Skip to main content

She Felt First, He Fell Harder


Hari Sabtu selalu terasa sedikit berbeda.

Bukan karena ada sesuatu yang istimewa terjadi, melainkan karena aku sadar bahwa setelah hari ini akan datang hari Minggu. Sebuah hari yang, bagi kebanyakan orang, mungkin terasa santai dan menyenangkan. Tapi entah sejak kapan, hari Minggu justru menjadi semacam jeda yang terlalu panjang bagiku.

Karena itu, sejak pagi tadi aku sudah memikirkan satu hal yang sama.

Apakah hari ini kita akan bertemu?

Pertanyaan sederhana, tetapi ternyata mampu mengisi begitu banyak ruang dalam pikiranku.

Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi jika benar-benar bertemu. Tidak ada jaminan akan ada percakapan. Tidak ada kepastian akan ada momen besar yang layak dikenang. Bisa jadi kami hanya berada di ruangan yang sama, menjalani aktivitas masing-masing, lalu pulang tanpa sepatah kata pun.

Seperti biasanya.

Tapi tetap saja, ada bagian dalam diriku yang berharap.

Berharap bisa melihatnya meski hanya sebentar. Berharap bisa menemukan satu atau dua momen kecil yang nanti bisa kusimpan diam-diam dalam ingatan.

Karena setelah ini ada dua hari yang panjang.

Dua hari tanpa kemungkinan berpapasan.

Dua hari tanpa kesempatan melihat apakah dia datang lebih awal atau terlambat. Dua hari tanpa kesempatan menangkap senyum yang kadang muncul begitu saja lalu menghilang sebelum sempat kupahami maknanya.

Dan anehnya, aku mulai menyadari bahwa selama ini aku memang hidup dari hal-hal kecil semacam itu.

Aku mengumpulkannya seperti seseorang yang menyimpan persediaan sebelum musim panjang datang.

Tatapan singkat.

Senyum yang mungkin bukan untukku.

Gerakan kecil yang mungkin hanya kebetulan.

Atau kehadirannya di sudut ruangan yang entah kenapa selalu berhasil membuat hariku sedikit lebih ringan.

Lalu semua itu kubawa pulang.

Kusimpan rapi dalam ingatan.

Kugunakan untuk melewati hari-hari ketika kami tidak bertemu.

Sedikit hiperbola memang.

Aku tahu itu.

Kalau diceritakan kepada orang lain, mungkin mereka akan tertawa dan mengatakan bahwa aku terlalu berlebihan. Bahwa ini hanya seseorang yang kusukai, bukan seseorang yang benar-benar hadir dalam hidupku.

Dan mungkin mereka benar.

Tapi perasaan memang tidak selalu tunduk pada logika.

Karena kenyataannya, jika hari ini aku tidak bertemu dengannya, kemungkinan besar aku akan kembali mengulang-ngulang kenangan lama. Mengingat momen-momen kecil yang sebenarnya biasa saja, lalu memberinya makna lebih besar daripada yang seharusnya.

Aku akan mengingat bagaimana dia pernah tiba-tiba muncul di dekatku.

Bagaimana dia terlihat kikuk.

Bagaimana aku juga sama kikuknya.

Bagaimana kami berdua seolah terjebak dalam permainan yang tidak pernah benar-benar dimulai.

Lalu aku akan memutar ulang semuanya seperti film lama yang sudah kuhafal dialognya.

Dan mungkin itu sebabnya aku berharap hari ini ada pertemuan.

Bukan untuk mendapatkan kepastian.

Aku bahkan sudah tidak berani berharap sejauh itu.

Aku hanya ingin memiliki sesuatu yang baru untuk dibawa sampai Senin nanti.

Sebuah adegan kecil.

Sebuah senyum.

Sebuah kebetulan yang bisa kutafsirkan sesukaku selama dua hari ke depan.

Kadang aku juga tertawa pada diriku sendiri. Betapa mudahnya suasana hatiku dipengaruhi oleh seseorang yang bahkan belum pernah benar-benar masuk ke dalam hidupku.

Lalu aku teringat kalimat yang sering berseliweran di media sosial:

"She felt first, he fell harder."

Entah benar atau tidak.

Entah itu berlaku pada kisah kami atau hanya cocok untuk cerita orang lain.

Karena sejauh ini aku bahkan belum yakin apakah dia benar-benar jatuh, atau hanya lewat sebentar lalu tanpa sadar meninggalkan jejak yang terlalu dalam.

Yang jelas, aku tahu satu hal.

Aku mungkin orang yang lebih dulu merasakan semuanya.

Lebih dulu sadar.

Lebih dulu menunggu.

Lebih dulu mengumpulkan kenangan-kenangan kecil yang bahkan mungkin tidak dianggap penting oleh siapa pun selain diriku sendiri.

Dan sekarang, di hari Sabtu yang terasa terlalu singkat ini, aku hanya berharap semesta cukup baik untuk mempertemukan kami sekali lagi.

Agar aku punya sesuatu untuk kusimpan.

Sesuatu yang bisa menemaniku melewati sunyinya hari Minggu, sebelum akhirnya kembali berharap pada datangnya hari Senin.

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Kemarin Twitter heboh banget dengan terbongkarnya pemilk akun @poconggg. Siapa sih yang gak kenal poconggg, dia adalah hantu yang tidak biasa, hantu yang seharusnya bertugas menghantui orang, menakut-nakutin orang, ternyata malah paling sering dipermainkan orang. Followernya mencapai ribuan, padahal tidak following siapa pun. Beberapa kali berhasil bikin TT di twitter karena ulanhnya, dan masih banyak lagi.  Malang bener nasib dia. Meski nasibnya sesial itu, sekarang ini dia malah lebih sial lagi karena akun Twitternya terbongkar. Iya, kemaren ada orang yang sakit hati ama @poconggg dan ngebongkar siapa dia sebenarnya. Dulu sih memang pengen tahu yang sebenarnya, siapakah pemilik akun @poconggg. Melihat tweetnya yang lucu-lucu dan menggemaskan, banyak yang ngira kalo pemiliknya adalah penulis buku, Raditya Dika. Tapi secara tegas dia ngebantah, kalo dia adalah pemilik akun @poconggg. Tapi semalem, nggak tau gimana mulainya, ada akun yang ngebongkar siapa @poconggg sebe...

Dear Someone: Surat Cinta Rahasiaku. Buat Kamu. Dari Aku.

Lagi-lagi aku harus mengakui, bahwa aku termasuk dari golongan yang selalu telat dalam mengetahui segala sesuatu. Entah itu memang bagian hidupku yang kurang perhatian dengan apa yang terjadi di sekitarku, atau ini karena memang tidak ngerti apa-apa sampai ada orang yang mau memberitahuku. *sigh Seperti hari ini, ternyata aku juga ketinggalan kabar gembira lagi. Seharusnya beberapa hari ini (kalo tidak beberapa minggu ini) seharusnya aku sudah mengetahuinya, jadi bisa merasakan gimana gembiranya mendengar kabar gembira sehingga aku bisa langsung berbagi cerita dengan mengabarkannya disini, di blogku yang paling aku cintai ini Tapi lagi-lagi aku telat tahunya. *sigh Tampilan inilah yang membuatku ingat 'sesuatu.' Adalah hari ini, secara sengaja aku membuka sebuah laman web nulisbuku.com sekedar melihat-lihat buku baru apa saja yang bulan ini telah diterbitkan. Sekedar jalan-jalan iseng yang biasanya memang sering aku lakukan ketika tidak tahu harus ngapain lagi ...

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...