnya, dalam bayangan itu selalu ada rasa tenang.
Padahal kalau dipikir-pikir lagi, kami bahkan tidak dekat. Kami jarang berbicara. Tidak pernah punya percakapan panjang tentang hidup atau luka masing-masing. Bahkan untuk sekadar menyapa dengan santai saja aku masih sering kehilangan keberanian.
Tapi entah kenapa, setiap berada dekat dengannya, ada sesuatu yang terasa lebih tenang di dalam dadaku.
Bukan tenang yang benar-benar membuat semua masalah hilang. Lebih seperti jeda kecil dari kebisingan yang biasanya terus memenuhi kepalaku. Seolah kehadirannya memberi ruang beberapa detik untuk aku bernapas lebih lega.
Mungkin karena itu aku beberapa kali kepikiran ingin memeluknya.
Bukan karena hasrat yang berlebihan. Bukan pula karena ingin memiliki hubungan romantis seperti yang ada di film-film. Justru lebih sederhana dan lebih menyedihkan dari itu. Aku hanya ingin melepaskan semua lelah yang selama ini kupendam sendirian.
Aku ingin menangis.
Aku ingin seseorang mendengarkan diamku tanpa memaksaku menjelaskan semuanya.
Dan entah kenapa, bayangan tentang tempat paling aman untuk melakukan itu selalu jatuh pada pundaknya.
Padahal aku sadar diri.
Sadar sekali malah.
Aku ini siapa? Bukan siapa-siapanya. Tidak ada hubungan apa-apa di antara kami selain tatapan-tatapan aneh yang tak pernah selesai diterjemahkan. Bahkan mungkin dia sendiri tidak pernah berpikir sejauh itu tentangku.
Makanya setiap pikiran itu muncul, aku selalu buru-buru menarik diriku kembali ke kenyataan.
Bahwa aku tidak punya hak untuk berharap sejauh itu.
Bahwa kedekatan yang kubayangkan mungkin hanya hidup di kepalaku sendiri.
Dan kemarin, saat dia mendekat lagi seperti biasanya, pikiran itu kembali datang tanpa izin. Aku masih ingat jelas bagaimana dia berdiri cukup dekat hingga aku bisa merasakan keberadaannya dengan terlalu sadar. Aku berusaha tetap terlihat biasa saja, tapi kepalaku malah sibuk membayangkan hal-hal yang seharusnya tidak kupikirkan.
Bagaimana jika aku benar-benar menyerah pada rasa lelahku saat itu?
Bagaimana jika aku benar-benar menaruh kepalaku di pundaknya dan membiarkan semua tangis yang selama ini kutahan keluar begitu saja?
Apakah dia akan diam membiarkanku?
Atau justru mundur karena bingung dengan keberanianku yang tiba-tiba?
Aku tidak tahu.
Dan mungkin aku memang tidak akan pernah tahu. Karena pada akhirnya aku tetap melakukan hal yang sama seperti biasanya, diam. Menelan semua bayangan itu sendirian sambil berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Kadang aku membenci diriku sendiri karena terlalu mudah merasa nyaman pada seseorang yang bahkan belum tentu menginginkanku ada di dekatnya. Tapi di sisi lain, aku juga tidak bisa menyangkal bahwa di tengah hidupku yang sering terasa kosong dan bising ini, dia adalah salah satu sedikit hal yang membuatku ingin berhenti sebentar dan merasa aman.
Meski hanya dalam khayalan.
Meski pundak itu tak pernah benar-benar menjadi tempatku bersandar.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!