Dulu, sebelum semuanya terasa serba canggung seperti sekarang, justru dia yang lebih sering bergerak lebih dulu. Dia yang terlihat lebih atraktif, lebih berani, lebih lihai mencari celah kecil untuk mengusikku, atau setidaknya begitulah yang selalu terasa di kepalaku. Ada momen-momen kecil yang dulu tampak sepele: pandangan yang terlalu lama, keberadaan yang terasa sengaja diposisikan di dekatku, langkah-langkah yang seolah kebetulan tapi terlalu sering untuk disebut kebetulan. Aku waktu itu hanya berdiri di sisi sebaliknya, diam, kikuk, pura-pura tidak sadar, padahal sebenarnya sangat sadar.
Sekarang semuanya terasa seperti berbalik arah, pelan-pelan, tanpa aba-aba. Tanpa kesepakatan. Tanpa percakapan. Tiba-tiba aku yang berada di sisi itu. Aku yang diam-diam mencari celah, mencari sudut pandang yang cukup aman untuk sekadar memastikan dia masih ada di sekitar. Aku yang mulai mencuri waktu beberapa detik lebih lama dari seharusnya hanya untuk melihatnya bergerak, berbicara, tertawa dengan orang lain.
Dan aku tidak ingin membohongi diri sendiri tentang hal itu.
Aku memang melakukannya. Meski caraku tidak seberani dia dulu, atau mungkin hanya tidak seberani yang kubayangkan tentang dirinya. Caraku masih penuh perhitungan. Masih penuh batas. Masih selalu ada suara kecil di kepala yang mengingatkan, jangan terlalu jauh, jangan terlalu jelas, jangan sampai terlihat aneh. Aku tetap bergerak dalam radius aman, seolah ada garis tak terlihat yang tidak boleh kulewati.
Anehnya, tetap saja terasa tidak nyaman.
Ada rasa janggal setiap kali aku menahan pandangan sedikit lebih lama dari biasanya. Seolah tubuhku tahu ini bukan kebiasaan yang dulu kupilih. Seolah ada bagian dari diriku yang menatap balik dengan heran, sejak kapan kamu jadi seperti ini? Tapi di saat yang sama, ada juga rasa lega yang diam-diam muncul, rasa hangat kecil yang sulit dijelaskan, seolah setiap detik tambahan itu bisa sedikit menambal kekosongan yang kemarin terasa begitu besar.
Aku sadar betul betapa ganjilnya semua ini. Berdiri di antara ingin dan ragu, antara perlu dan malu. Kadang rasanya seperti mencuri sesuatu yang bahkan tidak pernah dimiliki siapa pun. Hanya pandangan. Hanya keberadaan. Hanya detik-detik kecil yang bahkan mungkin tidak berarti apa-apa baginya.
Dan mungkin memang tidak berarti apa-apa.
Tapi tetap saja, aku melakukannya.
Bukan terus-menerus. Bukan tanpa jeda. Aku masih tahu diri, setidaknya aku ingin percaya begitu. Ada titik di mana aku akan memaksa diri berhenti, mengalihkan pandangan, kembali pada rutinitas seolah tidak terjadi apa-apa. Aku tidak ingin menjadi bayangan yang terlalu jelas. Tidak ingin menjadi kehadiran yang terasa mengganggu. Tidak ingin mengubah rasa ini menjadi sesuatu yang berat atau menyesakkan.
Jadi aku menjaga jarak. Selalu.
Aku tidak melulu melihatnya. Tidak setiap waktu. Tidak setiap kesempatan. Ada hari-hari ketika aku benar-benar berhasil mengabaikannya, menenggelamkan diri dalam kesibukan, meyakinkan diri bahwa semua ini hanya fase kecil yang akan lewat begitu saja. Namun di hari lain, ketika rasa kosong itu datang tanpa diundang, aku kembali mencari celah kecil itu lagi, celah yang sama yang dulu mungkin pernah ia gunakan.
Lucu juga memikirkannya sekarang. Seperti dua orang yang berjalan memutari lingkaran yang sama, hanya saja waktunya tidak pernah tepat bersamaan. Saat yang satu berhenti, yang lain mulai berjalan. Saat yang satu menoleh, yang lain justru memalingkan wajah.
Dan di tengah semua itu, aku berdiri di sini, mengakui pelan-pelan bahwa kini aku bukan lagi penonton yang sepenuhnya pasif. Aku sudah melangkah, meski hanya setengah langkah, meski masih penuh ragu.
Dan entah kenapa, pengakuan kecil itu terasa sekaligus menenangkan… dan menakutkan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!