Lucu sekali rasanya ketika aku sadar bahwa aku ternyata terlambat membuat skenario.
Baru saja beberapa waktu lalu aku sibuk menertawakan diriku sendiri karena mulai membayangkan menghadirkan “orang ketiga” dalam kisah absurd ini, berharap ada sedikit kekacauan yang bisa memancing kejelasan dari hubungan kami yang menggantung, ternyata tanpa kusadari dia lebih dulu melakukannya.
Dan ketika menyadari itu, aku malah ingin tertawa lagi.
Karena ternyata kami sama-sama aneh.
Belakangan aku mulai memperhatikan bagaimana dia beberapa kali terlihat lebih dekat dengan orang lain. Bukan sesuatu yang terlalu mencolok memang. Bahkan kalau orang lain melihatnya, mungkin semuanya tampak biasa saja. Tapi entah kenapa aku bisa merasakan ada sedikit “usaha” di sana. Seolah dia ingin sesuatu terlihat olehku.
Mungkin dia berpikir aku akan terpengaruh.
Mungkin dia berharap aku akan berubah sikap. Menjadi lebih berani. Atau mungkin malah cemburu.
Tapi anehnya, aku tidak merasakan apa-apa terhadap orang itu.
Fokusku tetap hanya padanya.
Aku sudah terlalu lelah memperhatikan orang-orang yang tidak masuk dalam radarku. Dan sejauh apa pun aku mencoba menyangkalnya, kenyataannya mataku tetap kembali mencarinya. Bukan yang lain.
Makanya ketika dia mencoba memainkan skenario kecil itu, aku justru merasa semakin yakin bahwa dia masih memerhatikanku juga.
Karena kalau memang tidak peduli, kenapa harus repot-repot membuat sesuatu terlihat?
Aku masih melihat caranya mencari perhatian. Masih melihat bagaimana dia beberapa kali mencoba berada di dekatku. Kadang dengan alasan yang terlalu tipis untuk disebut kebetulan. Kadang dengan tingkah yang terlalu kentara untuk ukuran seseorang yang katanya biasa saja.
Tapi ya itu… dia tetap tidak pernah benar-benar memulai.
Seolah pendiamku membuatnya ragu melangkah lebih jauh.
Dan aku tidak bisa menyalahkannya juga.
Karena aku sendiri sama buruknya.
Aku masih sering mencari-cari kesempatan untuk melihat keberadaannya. Kadang pura-pura sibuk padahal diam-diam memastikan dia ada di mana. Kadang sengaja memilih posisi yang masih memungkinkan dia masuk dalam sudut pandangku.
Meski lucunya, sampai sekarang aku masih belum benar-benar berani menatap wajahnya secara utuh.
Aku masih lebih sering melihat dari samping. Dari pantulan gerakan kecil. Dari bahunya. Dari cara dia berdiri. Seolah mataku terlalu pengecut untuk benar-benar berhadapan langsung dengan semua kemungkinan yang ada di matanya.
Tapi aku juga tidak ingin terlalu jauh darinya.
Itu yang membuat semuanya terasa membingungkan.
Aku ingin dekat, tapi takut terlihat terlalu ingin. Aku ingin menjauh, tapi diam-diam masih mencari keberadaannya. Dan di tengah semua itu, kami seperti dua orang yang terus memainkan permainan aneh tanpa aturan yang jelas.
Kadang aku merasa kepalaku terlalu penuh dengan skenario.
Saat sendirian, aku bisa membuat puluhan kemungkinan. Membayangkan percakapan yang akan terjadi. Membayangkan bagaimana aku akan bersikap jika dia mendekat. Membayangkan diriku lebih tenang, lebih santai, lebih berani.
Tapi begitu berada dalam radius terdekatnya, semuanya hancur begitu saja.
Aku kembali membeku.
Semua naskah yang kususun rapi di kepala mendadak tidak berguna. Karena kenyataannya selalu berbeda dari skenario yang kubuat sendiri. Ada terlalu banyak faktor yang berubah ketika kami benar-benar berada di tempat yang sama.
Suasana. Tatapannya. Jarak kami. Degup jantungku yang tiba-tiba terlalu keras.
Dan yang paling mengacaukan semuanya adalah kenyataan bahwa dia juga seperti sedang memainkan peran yang sama bingungnya denganku.
Makanya kisah ini tidak pernah benar-benar bergerak maju.
Karena kami sama-sama hidup di kepala masing-masing. Sama-sama sibuk membuat kemungkinan. Sama-sama berharap tanpa keberanian untuk memastikan.
Dan mungkin itu sebabnya hubungan ini terasa begitu melelahkan sekaligus candu.
Karena setiap hari selalu ada cerita baru, skenario baru, kemungkinan baru, meski pada akhirnya kami tetap kembali menjadi dua orang yang hanya saling mencari lewat tatapan-tatapan singkat yang tak pernah selesai diterjemahkan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!