Harusnya Selasa ini aku bahagia.
Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada banyak momen yang seharusnya bisa kusimpan baik-baik untuk membuatku tersenyum sampai malam nanti. Ada banyak kesempatan kecil yang dulu pasti akan membuatku senyum-senyum sendiri sambil mengulang adegannya berkali-kali di kepala. Tapi anehnya, hari ini semuanya terasa setengah hidup. Ada rasa senang, iya. Tapi bercampur dengan sesuatu yang berat dan mengganggu pikiranku sejak pagi.
Dan di tengah kekacauan itu, dia tetap datang dengan tingkah absurdnya.
Seperti biasa, tidak ada sapaan langsung. Tidak ada percakapan yang benar-benar dimulai. Tapi aku tahu dia sedang berusaha mendekat lebih lama. Aku bisa melihat caranya mencari alasan kecil untuk berada di sekitarku. Cara dia berbicara pada temannya, tapi posisi tubuhnya terlalu dekat denganku untuk disebut kebetulan. Cara dia tetap bertahan di area itu lebih lama dari yang diperlukan.
Dan jujur saja, kalau saja keadaan pikiranku lebih ringan, mungkin aku akan tertawa dalam hati melihat tingkahnya.
Karena dia benar-benar mudah ditebak.
Kadang aku heran sendiri kenapa dia memilih cara serumit itu hanya untuk berada dekat denganku. Tapi mungkin aku juga tidak berhak menghakimi, karena aku pun sama penakutnya. Sama-sama tidak berani memulai sesuatu secara langsung.
Bedanya, hari ini aku benar-benar tidak punya tempat bersembunyi.
Biasanya, kalau ada orang lain di dekatku, aku masih bisa berpura-pura sibuk mengobrol. Aku bisa berakting seolah fokus pada percakapan lain sambil diam-diam memperhatikannya. Ada semacam perlindungan kecil yang membuatku tidak terlalu gugup.
Tapi hari ini aku sendirian.
Dan itu membuat semuanya terasa lebih nyata.
Ketika dia mendekat dan mulai berbicara dengan temannya di dekatku, aku mendadak kehilangan semua kemampuan untuk bersikap normal. Aku tidak cukup berani untuk menoleh santai lalu berpura-pura tidak peduli. Tapi aku juga tidak punya alasan untuk melihat ke arah lain.
Akhirnya aku hanya diam.
Menatapnya terlalu lama.
Bahkan sampai aku sendiri sadar bahwa tatapanku mungkin sudah terlalu jelas. Tapi anehnya aku tidak bisa memalingkan pandangan. Seolah otakku mendadak kosong dan tubuhku lupa bagaimana caranya bertindak wajar. Aku hanya berdiri di sana, mendengarkan suaranya samar-samar, sambil merasa degup jantungku makin tidak karuan.
Dan ironisnya, di saat yang sama pikiranku sebenarnya sedang tidak utuh berada di situ.
Karena sejak pagi aku sedang berada dalam tekanan lain. Ada pengawasan dari orang-orang di atas. Ada perhatian yang membuat setiap gerak dan pekerjaanku terasa sedang dinilai. Aku tahu kinerjaku sedang menjadi sorotan, dan itu cukup membuat kepalaku penuh.
Jadi hari ini rasanya seperti hidup dengan dua perang sekaligus.
Satu perang di kepalaku sendiri tentang pekerjaan, tentang tekanan, tentang bagaimana harus tetap terlihat tenang ketika sebenarnya sedang cemas. Dan perang satunya lagi adalah tentang dia, tentang bagaimana seseorang bisa begitu dekat, tapi tetap terasa mustahil disentuh.
Aku jadi merasa pikiranku terbelah.
Setengah mencoba tetap profesional dan fokus pada semua tekanan yang ada. Setengah lagi sibuk menyadari setiap gerakan kecilnya di sekitarku. Dan aku membenci kenyataan bahwa di tengah semua masalah yang sedang kupikirkan, dia masih punya kemampuan untuk mengacaukan fokusku hanya dengan berdiri di dekatku.
Padahal tidak ada hal besar yang terjadi.
Tidak ada sentuhan. Tidak ada pengakuan. Tidak ada percakapan khusus.
Hanya keberadaannya saja.
Dan mungkin itu yang paling membuatku bingung sampai sekarang. Bagaimana seseorang bisa punya pengaruh sebesar itu dalam hariku, padahal hubungan kami bahkan belum pernah benar-benar dimulai.
Selasa ini seharusnya membahagiakan.
Tapi akhirnya hanya menjadi hari lain yang penuh tatapan panjang, kegugupan, dan kata-kata yang gagal keluar dari mulut kami masing-masing.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!